"Jisoo kapan nikah?"
Jisoo tersenyum kecut mendengar kalimat yang diucapkan wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari si mempelai wanita.
Salah satu alasan yang membuat Jisoo malas mendatangi acara pernikahan. Pasti ada saja yang menanyakan pertanyaan yang dibenci Jisoo.
Kapan nikah?
Pacar aja nggak punya ditanyain kapan nikah!
Umurnya sekarang yang sudah memasuki 27 tahun, memang usia yang matang untuk membangun rumah tangga. Apalagi di kampung halamannya umur dua puluh lima tahun keatas dianggap terlalu tua untuk menikah. Jisoo semakin frustasi, ditambah lagi orangtuanya dikampung selalu menanyakan hal yang sama. Belum lagi gunjingan yang ia terima dari para tentangga, menambah beban pikiran Jisoo.
Jisoo terakhir menjalin kasih sekitar dua tahun yang lalu. Mereka menjalin hubungan cukup lama dan hampir masuk kejenjang yang lebih serius sebelum si lelaki ketahuan selingkuh dengan teman Jisoo sendiri.
Beberapa kali Jisoo dekat dengan pria tapi tidak ada yang berhasil membuka pintu hatinya. Bukannya gagal move on dengan si mantan, sama sekali bukan. Jisoo hanya merasa belum ingin menjalin hubungan lagi atau lebih tepatnya, ia terlalu malas memulai suatu hubungan apalagi di umurnya yang semakin matang ini.
"Pasti lo ditanyain kapan nikah sama emaknya Mimi."
Jisoo menegakkan tubuhnya, menatap Nayeon yang baru saja datang seraya menggendong anak kecil. "Kok tau?"
"Keliatan dari muka lo." Nayeon tertawa.
Jisoo mendesah frustasi seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Muka gue keliatan ngenes banget apa?" ucapnya kesal mengundang tawa yang berada dimeja tersebut.
"Cowok yang deketin lo kan banyak, tinggal pilih tuh." sahut Jinyoung. Pria itu mengambil alih anaknya yang tadi berada di pangkuan Nayeon. Mereka terlihat mesra seperti tak menganggap ada orang disekitarnya.
Kan Jisoo jadi iri.
Salah banget Jisoo milih tempat duduk dimeja ini. Mana semuanya pasangan, cuma Jisoo sendiri yang nggak ada pasangan.
"Gue nggak butuh pacar-pacaran. Gue butuh satu aja yang bisa diajak serius." Jisoo menghembuskan napas gusar. "Nyari suami tuh lebih susah daripada nyari pacar, nggak bisa asal pilih gitu."
Seolhyun mengangguk setuju, "Setuju sama Jisoo. Jangan sampai salah pilih suami ntar nyesel. Pacaran kalo nggak cocok gampang bisa putus, kalo nikah? Ribet ngurusinnya apalagi kalo udah ada anak."
"Kenapa nggak sama Sehun aja? Diantara semua cowok yang deketin lo, cuma dia yang keliatan paling serius." celetuk Jin yang membuat semua orang menatapnya. "Dia juga masuk ke kriteria cowok yang lo suka kan?"
Jisoo mengarahkan pandangannya pada pria tampan yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya. Merasa diperhatikan, pria itu menoleh kearah Jisoo seraya melemparkan sebuah senyuman tipis.
"Dianya yang nggak mau sama gue Bang."
"Dih kata siapa?" Jin mengerutkan dahi. "Nih menurut pandangan gue sebagai sesama laki-laki. Sehun tuh suka sama lo, dari cara dia mandang lo aja keliatan banget."
"Nah!" Sowon menjentikkan jarinya. "Dia kalo dibilangin batu sih, gue juga udah sering bilang gitu, lo nggak percaya."
"Inget nggak dulu doi rela-relain sampai puter balik ke kantor buat jemput lo pas malem-malem kejebak hujan? Padahal gue yakin Pak Sehun udah sampai rumah?"
"Dia juga yang nemenin lo waktu sakit di rumah sakit sampai ijin nggak berangkat masuk kerja. Itu semua demi siapa? Demi lo Rodiah!"
"Argh udahlah jangan bikin jomblo kayak gue makin halu. Mana mungkin modelan Pak Sehun bisa suka sama gue. Mustahil!"
