Summary:[Kau membawaku bertualang ke dalam hutan permai nan teduh, yang tak satu petapun tahu. Aku terlena hingga tak sadar bahwa kita telah lama tersesat didalamnya, saat kugunakan sebuah kompas bernama diam]
Aku tidak terlalu menginginkan apapun di dunia ini. Selalu merasa cukup. Karena permintaan lebih selalu meminta syarat pengorbanan yang lebih. Begitulah cara kerja dunia. Setidaknya kepercayaan itu menjadi perban tersendiri yang membalut sayatan di hatiku saat ayah dan ibu menjanjikan dongeng berjudul 'Liburan Bersama Keluarga' yang hanya ada di dalam buku cerita bergambar di perpustakaan kakek. Tidak dalam kehidupanku, karena akhirnya mereka lebih memilih keluarga baru. Aku pun memilih membeku bersama waktu dan kakek di dalam perpustakaannya. Berteman dengan buku-buku yang paling mengerti diriku dibanding siapapun. Itulah duniaku. Aku tidak akan mengeluh, karena aku tahu, anak-anak lain juga belum tentu berkecukupan sepertiku. Aku bahagia di dalam duniaku sendiri. Setidaknya itulah yang aku pikir.
Kemudian seseorang datang, lalu dengan seenaknya membuka balutan perban di hatiku, teduh matanya dengan ajaib menelusuk ke dalam, melihat apa yang ada di balik sayatan hatiku yang aku sendiri pun tak tahu. Aku seperti ditelanjangi. Belum habis pertanyaanku tentangnya terjawab, dia telah membawaku keluar dari perpustakaan kakek menuju tempat yang bahkan tidak diketahui buku-buku yang kuanggap paling mengerti segalanya. Kini kebahagianku dipindahkannya juga ke dalam kotak kecil berisikan beberapa surat dengan nama pengirim sama dan secarik kertas bertuliskan lagu yang diciptakan oleh orang itu. Lagu yang selalu menumbuhkan banyak tanya kembali tentangnya.
"Dear...."
Judul lagu itu kubaca, kemudian kusenandungkan bait awalnya yang selalu mengembalikanku pada masa di mana aku dan orang itu memulai segalanya...
[Pertemuan kita adalah sesaknya gerbong kereta di senin pagi
Atau suasana perpustakaan yang dimeriahkan oleh sepi]
Benar. Pertemuan yang terlalu biasa untuk menjadi kenangan. Aku yakin kami berdua yang berada di sekolah dan kelas yang sama dari awal, sama sekali tidak mengingat kapan pertama kali kita bertemu serta berpapasan. Tapi aku selalu mengingat dengan jelas senja itu selayaknya baru terjadi kemarin.
"Hei, Fujiyama-san..."
"Hm?"
Pertama kali aku berdua saja dengan orang itu di kelas, saat pulang sekolah yang kita janjikan untuk mengerjakan tugas kelompok bersama. Saat itu aku hanya memberikan respon acuh tak acuh karena memilih untuk fokus mengerjakan tugas bagianku dengan cepat.
"Fujiyama-san?"
Tapi orang itu masih memanggil namaku, hingga kali keempat akhirnya aku menyerah untuk mengabaikan dia yang duduk berseberangan denganku sambil memainkan pulpen miliknya hingga menimbulkan suara berisik.
"Kalau ada hal penting yang ingin disampaikan, langsung saja ke intinya," ujarku menahan geram, masih dengan pandangan yang tertuju pada buku. Aku yang memang tidak suka diganggu saat sedang fokus, sedikit kesal mengetahui bahwa dia serta dua orang lainnya, belum sama sekali menyentuh tugas bagian mereka.
"Fujiyama-san tidak ikut ke toilet bersama dua sahabatmu yang lain? Bukankah kalian selalu bersama saat jam istirahat?"
Jemariku yang sedang asyik menulis terhenti beberapa detik untuk mencerna pertanyaannya. Sungguh, aku tak mengerti, dari semua hal yang kuduga akan keluar darinya, aku benar-benar tidak mengerti kenapa pertanyaan yang tidak penting sama sekali seperti itu yang keluar.
"Bukankah hal penting dalam pertemanan salah satunya adalah ke toilet bersama? Tapi mereka malah meninggalkanmu, apakah kalian sedang bertengkar?" tambah orang itu dengan nada yang terdengar khawatir.
YOU ARE READING
Happiness Labyrinth
RandomKau membawaku bertualang ke dalam hutan permai nan teduh, yang tak satu peta pun tahu. Aku terlena hingga tak sadar bahwa kita telah lama tersesat di dalamnya, saat kugunakan sebuah kompas bernama diam.
