Ksatria Bagian I : Sudah

10 3 0
                                        

Mungkin, aku sudah mengaguminya terlalu lama.

Mungkin, memang ini saatnya untuk berhenti.

Mungkin, waktu mengistirahatkan diri sudah tiba.

Tepat tahun kedua aku mengagumi ia, aku ditampar kenyataan. Bahwa kesempatanku hanya sebatas mengagumi tanpa menyentuh hatinya sedikitpun. Jujur, aku menyesali mengapa tidak sedari dulu aku sadar?

Harusnya aku tahu. Pasal semesta menuntunku untuk menyembunyikan rasa ini, karena aku nantinya tidak akan dapat menggapainya. Namun aku buta akan petunjuk itu. Aku buta, berjalan terseok-seok menuju kehampaan yang jauh dan jurang yang dalam tanpa penghuni.

Saat aku terjatuh dahulu, pasti ia telah memiliki seseorang untuk dipikirkan.

Saat aku tengah terbuai, pasti ia telah memikirkan seseorang yang dikagumi.

Saat aku tersadar, pasti ia telah memiliki seseorang yang dicinta.

Aku terlalu bodoh untuk mengerti teka-teki yang dibuatnya.

Bukan aku yang ia tuju. Bukan aku yang ia tatap. Bahwa segalanya tentang aku dan dia kemarin, hanyalah halusinasiku. Bahwa ia bahkan tidak pernah perduli. Bahwa sebenarnya ia tidak ingin aku memiliki rasa padanya. Bahwa aku bukanlah apa-apa.

Semesta, bantu aku sadarkan diriku! Aku ingin mengalah pada rasa yang terlanjur kalah ini. Aku dipaksa mundur, sebelum dapat menyentuh garis mulai. Aku kacau, sebelum dapat menata bahagia. Aku patah, sebelum dapat merajut rasa.

Semesta, dengarlah keluhanku tentangnya sebelum aku akan menutup mulut untuk bicara tentangnya.

Semesta,

Aku ingin menjadi yang ditatapnya. Aku ingin ia mencuri kesempatan untuk bicara denganku. Aku ingin pesanku terbalas. Aku ingin dirindunya, sebagaimana aku selalu mengharapkan kehadirannya. Aku ingin dicintai juga. Aku tidak ingin ditinggal begini.

Aku tahu, tidak ada bagian dariku yang memenuhi spesifikasi idealnya. Namun aku mau egois! Aku lebih dulu tahu ia daripada gadis itu. Aku lebih dulu mengenalnya daripada gadis itu.

Akan tetapi, lagi-lagi, hanya itu yang aku punya. Sekedar tahu dan kenal tanpa memahami ia.

Aku ingin ia mencariku. Aku ingin ia tersenyum langsung padaku. Aku ingin duduk bersebelahan dengannya dan bercakap hal bodoh. Aku ingin diboncengnya lagi. Aku ingin ... dirinya.

Namun kini, aku ingin lupa akan bagaimana rasanya jatuh pada ia.

Selesai.

Semesta, tidak sedikit momen yang aku inginkan bersamanya. Ya, aku terlalu banyak membayangkan tanpa mengejar. Tapi aku terlalu malu untuk mengejar tanpa sadar akan kekuranganku.

Aku pengeluh, namun juga penyerah.

Aku tidak perduli akan jadi seberapa panjang catatan kali ini. Sebab aku ingin, setelah catatan ini selesai, aku tidak akan memikirkan sedikit hal tentang ia dan kemungkinan yang akan terjadi diantara aku dan ia.

Aku menyesal karena terlalu percaya diri. Kupikir, jika aku diam dan membiarkan rasa mengalir, takdir akan membawanya mendekat. Namun salah, semakin mengalir, ia semakin berlayar menjauh dan sampai di perlabuhannya kini.

Teruntuk kawanku, berhentilah membujukku untuk mempertahankan rasa ini. Aku tidak ingin lagi mengganggu hidupnya dengan kehadiranku. Sudah cukup aku menerornya. Aku janji, aku tidak akan berinteraksi lagi. Aku tidak akan menatap matanya ketika hadirnya sejengkal dari ragaku. Sebab sudah cukup aku dipermalukan.

Jujur, dahulu aku pernah mencoba.

Aku pernah mencoba menyapa, namun terabai. Aku pernah mencoba mendekat, namun menjauh. Aku pernah mencoba bercakap, namun terdiam. Aku pernah mencoba membisu, namun biasa saja.

Lantas, bukankah itu adalah tanda bahwa aku memang harus berhenti?

Astaga, aku tidak dapat berhenti memikirkan hal ini! Aku tidak tahu bagaimana caranya memulihkan rasa kehilangan tanpa ada pergantian. Dan kali ini, aku tidak ingin ganti. Aku ingin yang hilang, kembali. Meski tidak mungkin, Semesta, cobalah! Cobalah kembalikan ia entah dengan alur cerita apa.

Aku rela menjadi temannya bercerita tentang gadis itu.

Aku rela? Bagaimana bisa. Semesta, beri aku jawaban lain atas kehilangan ini. Ia pasti bahagia. Iya kan? Iya? Kalau ia tidak bahagia, biarkan aku memaksanya bersamaku. Biar aku buat ia bahagia seperti yang kawanku sering katakan padaku.

'Kalian pasti akan bahagia kalau bersama'.

What is Me?Where stories live. Discover now