Pindah

23 2 1
                                        


Eunji membawa barang-barangnya ke dalam.

Ruangan seluas kurang lebih 25 meter persegi dengan lantai kayu di bawahnya. Cukup luas untuk ditinggali seorang cewek SMA sepertinya, terlebih untuk bermalas-malasan sepertinya sudah termasuk lebih dari cukup. Dengan fasilitas loft, atau loteng sebagai ruang baca sekaligus tidurnya, hal tersebut yang sepertinya akan membuat si gadis pemalas betah tinggal di apartemen ini.

Kalau seperti ini rasanya gak masalah-

                                                                                     -24/7-

Sebelum pindah, 08.00 malam.

"Kamu itu main terus, tidur terus, makan terus,kapan majunya nak,nanti masa depan kamu gimana blablabla-" omel ibunya panjang sambil menatap anaknya yang sedang membaca buku itu. Eunji acuh tak acuh membiarkan ibunya mengomel.

"Kamu dengerin ibu nak, ayah kamu udah susah sekarang, masa kamu juga mau nyusahin ibu sih?" ujar ibunya lanjut mengomel.

"hm,"ucap Eunji tak peduli. 

"Kamu mau saya nikahkan biar gak nyusahin saya lagi?" tanya ibunya.

Kalau sudah menggunakan "saya" artinya ibu serius. Dan Eunji tidak bisa membiarkan itu. Dia kali ini menurunkan bukunya.

"Masa harus saya ancam dulu biar kamu perhatikan," ucap ibunya lelah.

"Sekarang kamu mau gimana? Ibu gak setuju kalau seperti ini terus," lanjutnya.

Eunji terdiam."Ibu sepertinya harus melepasmu lebih cepat," ujarnya.

Hah? maksudnya?

Seakan tau isi pikirannya, sang ibu menjawab,"Ibu akan memindahkan-mu ke sekolah baru dan kamu harus tinggal sendiri, jauh dari sini,"

Hah?! Serius? 

"Di lingkungan baru, kamu akan tahu gimana rasanya susah hidup sendiri, dan ngomong-ngomong, ibu juga akan memotong uang saku bulanan-mu untuk membayar sewa bulanan,"

Ini semua bagaikan petir di siang bolong. Ditambah lagi, Eunji paling benci dengan kata "adaptasi" atau "teman baru" atau "tempat baru". Bahkan dia tidak tahu cara merapikan barang-barangnya.

DAN INI TERLALU MENDADAK.

                                                                                      -24/7-

Sayangnya, keputusan ibu saat itu sudah terlalu bulat dan keras. Ayah sepertinya sudah lelah dengan pekerjaannya jadi langsung setuju saja, kakak tidak berkutik sedikitpun tentang hal ini. 

Dan inilah, sekarang.

Lee Eunji, pelajar SMA kelas 10 harus tinggal di sebuah apartemen di luar kota,sendiri.

Setelah ber jam-jam dia menata apartemennya. Akhirnya selesai.

BUK!

Eunji membanting tubuhnya ke atas kasur.

Gua gak nyangka kalau sampe segininya menata rumah tuh, capek.

Jam menunjukkan jam 06.00 sore.

Di sore itu, akhirnya Eunji menghabiskan waktunya untuk beres-beres dan beristirahat.

                                                                                -24/7-

Pukul 12.00 , tepat tengah malam.

Brak!

"Kamu tuh ya!"

"Maafin aku, ayah!"

"Gak becus banget sih, cuma di suruh ngerjain gini doang masa gak bisa?!?!?"

"Iya ayah, stop!"

"Ibu sama anak sama aja!"

"Maafin dia aja, ayah!"

Brak! Plak!

"Ayah, sakit! Ayah!"









24/7 Next DoorHistórias para pegar e não largar. Descubra agora