Kai melangkahkan kakinya memasuki sebuah cafe yang tampak senggang. Menghampiri sebuah meja untuk mengatakan pesanannya. Secangkir cappucino. Aroma kopi yang sedang di racik juga roti menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.
Mata Kai menelisik --mencari keberadaan seseorang. Dan gotcha--ketemu- seorang laki-laki yang tengah duduk nyaman disamping jendela.
Langkah kaki Kai pelan menghampirinya “Sudah menunggu lama?”. Kai menarik kursi dan duduk tepat dihadapannya. Atau kita bisa menyebutnya Choi Soobin.
Pacar Huening Kai.
Soobin menatap Huening Kai lamat. Lalu menggeleng pelan. “Aku baru saja sampai.”. Soobin kembali meminum caramel machiato-nya dengan tenang. Walau sebenarnya tatapan matanya tak lepas untuk mengamati Kai. Sedangkan Kai? Dirinya lebih suka menatap jam dinding di seberang meja. Keheningan di antar mereka terjadi untuk waktu yang lama sampai--
“Pesananmu, Tuan” Seorang pelayan meletakan secangkir cappucino hangat di depan Kai.
“Ah, terima kasih.” Kai mengangguk pelan dan setelahnya pelayan itu melenggang pergi meninggalkan Kai bersama Soobin.
Soobin menghela nafas pelan. “Tumben sekali mengajakku datang ke cafe. Aku bisa datang ke apartemen- mu kapan saja Kai. Ada yang ingin kamu bicarakan?”
“Iya.” Kai menyesap kopi nya. “Ayo kita akhiri hubungan ini, Kak.” . Kali ini Kai menatap Soobin dengan tatapan kosong.
“Kakak tidak perlu menghubungiku lagi dan jangan datang ke apartemen-ku.” Kai mencengkram cangkir kopinya dengan kuat. Hingga buku-buku jarinya memutih.
“Tapi kenapa? Kita baik-baik saja. Apa kamu marah dengan ku?”. Tangan Soobin perlahan menggenggam jemari Kai. Mencoba mencari alasan kenapa Kai memutuskan hubungan mereka.
“Aku tidak marah dengan Kakak. Hanya saja karena----”
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara denting pelan terdengar saat Kai meletakan tangan nya di sensor sidik jari. Tangan kanannya berahlih memenggang kenop pintu dan membukanya. Kai melangkahkan kaki nya dengan berat memasuki apartemen miliknya. Menutup pintunya dengan pelan lalu setelahnya melepaskan sepatu dan meletakannya dengan asal.
Kai melihat sebingkai foto dirinya dengan Soobin saat liburan di pantai tahun lalu. Waktu itu mereka terlihat bahagia. Kai merebahkan dirinya di atas sofa berwarna navy blue menatap dinding yang penuh dengan foto dirinya bersama Soobin.
Tangan Kai mengusak rambutnya dengan kasar. Ingatan nya melesat memikirkan kejadian tadi siang di cafe. Tentang dirinya yang memutuskan Soobin dengan mudah. Kalau dipikir-pikir laki-laki blasteran biasa seperti Kai mendapatkan laki-laki dengan gestur tinggi wajah yang tampan seperti Soobin.
Itu hal yang gak masuk akal.
Soobin sangat tinggi. 185 cm selisih 2 cm darinya.
Soobin sangat tampan.
Soobin sangat baik. Terlampau baik untuknya.
Dan juga Soobin sangat mencintainya lebih dari apapun.
Drrtttt--- Drrtttt--Drrtttt---
Kai mengambil hp-nya dengan kasar. “Kan aku sudah bilang, Kakak jangan menghubungiku lagi!!”.
‘Kai ayo kita bertemu. Aku sudah menunggumu di taman seperti biasa’
Kai mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku tidak ingin bertemu dengan Kakak. Kenapa Kakak tidak mengerti?”
‘Kamu yang tidak mengerti Kai. Kita baik-baik saja selama ini. Kenapa kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita? Aku sama sekali tidak--’
“Aku sudah menjelaskan semua tadi Kak!. Mulai sekarang jangan menghubungiku atau datang ke apartemenku lagi!!”. Sambungan telpon itu diputuskan secara sepihak oleh Kai. Dirinya sudah lelah. Teramat lelah. Kai melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang penuh dengan boneka. Yang Kai butuhkan sekarang hanyalah tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BRAKKK
BRAKKK
BRAKKK
Kai terbangun dari tidurnya setelah mendengarkan suara seseorang memukul pintu apartemennya dengan keras. Kai takut. Sungguh. Kai menutup kedua telinga dengan telapak tangan nya berharap suara itu segera hilang.
“Kai buka pintunya! Aku tahu kamu ada di dalam sana!”
“Kai, kumohon aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar!!”
“Ayolah buka pintunya sayang!!”
“Jawab aku!!”
“Buka pintunya!!”
Kai semakin menulikan pendengarannya. Kedua matanya ikut terpejam. Tubuhnya bergetar hebat.
Kumohon.
Hentikan.
Hentikan.
Setelahnya suara teriakan Soobin berhenti. Soobin pun telah berhenti memukul pintunya. Dengan pelan-- Kai keluar dari kamarnya menatap pintu berpoles cat putih dengan lamat. Ekor mata Kai kembali melihat dinding dengan bingkai kosong tanpa satupun foto di dalamnya. Lalu bergumam kecil.
“Kak Soobin ingin tahu alasan kenapa aku memutuskan hubungan kita bukan?”
“Itu karena---”
“Sejak awal aku kan tidak punya pacar.”
a/n :
Kritik ataupun saran aku terima :) Vote 5 orang lebih aku akan lanjut cerita oneshoot selanjutnya ( ╹▽╹ )
YOU ARE READING
Find Away
FanfictionEven the wind pauses waiting for you still. ff oneshoot ver -sookai fanfiction-
