Prolog

1.1K 493 1
                                        

Seorang perempuan bernama Kayra Adnan sedang memperhatikan satu sosok yang sedang tertawa di salah satu meja kantin. Paras yang tampan, senyum yang manis dan sifat yang ramah. Terasa sangat susah digapai.

Sosok itu bernama Rafa Anggara.

Kayra menyukai Rafa dari pertama kali dia memasuki SMA ini. Dan Kayra hanya berani menyukai dalam diam.

"Lo liatin mulu juga, dia gabakal suka sama lo, Kay!"

Kayra menoleh malas mendengar cibiran Salisa, sahabatnya. "Emang gabakal suka, dia aja gakenal gue."

"Makanya lo kenalan."

"Ngapain? gue kan udah kenal dia. bisa liat dia dari jauh aja udah cukup ko."

Salisa menghela nafas berat. Entah sudah berapa ribu kali dia mendengar kalimat ini.

"Mau sampe kapan Kay? dia punya cewe nanti lo nyesel."

Kayra tertawa kecil, namun bukan sebuah tawa bahagia.

"Ya gapapa. lagian gue ga pantes buat dia, Sa."

"Apa yang bikin lo mikir kaya gitu sih kay? lo cantik, pinter, baik. Siapapun yang jadi pasangan lo pasti beruntung banget!"

Kayra terkekeh mendengarnya.

"Masih banyak yang lebih cantik, pinter dari pada gue Sa, dan gue ga baik baik banget juga."

Salisa pun hanya bisa menghela napas lebih panjang, Menatap sahabatnya sembari geleng-geleng. "Insecure lo kayanya udah ga wajar Kay. Gue saranin ke dokter."

"Emang bisa, Sa?"

"Bisa, bisa gila." Jawab Salisa dengan tawa.

Kayra tersenyum kecut mendengar jawaban Salisa yang menyebalkan. Kayra kembali menatap sosok tersebut. Cowo tersebut masih mengobrol dengan teman-temannya. Terlihat sangat seru.

"Sa," panggil kayra pelan.

"Apa?"

"Gimana ya rasanya bisa ngobrol sama ka Rafa?" Tanya Kayra.

"Biasa aja, terakhir gue ngobrol sama ka Rafa kayanya 3 hari yang lalu."

"Beneran biasa? Kalau duduk di sebelah ka Rafa sambil ngobrol, rasanya masih biasa aja nggak?"

"Biasa aja."

Kayra menatap Salisa heran, "Ko bisa biasa aja sih?"

"Karena gue gasuka."

Kayra mengangguk-angguk, membenarkan jawaban Salisa. Detik berikutnya, kayra kembali memperhatikan sosok tersebut sekali lagi.

"Gue bisa nggak ya, Sa?"

"Bisa apa?"

"Ngobrol sama ka Rafa, terus duduk di sebelahnya."

"Gabisa!"

"Kenapa?"

"Lo pas-pasan sama ka Rafa aja menghindar atau ga kabur, gimana ngobrol sama dia?"

Senyum getir mengembang di bibir Kayra, "bener juga" ucapnya.






You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 02, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PYLOVEWhere stories live. Discover now