Semilir angin sore hari memang selalu menjadi yang terbaik. Ditambah lembayung senja yang nampak jelas terlihat dari padang rumput diatas bukit Larest.
Tidak sepi. Bukit itu kini sudah menjadi tempat favorit masyarakat untuk melepas penat setelah bekerja seharian.
Pemandangan langit sore, matahari yang terlihat malu-malu, membiarkan rambut atau pakaian mereka dibelai angin dengan lembut. Namun, semua keindahan itu hanya nampak dari depan, karena di kanan dan kirinya adalah hutan dengan pohon-pohon menjulang tinggi yang memang tak kalah cantik nan aesthetic, namun terkesan sunyi, terlebih jika malam datang. Hutan itu seakan mati, sangat gelap.
Entah bagaimana, namun semua orang percaya dengan mitos kalau makhluk mengerikan masih hidup jauh di dalam sana. Bahkan hutan itu sudah diberi pagar pembatas, agar tidak sembarangan orang masuk dan membahayakan nyawa mereka sendiri. Kendati begitu, mereka tetap santai dan melakukan aktivitas disana. Melupakan mitos yang bertebaran. Entah itu hanya menatap langit seorang diri, mengobrol, piknik keluarga, jogging sore, atau bahkan membawa pekerjaannya kemari pula.
Tidak jauh berbeda dengan satu keluarga kecil yang nampak bahagia di dekat bebatuan yang memang nyaman digunakan untuk duduk bersantai. Sang ayah dan ibu hanya duduk dan mengobrol serta sesekali memerhatikan anak kembarnya yang berlarian kesana kemari seolah tidak mengenal lelah.
Dua gadis serupa itu terus berlarian hingga ke pagar pembatas. Namun tentu saja mereka tidak tahu apapun tentang hutan itu. Dan tidak pernah menduga hal apa yang akan terjadi.
Apalagi saat samar-samar terdengar suara yang seakan memanggil nama mereka.
Lantas melirik kedua orang tuanya yang masih asyik mengobrol sudah membuktikan kalau itu bukan suara mereka.
"Ashury..."
"Ashirey.."
Bocah yang terlihat lebih pendek dan bulat menatap saudarinya bingung, "Rey kamu denger gak?"
Bocah dengan rambut dikepang menggeleng takut. Ia berbohong. Jelas dirinya mendengar suara itu, tapi ia terlalu takut.
"Masa sih? Ada kok aku denger kok"
Gadis kecil dengan kepang kembali menggeleng kuat. Tidak berani bicara. Ia akan selalu ingat pesan ibunya, bahwa jangan menghiraukan panggilan orang tidak dikenal, karena itu bisa saja membahayakan dirimu. Oh tentu saja ia akan selalu ingat dan menurut.
"Tuh! Kamu beneran ga denger?" Gadis bulat itu menunjuk kedalam hutan lalu menarik tangan saudarinya dan berjalan lebih dekat kearah pagar pembatas, namun tiba-tiba terhenti saat yang ia tarik memaksa untuk berhenti. "Gak boleh Ry" Cicitnya guna menghentikan sang adik.
Gadis bulat dengan keberanian dan rasa penasaran lebih tinggi dibanding saudarinya itu hanya tersenyum dan menggeleng tegas, "Iihhh tapi aku penasaran"
Ashirey masih diam di tempat, tidak berani bergerak sedikitpun dari tempatnya. Menatap saudarinya memohon agar tidak perlu membereskan rasa penasarannya.
"Ayo!"
"Tapikan kata mama kita gak boleh kesana"
Ashury tertawa tidak percaya dengan apa yang dikatakan saudari kembarnya."Gak papa mama kan gak tau"
"Gak mau ah Ry, aku takut" Ashirey benar-benar ngeri melihat pohon-pohon menjulang tinggi dengan suasana sunyi yang sebentar lagi akan gelap. Ia tidak mau harus tersesat didalam sana dengan saudari sok beraninya ini. Yang paling utama, ia benar-benar takut.
YOU ARE READING
Obscuratus
FantasySaat bulan bertemu dengan matahari, segala hal bisa terjadi. Termasuk saat aku tidak bisa mengenali diriku sendiri.
