Tradisi khas kenaikan kelas. Para wali murid berdatangan dari arah pintu gerbang sekolah. Wajah mereka terlihat---kurang kalem. Tergesa dengan pakaian resmi ber jas juga berdasi maupun ibu-ibu dengan segala perintilannya melekat pada tubuh.
Aku menatap langit biru dengan awan berarak, perlahan maju menjadi satu gumpalan yang utuh. Bentuknya berbeda-beda namun terlihat artistik. Sambil berpikir, alasan apa yang akan aku berikan pada Bu Tuti. Wali kelasku.
Dari sekian banyak alibi yang ku katakan pada wali kelasku, semua mendapat penolakkan. Dimulai dari tahun pertama saat aku masuk sekolah ini. Dan mungkin hari ini pun akan seperti biasanya, berjalan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
"Syifa!" Aku meremas ujung jilbab putihku. Karena di sekolah kami di wajibkan memakai jilbab untuk siswi, aku yang tidak suka memakainya harus tetap mengenakannya---saat di sekolah saja---.
Mengapa namaku muncul teratas, padahal jika menurut pada huruf abjad... huruf "S" jauh dari urutan pertama.
"Ayo maju Syifa! Oh ya, beri tepuk tangan untuk teman kalian. Dia mendapat peringkat satu."
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan dengan lantai berubin putih itu. Aku maju dan menuruti perkataan Bu Tuti, berdiri di depan menunggu teman-teman ku yang menempati peringkat dua dan tiga di panggil.
Aneh, lazimnya pengumuman peringkat selalu dibuat sedemikian rupa menjadi drama yang akan mengejutkan semua orang. Terhitung dari peringkat tiga, dua, lalu satu. Tapi ini malah sebaliknya.
"Untuk orang tua Syifa, Nisya, dan Hafiz. Di persilakan mendampingi anak-anaknya di depan." Satu persatu Ibu dari kedua anak yang berdiri di samping kiriku ikut serta di samping mereka.
"Syifa, dimana orangtua kamu?"
"I..i..tu...,"
"Apa? Ayah dan Ibu kamu tidak datang?"
"Ayah sama Ibu saya...,"
"Jawab, Syifa!"
"Ayah...
...Bunda...,"
Ayah...Bunda...,
Syifa peringkat satu,
Ayah! Bunda!
Mimpi itu lagi. Aku melirik jam yang menggantung di dinding bercat putih ruangan ini.
02.45
Sekarang aku ada dimana?
Ku lihat seorang pria sedang bersujud di atas sajadah, dahiku terlipat. Siapa dia? Kepalaku sangat berat dan terasa sakit.
"Kenapa kamu bangun? Apa tidurmu terganggu karena aku terlalu berisik?" pria itu duduk di tepi ranjang setelah merapikan alat shalatnya.
"Anda siapa?" tanyaku lirih.
"Kamu tidur lagi aja ya, nanti kalau sudah adzan shubuh....Aku bangunkan."
"Anda siapa?" ulangiku lebih pelan, aku merasa takut kalau lelaki ini berniat jahat padaku.
"Jangan mendekat!" reflek tubuhku mundur saat ia mengikis jarak di antara kami.
YOU ARE READING
Innerchild | Tentang Mengikhlaskan & Memaafkan
Science FictionTidak ada adakah obat selain mengikhlaskan dan memaafkan? ____ ⚠️Update Setiap Hari⚠️
