Senja sore hari ini bewarna kuning kemerah - merahan. Membingkai angkasa luas ditemani matahari yang hampir menyatakan selamat tinggal di ujung barat. Sesekali burung - burung berkeliaran di atas sana, di bawah gumpalan awan - awan dengan bentuk beraneka rupa, para burung itu sibuk sekali tetlihat seperti sedang mencari tempat berpulang. Mereka Ada yang sendiri , dan ada yang berteman. Tidak ada yang berbeda dengan Senja sore hari ini tetap seperti senja sebelumnya, menarik dan mengagumkan. Melihat pemandangan ini, ingin rasa aku membungkus dan menyimpan rapi di box kue kiriman ibu dua minggu lalu. Barangkali ini adalah hari terakhirku memandang puas pada senja itu.
" Eh Bit lo dicari pak kono tuh. Disuruh datang ke ruangannya " Nika menunjuk ke arah sebuah ruangan. Barangkali abit lupa letak ruang latihan mereka selama dua bulan ini.
" Oh gitu okedeh ka, makasih ya udah ngasih tahu . " Aku memberikan senyum pada Nita. Satu - satunya teman selama aku ada disini. Tidak banyak yang kutahu tentangnya, kecuali tentang dirinya yang merupakan anak seorang pengusaha properti dan termasuk jajaran orang terpandang di nusantara.
" Iya santai aja kali bit. Gue diluan ya , lagi ditungguin iman nih. Lo temuin tuh si Kono. "
Aku menganggukan kepala dan tak lupa memberi senyum tanda mengerti yang dibalas jempol oleh nika. Ia terburu buru sekali menemui iman, pacarnya. Terlihat dari langkah lebar yang diambilnya.
Kualihkan tatapanku dari nika. Aku harus menemui pak Kono. Sedikit meringis mengingat semalam pertemuan terakhir kami yang jauh dari kata baik. Tidak kupunkiri jantungku bekerja secara maksimal. Debaran yang dihasilkannya juga tak tanggung - tanggung. Ini bukan efek yang sama seperti seorang ramaja pertama kali bertemu kekasihnya. Tetapi lebih mengarah pada ketidak tenangan berjumpa guru mate-matika senior yang selalu membawa tongkat kayu andalannya dan kacamata bulat tebal menghias wajah yang tidak bisa dikatakan ramah.
Tapi ini adalah pilihanku. Usaha yang mati - matian kuperjuangkan . Demi sehelai tiket tanda diizinkan melanjutkan ketahap selanjutnya. Berusaha mempertahankan keyakinan publik yang bahkan tidak kukenali wajahnya dan konon katanya lebih kejam daripada netizen media sosial kini. Jangan lupakan beberapa manusia yang dipanggil juri sibuk mengoreksi kesalahan - kesalahan setelah menunjukkan penampilan yang berhari hari, bermalam - malam dipersiapkan demi waktu yang tidak lebih dari empat menit. Jangan lupakan pelatih di balik pentas yang tidak akan berpikir dua kali membentak dan menghadiahkan kata - kata busuk menyakiti hati bila usaha belum mencapai target maksimum. Jangan lupakan teman yang tidak akan pernah jadi teman uang merasa bersikap wajar tanpa sadar bersikap layaknya garam di atas luka sayatan. Tak terdefinisikan.
Tapi ini adalah pilihanku. Usaha yang kuperjuangkan mati - matian . Demi izin dari publik memperpanjang hari untuk berjuang sebelum dipulangkan tanpa perkataan maaf. Hanya dengan omongan semua adalah yang terhebat dan sang juara. Sungguh perkataan bulshit. Jika memang semua terhebat tentu tidak akan ada ambisi saling menyakiti demi dang juara. Jika memang semua juara tidak akan ada ego tanpa memandang kewajaran demi sang terhebat. Nyatanya kedua sifat murni manusia itu menjadi bukti bahwa perkataan mereka sampah. Manusia adalah mahluk rakus dan tamak.
Kupandangi ruangan yang berwarna hijau itu lekat - lekat. Seaeorang peenah berkata alasan mengapa pakaian dokter bedah bewarna biru atau hijau adalah demi memberi rasa tenang dan rileks berpacu pada ketegangan pekerjaan mereka. Jadi aku sedang meberapkan alasan itu. Menyugesti pikiran dari tekanan yang kemunculannya tanpa terduga - duga.
" Permisi . Saya ingin bertemu pak kono." Sudah peraturannya saat berbicara disini para konstentan menggerakkan kepala kebawah.
" Masuklah, beliau sudah menunggu di dalam. " Seorang wanita yang selerrinya memasuki dua lima tahun itu tersenyem. Kami memanggilnya bu Mala, assisten pak Kono.
Engucapkan terima kasih, aku melangkah menuju ruangan pak Kono. Menyiapkan mental , menerima hadiah semburan dari beliau.menarik napas panjang . Dan kembali menyugesti diri adalah hal yabg aku lakukan sebelum mengetuk pinta cokelat kayu jati itu.
" Permisi pak, nika bilang balak memanggil saya? " Menutupi rasa gugup , aku menghindari menatap pak kono. Sesekali curi pandang pada keadaan ruangannya. Ruangan pak Kono bukanlah ruangan yang besar, ruangan ini bahkan tidak mampu menampung sepuluh orang dewasa didalamnya. Keadaan ruangan pak kono yang rapi dengan dekorasi menarik berhasil menciptakan rasa nyaman berlama - lama dalam ruangan itu. Andai saja sikap pemilik ruangan menyandang kata tamurable.
" Silakan masuk Abit. " suara pak kono memutuskan perhatianku.
Aku masuk dan duduk di sofa berukuran kecil di ruangannnya itu setelah di persilahkan.
" Ada apa ya pak, memanggil saya kesini? " Jengah berdiam dalam suasana canggung, kuputuskan menanyakan tujuan pak kono
" Saya ingin memberimu penawaran "
Dahiku berkerut mendengar jawaban pa Kono. Kupikir dia ingin memperpanjang luapan tidak puasnya lagi padaku. Jauh sekali dari perkataan penawaran.
" Mengenai apa pak? "
Terdapat jeda sebelum pak Kono kembali menjawab . Sepertinya beliau sedang menyusun kata - kata yang kuduga.
" Undur diri dari kompetisi ini. Dan kau akan menerima uang sebagai konpensasi balasan "
Sungguh aku tidak terkejut tentang ini. Ancaman dibalik kata penawaran, rayuan dibalik kata konpensasi . Bukan hanya kali ini aku mendengar berita ini. Sebelumnya sudah banyak korban yang hilang atau undur diri secara tiba - tiba. Yang tidak kuduga berita ini akhirnya datang padaku. Sebagai aku menjadi korban selanjutnya.
" Jika aku tidak mau? " Aku ingin tahu ancaman apa yang datang padaku, jika melawan mereka.
" Kudengar kau menjadi tulang punggung keluargamu. Ayahmu telah lama menghilang setelah menjadi TKI. Ibumu kena stroke berat dan menjadi lumpuh total, sebelum mati katena tidak mendapatkan perawatan meninggalkan tiga anak perempuan malang. Oh.. Jangan lupakan utang yang ditinggalkan kepadamu. Kau mengertikan maksudku? " Seringaian busuk terpatri di muka bengisnya itu. Sebelum melanjutkan ucapannya
"Perlu kamu tahu, sebetulnya kami tidak punya masalah menghilangkanmu tanpa jejak dari sini. Aku hanya sedikit iba karena kamu termasuk kontestan berbakat. Keputusannya ada padamu Abit"
Aku terdiam mendengar suara sinis pak Kono. Aku tidak mau menunjukkan ekspresi terluka di depannya.
Kuatur ekspresi mukaku, kuusahakan menjawab dengan tenang
" Memangnya aku punya pilihan. Berapa banyak konpensasi yang aku dapatkan?"
Mendengar pertanyaanku , pak Kono tersenyum sinis sambil menjawab" Cukup untuk membayar utang - utang keparatmu "
Kulangkahkan kakiku menuju luar ruangan, saat setelah membuka knop pintu aku sudah tidak tahan menyimpan emosiku.
Kubalikkan wajahku dengan angkuh pada pria tua sombong itu
" Saya tidak butuh uang anda pak tua. Ingat dan camkan janjiku suatu saat nanti anda akan berlutut padaku seperti orang gila. Dan menerima balasan perbuatanmu sepuluh kali lebih busuk, brengsek. "
YOU ARE READING
Idol Star
Romance# tertipu dengan teman sendiri. # Dikeluarkan dengan paksa dari ajang lomba nyanyi # pengangguran beberapa bulan di Jakarta. # bekerja menjadi pegawai toko Pakaian dengan boss galak dan gaji Kecil # bertemu...
