-I-

33 1 7
                                        

"PERGI DARI RUMAH INI!" teriak ayah dengan kencang sehingga membuatku menangis dan semakin membencinya

Gubrak

Dengan keras ia mendobrak pintu "KAU PILIH AYAH ATAU MAMA MU?!" tanya ayah dengan suara melantang keras, aku hanya bisa diam dan menangis mengingat umur ku yang masih 12 thn dan tidak bisa melakukan apa-apa,hanya dendam dan dendam yang bisa ku lakukan disaat itu "JAWAB KEN!!" pekik nya membuatku tidak tahan "MAMA!!" dengan lantang aku menjawab dan menatap nya "ANGKAT KAKI KALIAN DARI SINI!" perintahnya sambil menunjuk ke arah jendela kamar ku "AAAAAAAAAAARRRRRGGGGHHHH!!!" Isami langsung memelukku "ayo nak kita beresin barang-barang kita lalu kita ke rumah nenek" pelukan dan usapannya membuatku sedikit tenang, dengan erat aku memeluknya dan menumpahkan semua air mataku "maaf nak mama ga bisa buat kamu bahagia" dia mengusap rambut ku dan mengecup kepala ku,aku tidak sanggup untuk berkata-kata, rasa sakit ini terlalu besar sehingga aku hanya bisa terdiam. "mama beresin barang-barang dulu ya nak" tanpa sadar, ibu meninggalkan ku sendirian di kamar. Disaat itu pula aku berhenti menangis. turun dari kasur ku dan melangkah ke meja belajar, melihat sebuah bingkai foto yang terlihat seperti keluarga yang tidak memiliki beban masalah,ku taruh di lantai dan menghancurkannya dengan sepenuh tenaga menggunakan kaki, alhasil kaki yang di gunakan untuk menghancurkannya mulai mengeluarkan darah, makin lama makin deras,dan akhirnya kucabut serpihan-serpihan kaca yang menempel di telapaknya. Aneh, aku tidak merasakan apa-apa. Setelah mencabut nya, tanpa merasakan kesakitan akupun berjalan menuju kamar mandi untuk membilas darah-darah yang masih mengalir, terlihat jelas jejak yg berlumuran darah di lantai "Ini darah siapa?" dia terlihat kebingungan sembari mencari siapa pemilik jejak tersebut "Apa yang kau lakukan ken?" pria itu menanyakan dengan nada sedikit tinggi "Urusai!" balasku dengan nada tinggi "OMAE!" dengan cepat tangan nya mencengkram leher ku "Sepertinya kau sudah bosan hidup Kentaro!" tangan ku berusaha melepaskan cengkaramannya, tetapi itu sia-sia, tenaga dia jauh lebih besar "LEPASIN GW BANGSAT!" nafas ku tersendat karena cengkramannya "Anak tak tau di untung!" dia melemparku keluar kamar mandi. Aku terlempar jauh dan kepalaku terhantam dinding dengan sangat keras "TEMEEEEE!!" merasa kesal aku pun langsung bangun dan lari ke arahnya, seperti singa yang akan menerkam mangsanya tangan ku pun melancarkan tinjuan ke wajah nya dengan sepenuh tenaga ku

GBUKK

Pukulan itu berhasil mengenai matanya"Ughhh!" dan dia langsung terjatuh, tak mau menyia-nyiakan kesempatan aku pun langsung menindih dan memukul wajah nya berkali-kali "SHIINEEE!!!" berkali-kali pukulan itu mengenai wajah nya "Ken, hetikan nak!" suara itu membuat ku langsung menghentikan serangan ku, tanganku sudah berlumuran darah, aku tidak tau itu datangnya dari wajahnya atau luka akibat memukul wajahnya "Hentikan nak" suara yang tadinya bernada keras berubah menjadi suara tangisan, mendengar suara itu, membuatku tidak tega membiarkan tangis nya menjadi-jadi, dengan berat hati aku berdiri dan mata ku masih tertuju ke arah target ku "Mama tidak memintamu untuk menjadi monster nak" tangan halusnya melingkari tubuhku. Air matanya mengalir deras di bahuku "Mama tau kamu kesal, tapi jangan seperti ini nak! dia ayahmu" kepalanya bersentuhan dengan pipiku dan membuatnya basah akibat tangisannya "Ayo kita pergi dari sini, ma" mata ku masih tertuju ke arahnya "Aku muak dengan si tua bangka ini" mendengar kata itu dia pun berdiri "OMAE!" dengan sigap ibu menahan badannya agar tidak melancarkan pukulan kepada ku "Sudah mas! Dia anak mu! Kalo kau memang marah sama ken...." tangan yg melingkari tubuhku tadi kini telah mendorongku ke belakangannya "PUKUL SAJA AKU
MAS!"  Dengan perasaan penuh emosi, Ryunoga langsung menghantam uluh hati Isami. Dia tidak menyangka bahwa ayahnya akan melakukan hal itu, seketika Isami tak sadarkan diri dan terjatuh. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil tongkat baseball ku yang tak jauh dari sana, dengan cepat aku berlari ke arahnya dan menghantam keras kepalanya yang membuat tengkoraknya retak sehingga tak sadarkan diri. Tidak memikirkan akibat, Pukulan keras itu selalu menghantam kepalanya hingga aku tersadar bahwa darah sudah mrngalir banyak di tubuh nya, seketika aku berhenti dan meredakan emosiku. dengan perasaan yang sedikit panik, aku membawa jasad nya ke belangakang rumah. Sesampai di belakang, aku mencari sekop dan memulai penggalian.

Setelah membuat lubang sekitar 3 meter, aku mengisinya dengan kayu yg tersedia di gudang. Setelah terisi 1,3 meter,kayu itu dibakar hingga api nya besar, lalu jasad tadi kumasukkan ke lubang itu, dan aku menambah kayu agar semua jasadnya terbakar habis. sembari memasukkan kayu, perempuan itu memanggil namaku, dengan perasaan panik, aku melempar smua kayu yg terlihat hingga memenuhi lubang itu.

"Keeen" suara itu terdengar di ruang dapur. "iyaa maaa" aku menghampirinya dengan tubuh yg lusuh. "Itu dekat kamar mandi kok ada darah?" Tanyanya sembari memegang perut nya, "Em-mmh....."
"Gw harus jawab apa" tanyaku dalam hati. Seketika kaki bekas luka nya terasa perih, reflek dia mengangkat kaki nya dan darah menetes sebab luka nya belum kering. "Astagaa nak, kaki mu kenapa?" dengan cepat ia memegang pergelangan kakiku dan melihat telapak kaki "Eng-Ngga apa-apa kok mah" dengan menahan rasa perih dan mata yg terpejam dia mulai menurunkan tubuh nya hingga terduduk agar tidak kehilangan keseimbangan "bentar yah" dengan cepat Isami mencari kotak P3K yang bersebelahan dengan kulkas, dengan sigap ia membuka dan mengambil alkohol 70% lalu mengoleskan nya dengan kapas "AWWWWWW!!" tidak kuasa menahan perih, tangannya mengahantam-hantam keramik hingga membekaskan luka.
"Sabar dikit lagi selesai" ucapnya agar bisa menahan perih lebih lama lagi, setelah dirasa cukup bersih, ia melekatkan perban.
"Kenapa bisa luka gini sih?" tanyanya sambil melingkarkan perban
"Keinjek kaca mah" jawab Ken dengan mata yg terpejam
"Kok bisa sih kamu nginjek kaca?" atanya Isami
Ken hanya mendesis.
"Lain kali hati-hati" ujar Isami sembari merekatkan perban dengan plester.
"Kamu dari mana tadi?" Dia mengalihkan posisi duduk nya ke samping ku.
Ken hanya bisa mendesis.
"Ayahmu mana?" Isami menatap wajah putra nya yg sedang menahan perih
"Ayolah ma,dia udah ga mau menginginkan kita" Jawabnya
"Yauda skrang juta ke rumah nenek ya" Aku mengangguk dan mama membantuku untuk berdiri, dia menggotongku hingga depan rumah. Tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam mobil dan menunggu mama yang memasukkan barang. Tak butuh waktu lama dia langsung berada di kursi pengemudi dan langsung meninggalkan rumah itu.









Dan disinilah awal dari kehancuran ku




Thanks ya, yang udah baca. Semoga cyka, eh maap. suka ama cerita gw, mungkin gw bakalan lama update ceritanya karna gw sibuk ngurusin skolah dan ngurus nilai buat masuk ke ptn,dan sebenarnya gw ga hobi nulis cuma gw gabut aja gitu awokawok jadi gw buat ini pas waktu luang bat. So gw mohon maaf banget kalo kalian nunggu buat kelanjutan cerita ini karna mungkin ini bakalan lama banget kelanjutan nya xD

Jan lupa vote banyak2 biar gw ada semangat buat ngelanjutin cerita yg ga terlalu penting amat di kehidupan kalian, anjay xD

Dah lah capek gw mikir buat nutup halaman ni XD

Sekian, and Thanks

See ya ✌🏻

LoserDonde viven las historias. Descúbrelo ahora