Tokyo Jepang 10 Oktober 2010
Malam itu sungguh malam yang sangat mencekam.
Kesunyian yang janggal tanpa terdengar sedikitpun suara hewan malam yang seharusnya mengisi kegelapan di setiap malam, namun kali ini berbeda. Seolah tak ada kehidupan sama sekali atau memang tidak ada?
Tak seorang pun yang mengetahui kejanggalan itu karena memang terjadi begitu cepat, seolah olah memang di semubunyikan. Bahkan tidak ada yang tau insan kecil menangis keras di sebuah batu yang sangat besar.
Bukan, bayi itu bukan lahir dari sebuah batu seperti sun go kong, bukan juga lahir dari rahim wanita di daerah tersebut.
Sampai seorang pria paruh baya memungut bayi yang masih kemerahan itu.
"Hey anak manis di mana kah ibu dan ayah mu nak? Mengapa kau sendirian di dalam hutan gelap ini?" tentu saja bayi itu tak dapat menjawab pertanyaan si bapak.
"Aku akan mencari orangtuamu nanti, sekarang ikut denganku pulang kerumah ya? di sana sudah ada istriku menunggu."ujarnya lagi, lalu berjalan menjauhi hutan ke jalan besar.
Bapak itu baru menyadari bahwa bayi yang ada digendongannya memiliki warna mata yang berbeda juga kalung dengan liontin yang entah sejak kapan menggantung di leher bayi itu
bertuliskan "Ai" dengan huruf kanji dituliskan besar besar.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
AITAKATTA
Fiksi RemajaAku sudah melayang dengan semua meja kursi di dalam kelas. Aku mencoba untuk tenang dan menggerak-gerakkan tangan ku mencoba mengendalikan kursi di depanku. Kursi yang semula melayang dengan tenang kini bergerak berputar-putar mengikuti tanganku ya...
