Ia adalah seorang gadis. Seorang gadis yang terlihat seperti boneka. Maniknya seindah biru laut, surai blonde nya dilengkapi 2 pasang pita, dress berwarna biru dan abu, serta dilengkapi sebuah liontin berwarna hijau indah.
Violet, namanya Violet Evergarden. Violet merupakan seorang penulis surat yang cukup populer di Laiden saat ini. Ia telah membuat dan menyampaikan berbagai surat yang indah kepada kliennya.
Surat dari adik untuk kakak, surat dari anak untuk ibunya, surat dari ayah untuk anaknya, surat dari ibu untuk anak, bahkan surat cinta.
"Tidak ada surat yang tidak dapat dijangkau"
Kutipan itu sudah sering terdengar di telinga seorang Violet. Dengan gigih ia mencoba menyampaikan perasaan orang lain melalui surat.
"Aku ingin tau... Apa arti dari kata 'Cinta'.."
Sebuah keinginan yang ingin sekali ia gapai dengan susah payah. Jatuh, bangkit, terjatuh lagi, dan akhirnya bangkit lagi.
1 buah keinginan yang tak mungkin ia capai, tak mungkin ia gapai, tak mungkin sampai. Sebuah impian dimana ia ingin bertemu seseorang yang sangat berharga baginya.
"Violet... Ya, Violet! Kau bukanlah sebuah alat, melainkan seorang gadis yang akan sesuai dengan nama itu"
Sebuah pertemuan penuh nostalgia pertama yang dialami Violet, pertemuan indah dan mengharukan yang membawa Violet menuju kehidupan sekarang. Dimana sekarang ia lebih bisa memahami, mensyukuri, merasakan, menyadari, dan mengetahui arti dari kehidupan ini.
Itulah yang diharapkan sang orang kesayangan. Walaupun itu akan membawanya menuju tidur untuk selamanya.
Secara teknis, Violet adalah mantan militer. Ia juga cukup dikenal oleh pasukan lain karena kelincahan dan kehebatannya dalam bertarung di umurnya yang masih belia.
Cukup wajar jika semua orang menganggap Violet sebagai alat dari Mayornya, Gilbert Bougainvillea. Namun, masih ada setidaknya 1 orang yang memperlakukan Violet layaknya anak anak di usianya. Tentu saja, itu adalah mayornya sendiri.
Saat pertama kali bertemu dengan Violet, sebenarnya Gilbert tak tega melihatnya dalam keadaan seperti itu.
"Oi, hentikan! Ia masih anak kecil!"
Wajar saja setiap orang akan berkata begitu. Pada saat itu Violet masih sangat muda dan pucat. Seorang gadis bertatapan kosong dengan rambut acak acakan tidak karuan. Orang orang sudah pasti tak tega melihatnya dengan keadaan seperti itu.
Pada saat itu, Violet pun hanya mengetahui tentang membunuh dan peperangan saja. Bahkan seorang pimpinan dengan watak paling tegas sekalipun harusnya tak tega melihat anak seperti itu.
Violet yang saat itu tak mempunyai apa apa diberikan banyak olehnya. Ia telah memberikan Violet sebuah alasan untuk hidup, kebutuhan hidup, pekerjaan, pelajaran, dan lainnya.
"Apa kau... Menginginkan sesuatu? Tidak, ini bukan sebuah perintah. Ini hanya ucapan terima kasih dariku. Ya, karena kau sudah bertarung dengan- .....mari kita berjalan jalan sebentar"
Violet hanya dapat mengangguk anguk mengerti dan mengikuti jalan mayornya. Saat itu memang Violet belum terlalu mengerti tentang banyak hal, Gilbert hanya bisa tersenyum miris melihat anak buahnya tersebut.
"Apakah kau yakin tak akan membeli yang memiliki warna yang sama dengan matamu?"
Terlontar sebuah pertanyaan dari mulut Gilbert. Seolah ia ingin Violet mengambil liontin dengan warna lain, bukan warna matanya.
"Aku yakin. Bagiku, ini yang paling bagus. Mata anda sangatlah indah, bahkan saat pertama kali bertemu pun, itu adalah yang paling indah"
Gilbert sedikit tersentak mendengar kalimat tersebut dari seorang Violet. Ia tak menyangka Violet dapat mengeluarkan kalimat yang seindah itu. Seketika ia berjalan menuju Violet, dan memakaikan liontin tersebut.
"Terima kasih. Terima kasih banyak, mayor"
Kalimat itu sedikit membuat lega dan sesak secara bersamaan. Dua perasaan itu bercampur aduk menjadi sebuah perasaan yang mungkin adalah perasaan prihatin.
"Apakah kau sangat menginginkan perintahku itu?"
Pertanyaan itu tak mampu Gilbert tahan. Ia benar benar sudah tak sanggup memberikan perintah keoada Violet. Ia hanya menginginkan Violet hiduo dengan bebas.
Bagi Violet, perintah mayornya adalah segalanya. Ia dapat melakukan apapun jika mendapat perintahnya. Ia sudah sepenuhnya memberikan dirinya kepada sang mayor.
Violet tak mau mayornya berhenti memberi perintah. Violet mungkin tak tau apa yang ia sendiri rasakan, tapi mungkin itu adalah balas budi atas segala-galanya yang sudah diberikan oleh Gilbert.
"..Hidup.... Hiduplah dengan bebas.. Dari lubuk hatiku yang terdalam..."
"Aku mencintamu..."
V
iolet terus menerus tenggelam dalam kegelapan. Semakin dalam, semakin dalam, dan semakin dalam menuju kegelapan abadi.
Sudahlah, pasrahkan saja semuanya. Kau tau kan bahwa Gilbert itu sudah mati.
Iya, mati.
Dia sudah lama mati demi melindungi Violet kan?
Lupakan saja semuanya. Gilbert Bougainvillea sudah 'menghembuskan nafas terakhirnya sejak lama'
"..Mayor, aku sudah selesai membaca"
"Mayor, ini laporannya"
"Apakah mayor baik baik saja?"
"Mayor tidak terluka? Apa dia masih hidup?"
"Dimana mayor?"
"Mayor"
"Mayor"
"Mayor"
"Mayor?!!!!"
"Cinta..? Cinta, apa itu?? Aku... Tidak mengerti.. Aku tidak mengerti!"
"....Mayor"
Mayor Gilbert Bougainvillea telah mati.
".... Bagiku, dia adalah segalanya. Jika ia sudah tidak ada, lebih baik aku mati saja" -Violet Evergarden
*-*-*
Heyo! Maapkan aku nge angst mulu, awokwowkowk. Tehehe!
Readers : Hilih, maso aja bangga
Author : Hilih, misi iji binggi //Digebuk//
Gimana cerita kali ini? Ya, ku ambil lagi dari anime Violet Eergarden diakibatkan dedlen nya mepet, h3h3. Awalnya mau bikin buat Gakko Gurashii, tapi karena gada ide juga, akhirnya bikin ini deh.
Jan lupa comment n vote ye, kalo ada kritik juga silahkan, hehe.
Sekian terima kasih!
CZYTASZ
There Is No Unreachable Feeling || Violet Evergarden Short Story
Krótkie Opowiadaniadikisahkan seorang gadis cantik berusia sekitar 14 tahun yg merupakan seorang penulis surat yang terkenal di daerahnya, Laiden. Violet Evergarden atau kerap disapa Violet adalah seorang gadis muda dengan manik biru laut dan surai blonde nya, dileng...
