#1: Kesalahan

4.2K 153 11
                                        

"Jangan mengaggap rendah terhadap orang yang berdosa, bisa jadi ia bertaubat disatu malam yang buta."

°°°

Dret!

Bunyi bel pulang sekolah. Siswa dan siswi berhamburan. Lalu lalang tak beraturan. Bahkan, ada yang masih di kantin jajan gorengan. Sampai-sampai ada sebagian orang yang ke masjid berlarian memperebutkan untuk mengumandangkan adzan. Konyol bukan? Ya, itulah kebiasaan siswa MAN 3 Pesayangan, yang berlomba-lomba dalam hal kebaikan.

"Allahuakbar ... Allahuakbar."

Adzan bersahutan menggema di pelosok kecamatan. Tak ketinggalan dengan suara yang menenangkan hati, pikiran begitupun dengan perasaan, yang di lantunkan dari sosok santriwan idaman. Lantunan adzan didendangkan, dibarengi dengan penghayatan yang signifikan, dan Masjid Usman bin Affan, menjadi saksi bisu disetiap keadaan yang dirasakan.

Bertakwalah kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Melaksanakan ibadah salat asar merupakan salah satu poin dalam menjalankan perintah-Nya. Amalan yang akan dihisab oleh Allah pertama kali itu adalah salat. Oleh sebab itu, perbaiki shalatmu. Maka, Allah akan memperbaiki hidupmu.

Setelah salat asar. Pikiran beberapa santri begitu ambyar. Mungkin, efek lapar. Apalagi, sampai sandal jepit nya tertukar, serasa hati tercakar-cakar. Harta yang paling berharga di diri seorang santri adalah sandal jepit, yang ketika ada yang nge-gosob rasanya itu sakit bin pahit.

"Ukhty Barbar!"

Keenan yang tadinya berlari kencang menuju gerbang asrama yang terbentang panjang. Tiba-tiba ada suara panggilan yang membuatnya berhenti sejenak. 'KEENANDYRA' ter-cap Ukhty Barbar oleh santri putra. Wajar, karena pakaianknya tidak seindah dengan akhlanya.

"Eh, lu mau kemana? Gue bilangin nih sama pengurus pondok," ketus Keenan ngegas. Seraya, menepak peci yang dikenakan santriwan tadi. Namanya 'DIANTARA' dari namanya saja sudah kagak jelas, santriwan yang paling nakal plus cengengesan. Keenan dengan sigap langsung menutup pintu gerbang rapat-rapat, tangannya yang begitu erat memegang jeruji besi yang berkarat.

"Buka! Gue mau pulang," solot Dian. Seraya, menghampiri gebang dan berusaha membukanya.

"Seenaknya! Lu udah izin belum sama pengurus? Kalau mau keluar tuh izin dulu, buat apa ada peraturan tapi tidak dijalankan!"

Matahari tersorot ke sudut gerbang yang sangat sepi. Tidak ada makhluk lain selain mereka berdua yang lagi debat dari tadi. Mungkin, ada makhluk halus yang menjadi orang ketiga di sebelah kiri. Tapi justru Dian memanfaatkan waktu sepi untuk keluar dari jeruji besi.

Dian langsung membuka sarung yang ngegantung di badannya yang tinggi, kayak jelangkung. membuangnya sarung itu seperti karung. Tapi, dia mengambil kembali sarung itu dan mengalungkannya ke Keenan yang terdiam seperti patung. Sikapnya yang konyol membuat Keenan tertawa tanpa nada dan bingung karena tingkahnya yang linglung.

"Mau apa lu?"

"Mau ngajak lu ke pelaminan," canda Dian. Seraya, menarik sarung yang masih terkalung dileher Keenan.

Mereka berdua tertawa penuh makna, terkadang bahagia itu tidak selamanya tercipta bersama orang yang kita cintai, namun makna bahagia itu tercipta ketika ada orang yang bisa membuat kita bersedih dan tertawa di satu waktu.

"Dian masuk! Keenan diam!" perintah kang Rizqy

'MUHAMMAD RIZQY HASBILLAH' itulah nama pengasuh pondok pesantren Miftahul Jannah, matanya tajam hingga tak jarang jika santri terdiam seribu bahasa, ketika dinasehati olehnya. Ya, dia ustadz muda yang menggantikan ayahnya.

"Dian masuk! Keenan diam!" ucap Keenan polos. Seraya, mengulangi ucapan kang Rizqy tadi.

Dian gak jadi pulang, sarung masih terkalung dileher Keenan yang begitu murung. Kang Rizqy menatap tajam kearahnya, seperti kucing yang akan memangsa makanan kesukaan. Ia tertunduk karena perbuatannya yang buruk dan itu semua membuatnya terpuruk hingga akhirnya dia terduduk.

"Maafin Keenan, kang," ucap Keenan seraya memegang bawahan jubah yang dipakai oleh kang Rizqy.

"Berdiri!"

Cadar yang dikenakan oleh perempuan yang tidak punya ilmu dan adab, tidak punya rasa sopan dan santun, tidak punya tatakrama yang baik, maka hakikatnya cadar itu ternodai oleh akhlak itu sendiri. Seperti Keenan yang berusaha menutup aurat dengan sempurna, tapi dirinya sering melakukan dosa.

Penampilan dan hati itu berbeda, mungkin saja dengan penampilan yang baik, itu akan memperbaiki hati yang memakainya. Keenan berdiri dengan mulut tak henti melontarkan kata maaf sama kang Rizqy, sebari tangannya yang memegang telinga kanan dan kiri.

"Bada shalat magrib, akang tunggu dirumah!"

Kebetulan rumah kang Rizqy itu dekat dengan asrama, jadi santri selalu diawasi, hingga santri harus hati-hati. Apalagi sampai ketahuan berduaan di tempat yang sepi, bisa-bisa hancur tuh diri. Keenan pergi ke suatu tempat yang dimana tempat itu menjadi perkumpulannya santriwati, dia melihat ada salah satu santriwati yang lagi qiroati dengan suara merdu yang menenangkan hati.

"Andai ... aku seperti dia," lirih Keenan, sebari menendang cangkang salak yang tergeletak.

Pluk!

Cangkang salak yang Keenan tendang barusan, mengenai Ustadzah yang lagi tadarusan. Kecerobohan yang menjadi kebiasaan, akhirnya berujung kekerasan, walaupun itu ketidaksengajaan, yang tidak patut untuk dicontohkan.

"Ups, Ustadzah Dini, Ya Allah ustadzah, ndak papa, kan?" Keenan menghampiri Ustadzah yang mukanya memerah, karena cangkang salak yang berusaha memanah.

'USTADZAH DINI' guru ngaji yang baik hati, suaranya yang begitu lembut menusuk hati, dan berharap berjodoh sama kang Rizqy yang sama-sama mengajar santri di bidang qiroati.

"Keenan, sini!"

"Allahu, apa gue mau dihukum saat ini?" Keenan bertanya-tanya dalam hati, sebari berjalan pelan menuju ustadzah Dini.

"Ada apa ya, Ustadzah?"

"Belum setoran qiroati, kan? Nah, itu hukumannya dari Ustadzah."

Peluh langsung membasahi Keenan, detak jantungnya tidak karuan, terdiam menandakan bahwa dirinya tidak mampu untuk melakukan. Bagaimana mau baca Al-Qur'an yang harus qiro'atkan sedangkan iqra pun ia masih terbata-bata saat dilantunkan.

Keenan menggeleng-gelengkan kepalanya tepat waktu, tanda ia tak mampu untuk melakukan itu, bukan karena ia tawadhu, tapi memang bukan ahlinya dalam bidang itu.

"Afwan, Ustadzah! Keenan belum bisa,"

"Tidak ada seseorang yang langsung bisa tanpa adanya usaha disertai dengan doa, besok ustadzah tunggu di aula!"

"Na'am Ustadzah, Keenan pamit mau mandi," ucapannya polos

"Lah? Belum mandi?"

"Hehe, belum Ustadzah."

"Buruan mandi! 1 ... 2--"

"Na-- Na'am, Ustadzah!" Potongnya sambil berlari melepaskan sandal yang ia pakai.

Terukir senja di sore yang buta, goresan tinta terukir penuh makna, suasana suram menyapa, kepada diri yang penuh dengan noda. Hari Kamis begitu bersejarah bagi Keenan, bukan kebahagiaan yang ia rasakan, tapi hukuman yang akan ia dapatkan.

°°°

Terimakasih telah membaca cerita Keenan sampai disini dan semoga bermanfaat

Silahkan yang belum memberi vote sebelumnya, vote dulu ya dan berikan kritikan dan sarannya yang sopan

Syukron

Ukhty BarbarWhere stories live. Discover now