Sudah 21 tahun aku berpijak di bumi yang sama seperti orang-orang disekitar. Sudah beberapa tahun belakangan ini aku berusaha untuk tegar dan tidak menghiraukan sekeliling. Terkadang, aku bingung kenapa Tuhan sangat tidak adil kepadaku? Apa Dia kira aku sehebat itu? Menanggung semuanya dan berpura-pura seolah aku baik-baik saja? Terkadang yang aku inginkan hanya seseorang untuk diajak berbicara dan seseorang yang bisa mengerti aku bukannya menghakimi aku dengan penuh tekanan. Biar bagaimanapun juga, aku hanya seonggok daging hina yang ingin dicintai. Aku haus akan rasa kasih sayang yang didapatkan oleh teman-temanku dari orangtua mereka. Aku lebih baik dipukul dan diinjak oleh ibu lagi daripada hidup tanpa adanya seseorang untuk diajak berbicara mengenai hari. Aku ingat dimana saat aku masih harus menyewa kamar, dan teman sekamarku selalu mendapatkan telepon dari ayah maupun ibunya. Mereka selalu menanyakan kabar dan apakah semuanya baik-baik saja. Ingin rasanya punya seseorang yang peduli walau hanya bertanya kabar melalui telepon genggam. Hey! Aku ini bukannya anak yatim piatu.
Aku memang iri dan aku akui itu. Aku berharap aku punya keberanian untuk berteriak di depan wajah kedua orangtuaku hanya untuk mengatakan kepada mereka bahwa aku sebenarnya tidak baik-baik saja. Semua orang menyalahkanku atas semuanya. Apa yang membuat kalian mengira bahwa gadis berumur 21 tahun ini pantas mendapatkan hidup yang seperti ini. Hidup seperti seolah semuanya berjalan dengan sempurna dan tidak pernah mengeluh. Hidup seolah aku tidak membutuhkan bahu untuk bersandar walau hanya 2 menit saja. Hidup seolah dibenci itu adalah hal yang sangat wajar. Hidup seolah aku yang bertanggung jawab atas semua permasalahan yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Aku bahkan tidak ingat apa aku pernah memeluk ayah ataupun ibu. Itu karena aku memang tidak pernah melakukannya. Dulu, sebelum ayah dan ibu bercerai, ayah sibuk bekerja dan mencari hasil yang tidak ada. Sedangkan ibu sibuk melampiaskan kekesalan dengan memukuliku setiap hari. Menangis dan mendapatkan luka hebat sudah menjadi makanan sehari-hariku dan aku sangat terbiasa. Aku juga selalu berusaha melindungi adik-adikku dari cambukan ibu karena bagaimanapun juga, aku sebagai kakak yang harus bertanggung jawab atas semuanya. Pernah juga suatu hari dimana aku sudah sangat jenuh ini bertanya kepada nenek. "Sebenarnya aku ini salah apa sampai-sampai aku harus dipukul setiap hari?" Tanyaku yang berharap mendapatkan jawaban saat itu juga. Nenek hanya tertawa dan mengira aku sedang bercanda. Tapi aku benar-benar berharap seseorang menanggapi aku yang masih berumur 15 tahun dengan serius. Setelah ayah dan ibu pisah, aku merasa sangat aneh karena sejak saat itu, aku mulai tidak dipukuli lagi dan itu benar-benar aneh. Maksudku, aku yang terbiasa oleh cambukan tiba-tiba tidak mendapatkan cambukan rasanya seperti ada yang kurang dalam hidupku. Perlahan-lahan, semuanya berubah. Aku kehilangan orang terdekat yaitu kakek, setelah itu orang tua ku bercerai, setelah itu semua orang menyalahkanku atas keberadaanku dan perceraian orangtuaku, pamanku yang ditahan di balik jeruji sel, ayahku yang menikah lagi, aku merasa aku benar-benar sendiri kali ini. Sejak saat itu, aku merasa aku harus mematikan emosiku.
Kini, diumurku yang 21 tahun, aku kembali merasakan sesuatu yang seharusnya tidak kurasakan lagi selamanya. Yaitu perasaan dimana aku merasa tidak sendiri. Kali ini, bahkan aku merasakan hal yang lebih buruk yaitu, kesepian. Tidak peduli dimana aku berada atau ada berapa banyak orang yang sedang mengelilingiku, aku merasa sangat kesepian. Sangat kesepian hingga pada malam hari, aku hanya memeluk guling dan berbicara mengenai hari seakan guling itu adalah mahkluk hidup yang mengerti dengan apa yang aku bicarakan dan menjadikan bantal sebagai sandaranku untuk menumpahkan air mata. Lalu aku berpikir, ini bukanlah hal yang wajar. Aku sepertinya depresi tapi berbicara membuatku merasa baik walau baik yang kurasa itu semu. Sampai saat ini, aku hanya merindu. Rindu individual yang kutahan agar tidak meluap begitu saja. Aku tidak ingin menjadi orang jahat hanya karena aku merindu, bukannya gila. Aku ini hanya ingin dicintai. Apa rasa ingin dicintai ialah sebuah tindakan kriminal? Kalau begitu biarkan aku membusuk di balik sel-sel itu bersama penjahat-penjahat yang lain. Ingin rasanya berteriak kepada semesta dan menyalahkan Tuhan atas takdir ini. Ingin rasanya aku menuntut hakku untuk bahagia walau hanya 5 menit. Tapi apa dayaku yang hanya daging hina yang banyak menuntut ini.
