001

154 11 16
                                        

01 | Prolog

»»__________...__________««

Cahaya mentari membuat bayang seorang gadis itu terlihat jelas,

Gadis yang sudah mengenakan seragam putih abu-abu itu sedang mendengarkan lagu sembari menunggu bus yang akan membawanya ke sekolah.

Tanpa pusing dengan sekitarnya bahkan sampai bus itu tiba dan membawanya sampai ke sekolahnya.

Setibanya di sekolah, gadis itu bersalaman dan tak lupa berhenti sebentar untuk di periksa oleh anak-anak osis,

"Bebas," ucap Sisil yang sedang memeriksa artibut apa saja yang tidak gadis itu kenakan,

Gadis itu menatapnya tanpa ekspresi, sampai ia berlalu menuju kelasnya yang berada di lantai 2.

"ALIAN" semar-semar terdengar suara yang memanggil nya, namun gadis itu melihat sekeliling...

Tak ada yang ia kenal atau menghampirinya, maka ia pun kembali melanjutkan langkahnya. Begitu ia sampai di anak tangga terakhir ia di kejutkan oleh kedatangan sahabat akrabnya, Devlin.

"Anjing!"

Sahabat nya tetap menatapnya tajam.

"Lu kenapa sii?? ngalangin jalan orang aja, awas! minggirr..." gadis itu tetap tak peka jika sahabatnya itu sedang marah karena dari awal masuk gerbang gadis itu menghiraukannya.

"Liaaaa!!" teriak Devlin tanpa malu, membuat siapapun melintas di dekatnya menatapnya heran, sementara gadis yang di teriaki namanya berhenti dan menatapnya risih.

"Mau lu apa sii? Pagi-pagi udah rusuh aja..."

"Lu sii, di panggil-panggil kaga ngaut-ngaut, tau ga kerongkongan gw udah mau keluar! tau?!" keluh Devlin,

Gadis tertawa, "lu buta? gw lagi pake apa in kuping? udah ah, basi tau marahnya lu itu... tar juga bawel lu ilang..."

Devlin berdecak kesal, "sial..."

"Apa lagi dev? Ayok! upacara bentar lagi!"

"bodo amat! peduli amat sama upacara, suara gw udah mau ngilang gegara lu, dahlan gw mau ke kelas,"

"lah, emang gw ngajakin lu ke kelas kali! di di dihh, kalo ga tau marah kaga usah sok sok an... jelek akting lu, paham?" ejek gadis itu,

"Serah lu Alian Renjana, serah lu... basi tau!"

"dih dih dih, itu kata-kata gw kali, dih udah pendek, ga jago akting, sukanya playgiat kata kata orang aja, dihh.." ejek gadis itu lagi, sampai mereka di depan kelaspun mereka tetap saling membalas ejekan itu.

Hingga hanya bunyi bel pertanda upacaralah yang membuat mereka tak saling membalas lagi, mereka pun keluar kelas dengan saling berdampingan, Devlin sibuk memasang dasi di krah bajunya dan Alian sibuk mengikat rambut nya agar topi upacaranya bisa di pasangkan tanpa membuat rambutnya berantakan...

Saat mereka ikut menyusuaikan barisan kelas mereka, Gadis yang biasanya berwajah datar tanpa ekspresi itu terlihat linglung mencari sesuatu.

Terdengar intruksi jika upacara itu segara di mulai, wajah gadis itu makin panik,

Ah! sial! dimana aku tinggalkan topi itu? tas?kelas? astaga, bisa bisanya aku melupakan hal itu... sialan! batin gadis itu dalam hati sembari mempertajam penglihatannya.

"Lia kenapa? topi lu mana? upacara udah dimulai.." tanya Devlin yang berdiri di sampingnya, di lihatnya gadis itu tetap tak menjawab pertanyaannya, Devlin pun kembali menanyakannya,

RUMIT(Aidn)Mga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon