14 Tahun yang lalu ….
Setelah ujian kenaikan kelas, semua murid masuk ke kelas baru dengan penuh antusias. Mereka saling berebut tempat duduk. Ada yang ingin duduk di depan, di tengah, di belakang, bahkan di pojokan. Sehingga membuat kelas sedikit berantakan dan tidak teratur. Maklum saja, mereka hanyalah murid sekolah dasar yang baru naik ke kelas empat. Masih rusuh-rusuhnya.
Berbeda dengan anak laki-laki yang berdiri di samping pintu kelasnya. Ia hanya memandang teman-temannya yang saling berebut itu dengan wajah dingin. Merasa heran dengan apa yang mereka lakukan. "Apa pentingnya memilih bangku?" pikir anak itu.
Akhirnya guru masuk. Ia mempersilakan semua murid untuk duduk di bangku yang telah mereka pilih. Walaupun masih ada yang saling protes karena tidak sesuai dengan keinginan tempat duduknya. Anak laki-laki yang tenang tadi masih berdiri seraya melihat bangku manakah yang kosong. Ia tidak peduli di mana akan duduk. Toh, bangku di kelas tidak akan menentukan kepintarannya, 'kan?
"Hei, kau. Di mana tempat dudukmu?"
Saat guru bertanya, anak itu hanya memandang biasa—kemudian duduk di bangku paling belakang di sebelah jendela. Tidak membalas ucapan sang guru, bahkan mengabaikan pandangan murid lain. Dia acuh karena ini tidak membuat mereka terganggu, 'kan?
"Baiklah, anak-anak. Karena kalian sudah naik kelas dan berada di kelas yang baru, sekarang Ibu ingin kalian menulis siapa saja anggota pengurus kelas!" ujarnya dengan suara yang cukup lantang. Beberapa murid saling berbisik, bertanya-tanya siapakah yang cocok menjadi pengurus kelas.
"Siapkan kertas dan alat tulis kalian. Silakan tulis siapapun yang ingin menjadi ketua kelas. Kumpulkan jika sudah selesai, dan suara terbanyak lebih dari dua kali di awal panggilan— dia yang akan menjadi ketuanya!"
Semuanya mengeluarkan buku dan merobek sebagian kertas mereka. Mulai menulis nama yang kira-kira cocok menjadi ketua kelas. Anak laki-laki yang duduk di belakang itu, tidak menulis apa pun karena dia tidak mengenal satu pun dari mereka; murid di kelasnya.
Satu per satu anak sudah menyerahkan keputusan mereka. Hingga tuntas semuanya dengan jumlah sembilan belas gulungan kertas. Guru tersebut mengerutkan dahi. Di kelas ini jumlah muridnya genap, tapi yang mengumpulkan suara hanya ada sembilan belas. Lalu, di mana satu orang lagi?
"Apakah ada yang belum mengumpulkan suara?" Ia bertanya. Semua murid saling pandang. Mereka juga tidak tahu siapa yang tidak mengumpulkan kertas suara itu. Hingga mata sang guru tertuju pada anak laki-laki tersebut yang hanya diam menatap jendela. Tak ingin menegur, dia cukup tahu bagaimana sikap anak itu.
"Baiklah, kita akan mulai menghitungnya!"
Antusias tinggi dari mereka. Guru mulai menghitung dengan teliti.
"Jeon Jungkook!"
Satu nama telah disebutkan. Pemilik nama tersebut menatap datar ke arah depan.
"Jeon Jungkook!"
Namanya sudah dipilih oleh dua orang. Jika yang terakhir ini adalah namanya, maka dia yang akan menjadi ketua kelas.
"Yang terakhir, jika ini nama yang sama—maka…."
Mereka semua menunggu. Tak terkecuali si pemilik nama yang sudah bersiap untuk maju dan memberikan pidato kecilnya.
"Jeon Jungkook!"
Beberapa murid tampak antusias, ada juga yang tidak setuju dengan ketua kelas yang baru. Sedangkan si pemilik nama, maju ke depan tanpa perlu menunggu perintah. Membuat semua orang memandang ke arahnya dengan berbagai macam ekspresi.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya bicara. Melihat semua temannya, dan merasakan keanehan dalam dirinya. Ia tidak suka berada di depan. Tidak suka menjadi pusat perhatian.
"Aku tidak tertarik untuk menjadi ketua kelas. Kenapa kalian memilihku?" Ia bertanya setelah sejak tadi hanya diam. Semua orang saling berbisik membicarakan anak bernama Jeon Jungkook itu.
"Kalian tahu, menjadi ketua kelas harus bisa berbicara dengan baik. Berani tampil di depan umum. Sedangkan kalian tahu bagaimana aku. Apa kalian sedang mengerjaiku dengan melakukan hal ini?!" Dia bertanya lagi. Mulai menunjukkan rasa kesalnya karena sungguh … bukan hal menyenangkan mendapatkan jabatan seperti ini.
"Jungkook-ah, mereka memilihmu bukan karena itu. Mungkin bagi mereka kau terlihat tegas," sahut sang guru untuk membuat suasana menjadi tenang. Jungkook melirik tajam. Apa pun alasannya, itu tidak akan membuatnya bersedia untuk menerima jabatan ini.
"Aku tidak mau menjadi ketua kelas. Silakan lakukan pengambilan suara ulang, atau aku akan pulang?"
Entah ancaman ini terlihat menakutkan atau justru membuat mereka semua menahan tawa. Yang benar saja, tidak ada hubungannya Jungkook pulang dengan tidak menjadi ketua kelas. Dia akan tetap menempati posisi itu selama satu tahun yang akan datang. Tidak ada alasan untuk menolak karena itu adalah keputusan yang diambil bersama.
===
Jungkook duduk di kursi rumahnya tanpa melepas satu pun peralatan sekolah. Ia tampak lesu dan murung. Masih kesal karena ternyata, pengambilan suara ulang tidak dapat dilakukan. Alhasil, ia tetap akan memegang jabatan sebagai ketua kelas selama satu tahun yang akan datang.
Ibunya datang saat melihat pintu terbuka, dan sang anak yang sedang duduk terdiam di kursi rumah. Ia tidak mendengar suara bus sekolah berhenti di depan rumah. Lalu ia duduk di samping putra kecilnya. Memerhatikan raut wajah anak berparas tampan itu, kemudian merasa heran.
"Putra ibu, kenapa wajahnya ditekuk? Apa ada hal buruk yang membuatmu kesal?" Ia bertanya. Jungkook menoleh dan menatap mata ibunya. Membulat sempurna dengan kepolosan yang begitu murni. Dia sangat menggemaskan.
"Ibu, aku menjadi ketua kelas mulai hari ini!"
Ibunya diam sesaat. Terkejut sedikit, lalu tersenyum kecil. "Itu bagus. Ini pertama kalinya bukan?" Jungkook menundukkan wajah dengan ekspresi murung yang semakin jelas. Membuat ibunya bingung sendiri karena sang anak tidak senang dengan apa yang dia dapatkan sekarang.
"Ibu tahu aku anak yang sangat pemalu. Menjadi ketua kelas harus berani untuk tampil paling depan mewakili kelasnya. Aku tidak bisa melakukan itu, Bu."
Jungkook terlihat sedih. Ia menunduk dan matanya berkaca-kaca. Satu detik kemudian, ia menangis. Ibunya menyadari itu, dan memeluk dia untuk membuatnya tenang.
"Putra ibu, dengan kau menjadi ketua kelas—yang harus kau lakukan adalah membuang sifat pemalu itu. Ibu yakin kau adalah anak yang hebat dan berani melakukan apa pun. Menjadi ketua kelas harus memiliki tanggung jawab terhadap anggotanya. Ibu yakin kau pasti bisa melakukan itu dengan baik. Jangan malu, katanya kau ingin menjadi orang hebat, 'kan. Jadi, ayo tunjukkan kalau Jungkook bisa!"
Mungkin ini membuatnya sedikit tenang. Tapi tetap saja, dia masih belum siap untuk menjadi pemimpin kecil dalam kelasnya.
"Aku akan menjadi orang hebat nanti. Untuk sekarang, aku ingin menjadi orang paling bahagia sedunia. Karena aku akan menjadi hebat untuk ayah dan ibu terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan menjadi hebat untuk banyak orang!" ujarnya dengan antusias. Wanita itu senang melihat anaknya telah kembali ceria seperti semula.
Tak apa jika Jungkook tidak ingin memulainya saat ini. Karena apa pun itu membutuhkan waktu. Dia hanya perlu mengenali dirinya dahulu dengan benar, lalu memutuskan untuk memperbaiki itu agar menjadi orang hebat di kemudian hari.
"Koo hebat! Koo anak ayah dan ibu yang
paling hebat … dan tampan."
-Jungkook / 9 Y.O
TBC
Next or End?
©Mealdhina
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE SHOT!
Misteri / Thriller"Kau akan dikalahkan hanya dengan satu tembakan!" Pada masa kecil, Jungkook memiliki seseorang yang ia kagumi. Seseorang yang berprofesi menjadi polisi. Namun, ia mati saat mengejar tersangka pencurian di salah satu rumah. Ia ditembak oleh si pencur...
