1/1

112 4 0
                                        

mari kuperkenalkan kalian kepada adik kelasku, namanya arjuna.

dia lebih muda satu tahun, kelas sebelas. aku dekat dengannya mulai smp karena rumah kami berdekatan.

aku memanggilnya jun. hanya aku yang memanggilnya seperti itu. sedangkan dia memanggilku mbak, panggilan rumahku, hanya dia adik kelas yang memanggilku akrab seperti itu.

sedangkan adik kelas yang lain memanggil kakak, dianggap kurang ajar kalau memanggil mbak, sok dekat namanya. sifat senioritas berlaku disini.

dia adalah ketua osis di sekolahku, orangnya aktif berorganisasi, dan mempunyai jiwa pemimpin. dan dia juga dianugrahi wajah yang yaa.. lumayan.

dia juga berkharisma. setiap orang yang berpapasan dengannya pasti akan menoleh, melihat kearah dirinya. karena memang, jun memiliki pesona yang kuat.

padahal dulu, ketika aku baru pertama kali bertemu dengannya dalam acara syukuran pindah rumahnya, dia sangat pemalu. dia hanya duduk di taman sendirian sambil memegang minuman ditangannya.

waktu itu, aku sedang menggendong adik perempuannya yang masih balita, ibunya sedang sibuk menjamu tamu yang dibantu oleh ibuku. jadi aku disuruh mengasuhnya.

adiknya menangis karena terlalu ramai dan berisik, maka kubawa ia ke taman yang sepi, disanalah aku bertemu dengan jun.

ia terkejut melihatku yang menggendong adiknya, ia menawarkan diri untuk mengambil alih gendonganku, yang segera aku iyakan.

adiknya seketika langsung diam ketika ia digendong oleh jun, saat itu aku seketika tersenyum.

"kau mengenal kakakmu, ya?" ujarku sambil menatap adiknya yang sudah tenang.

jun hanya diam melihatku, aku menyadari itu. dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia seperti ragu untuk mengatakannya.

"nama adikmu siapa?" tanyaku akhirnya, sebagai pemecah kecanggugan.

"arina." jawabnya cepat.

"ah, namanya mirip denganmu."

"kau tahu namaku?"

"arjuna, kan? ibumu memberi tahu. kau juga akan menjadi adik kelasku mulai besok."

"ah, maaf. kakak kelasku rupanya." jun menjadi tidak enakan.

"mengapa? mukaku masih imut untuk menjadi kakak kelasmu, heh?" ujarku sambil tertawa kecil, sedangkan ia hanya tersenyum canggung.

"mbak!" ibunya jun datang menghampiri kami.

"kenapa, tante?"

"mbak makan dulu sana, ajak jun sekalian, biar tante urus ririn."

"oke tante. ayo, jun." 

mulai dari sanalah aku dekat dengan jun yang canggung, pendiam, dan pemalu.

saat itu aku masih kelas sembilan, jun kelas delapan. ia masih tidak terlalu tinggi, masih sepantaran denganku. dan kami belum sedekat sekarang.

kami menjadi sangat dekat saat ia masuk sma. ibunya sangat khawatir soal mos, karena memang setiap mos disekolahku, sering terjadi pertikaian sampai pembulian.

maka ibunya menitip jun padaku. aku tidak osis saat itu, tapi banyak temanku yang osis, jadi aku bilang ke temanku kalau jun adalah adikku, dan jangan terlalu keras padanya.

dan saat mos, aku melihat jun dengan kepala hampir botaknya, dengan aksesoris aneh melekat di tubuhnya. saat ia lewat di depanku, aku menyapanya, dibalas dengan senyuman canggung tak ketara.

kami kelas sebelas dan kelas dua belas memang belum belajar waktu itu, hari pertama sekolah. jadi adik kelas yang sedang mos menjadi tontonan.

"eh, yang namanya arjuna lumayan ya, ca." kata temanku.

10 years laterWhere stories live. Discover now