"Jangan lupakan jadwal konsultasi selanjutmu!"
"Ya, terimakasih banyak."
Kring...
Pintu bercat putih tulang itu tertutup setelah seorang gadis muda mengucapkan kata terimakasih.
"Huft... Gadis muda lagi." wanita muda berumur 20 tahun yang memakai jas putih itu bergumam kesal sambil menyandarkan tubuhnya di kursi dan bertopang dagu pada pegangan kursi.
"Kumohon, Tuhan! Datangkan seorang lelaki padaku." ia memelas seperti anak kecil yang menginginkan permen.
Wanita yang tadinya terlihat berwibawa sekarang membuka asal jas putih miliknya. Ia adalah seorang psikolog muda.
Setelah itu ia langsung meregangkan otot-ototnya. Hari ini ia sangat kesal dengan Tuhan, karena seharian ini pasien yang datang untuk konsultasi dengannya semua gadis yang berusia belasan dan dua puluh tahunan.
Wanita yang memakai rok span hitam selutut itu keluar dari ruangan prakteknya menuju dapur. Rumah dan tempat prakteknya memang satu atap jadi itu dapat memudahkan dirinya. Segera ia membuka lemari makanan untuk mencari stok teh chamomile. Ia ingin menghangatkan pikirannya yang benar-benar kacau hari ini.
"Ah! Bodoh.."
"Mengapa sekarang kau sangat sial, Mizuko?!" ia mengumpat pada dirinya sendiri, hari ini ia sangat merasa kacau ditambah lagi stok teh chamomilenya ternyata telah habis. Padahal itu dapat menjernihkan kembali pikirannya yang berantakan saat ini.
Akhirnya Mizuko memutuskan untuk keluar membeli teh yang ia butuhkan itu.
***
Saat diperjalanan tiba-tiba saja mobil yang Mizuko kemudikan terhenti begitu saja.
"Kutemukan!" ia menatap tajam seorang lelaki muda dan keluar menghampirinya dengan terburu buru. Seperti binatang buas yang akan menghabisi nyawa mangsanya.
"Maaf, bisa minta waktunya sebentar?" wanita yang memakai jas dokter ini membersihkan jasnya dan merapikan surainya kikuk.
"Ada apa? Aku sibuk." jawab lelaki itu cepat sambil menatap aneh wanita yang berada dihadapannya ini.
"OHHH..! Kumohon sebentar saja!" Mizuko mencoba mencairkan hati dingin lelaki yang ia hadapi itu.
Orang-orang sekeliling menatap mereka berdua dengan tatapan miris, kasihan bercampur aduk dengan heran melihat seorang wanita muda berjas dokter berlutut dihadapan seorang pemuda pelayan restoran.
"Hentikan!" ia pun pergi meninggalkan Mizuko yang masih berlutut memohon.
"Hey, tunggu! Aku akan membayarmu!" dengan bodohnya Mizuko mengejar lelaki yang memakai seragam pelayan restoran tersebut.
" Hah? Aneh!... M-membayar untuk apa?" ia berhenti tiba-tiba setelah mendengar bahwa akan ada yang memberikannya uang.
Mizuko hampir mendaratkan kepalanya pada dada yang sedikit bidang itu.
"Hosh.. hosh.. akhirnya kau membuat keputusan terbaik untuk membuatku berhenti berlari mengejarmu." Mizuko berkacak pinggang sambil mengatur napasnya yang hampir habis itu. Ia menatap lekat dari bawah sampai atas tubuh lelaki itu.
"Kenapa melihatku seperti itu?" ia mencoba membuat jarak pada Mizuko.
"Langsung saja... Kau ingin membayarku berapa?" ia menatap Mizuko dengan tatapan mengintimidasi.
"... Dan... Untuk apa?"
"Baiklah baiklah.. Akhirnya pikiranmu terbuka juga." Mizuko melebarkan senyumnya dan memamerkan jejeran gigi kelinci putihnya.
"Aneh sekali ucapanmu. Jangan membuang waktuku, aku sampai lari meninggalkan restoran karena ketakutan." omel pemuda tersebut.
Pipi Mizuko tiba-tiba saja memerah dan dengan gugup ia menjelaskan. "Jadi... A-aku ingin.. menyewamu.. ah bukan, maksudku, bisakah kau melakukan skinship denganku..hmm hanya ciuman, tidak lebih."
"Ha? Apa maksudmu? Berhenti membuang waktuku, aku sibuk. Gadis gila!" ia menatap sinis kemudian berlalu meninggalkan Mizuko.
Sontak Mizuko langsung menarik tangan lelaki itu dan menatap dengan tatapan memelas dan bodoh miliknya.
"Kumohon! Berapapun akan ku bayar! Kau ingin berapa?" ucap wanita muda tersebut sambil mengguncang-guncangkan tangan lelaki berkulit putih pucat itu sehingga Mizuko tampak seperti wanita yang sedang bermohon pada lelakinya yang hendak pergi meninggalkan dirinya.
Dengan sengaja lelaki itu langsung saja menarik tangannya dengan kasar. "Kau pikir aku apa?" pertanyaan yang dilontarkan dengan dingin itu tak membuat Mizuko putus asa.
"Aku hanya ingin dirimu.." Mizuko tertunduk lesu namun tawaran yang ia berikan kepada lelaki itu tetap tidak goyah. Ia harus mendapatkannya.
"Sudahlah! Cukup obrolan bodoh ini. Aku ingin lanjut bekerja." lelaki itu mulai melangkahkan kakinya tapi Mizuko langsung menyodorkan kartu nama miliknya pada lelaki tersebut.
"Kalau begitu, kuberi kesempatan, siapa tahu kau berubah pikiran. Simpanlah ini!" ia meraih tangan lelaki tersebut dan memberikan kartu namanya.
"Hah? Bodoh, aku tidak mau!.
Setelah penolakan tersebut tiba tiba-tiba saja seorang laki laki berbadan gemuk seperti ikan buntal berteriak memanggil seseorang dari kejauhan.
"YAMADA EIJI!! APA YANG KAU LAKUKAN?!
"Oh mampus! Bos mencari ku." lantas tidak sadar ia menyimpan kartu nama tersebut di saku celananya dan pergi begitu saja meninggalkan Mizuko.
Kali ini Mizuko hanya tersenyum manis tanpa melepaskan pandangannya kearah lelaki yang meninggalkan dirinya itu.
"Eiji.. nama yang manis." senyuman Mizuko makin mengembang, ia berharap Eiji dapat menerima tawaran yang terdengar bodoh itu.
Tbc~
YOU ARE READING
Silly Succubus
Romance"Hanya ciuman..." "Hanya ciuman..." "Hanya ciuman..." "Hanya ciuman Mizuko..."
