Pelangi menggores langit yang biru dengan tinta warna yang berbeda, setiap warna mempunyai makna dalam mengartikan sebuah keindahan, ada banyak arti dalam mendefinisikan keindahan tersebut. Beredar rumor mengatakan, jika telah muncul pelangi berarti ada sebuah badai besar yang yang telah dilalui, aku ingin melewati fase tersebut dimana aku sudah bisa langsung melihat pelangi, akan tetapi disaat aku sudah melihat pelangi ada kaganjilan didalam hati, mengapa pelangi yang aku lihat sekarang tidak seperti pelangi yang orang lain ceritakan, pelangiku keluar setelah badai akan tetapi mengapa langit masih juga mendung? Seakan setelah adanya pelangi akan ada badai yang paling besar menghampiriku.
Awal semester seusai ujian kenaikan kelas, akan ada pengumuman dimana setiap siswa akan diacak kembali di kelas yang baru, terlihat kerumunan siswa sedang berkumpul menuju papan mading, dimana pembagian kelas itu di umumkan. Mulutku berkomat-kamit berharap temanku Zumi satu kelas denganku, aku pun menyisiri kertas yang sudah tertera nama Amalia, ya itu lah aku. Masih menyisir kertas sembari mencari nama Zumi terlihat satu nama yang membuat jantungku berdebar, hatiku mengatakan mungkin itu dia, Awan namanya, dia lelaki yang sering kupandangi dari jauh dalam diam, hatiku cukup bergejolak jika aku akan berjumpa dengannya setiap hari. Langkah demi langkah kuarungi sendiri menuju labirin yang entah kemana aku akan berakhir, sembari bertanya dalam hati "mungkinkah itu nama dia?". Masih terjebak didalam keraguan akupun menunggu waktu yang menjawab. Akhirnya hari pertama diawal semester satu ini akan menjawab keraguanku, aku ingin segera cepat-cepat ke sekolah untuk mengetahui jawaban dari pertanyaanku selama liburan ini. Pertanyaanku pun terjawab dan benar apa yang aku pikirkan, ternyata memang dia. Sebulan telah berlalu aku pun mulai beradaptasi di kelas yang baru tapi kenapa perasaanku belum beradaptasi juga ke dia, beberapa bulan ini mencari alasan untuk berbincang tapi belum juga ada celah untuk itu.
Waktupun terus berlalu, aku berpikir apakah rasaku akan tersampaikan, bagai pungguk merindukan bulan, aku putus asa akan rasaku ini, ketidak beranianku membuat hati semakin gelisah, semakin ingin aku utarakan semakin terpendam lebih dalam dihati yang tak mungkin bisa di utarakan.
Pada suatu ketika, di saat jam pelajaran olahraga selesai kami langsung bergegas menuju kelas. Saat kami sedang beristirahat di dalam kelas, teman sebangku ku berbisik kepadaku,
"Alia, ada yang ngelirikmu dari tadi lewat penggaris!!". Seru Faridah
"Siapa?" Jawabku dengan nada lelah
"Liat kedepan" Seru Faridah sambil menunjuk seseorang
Seperti bunga yang hampir layu diberi harapan untuk hidup kembali, aku melihat Awan memandangiku lewat penggaris besi, saat aku mencoba melihat ke arahnya, dia langsung menurunkan penggaris besi di tangannya. Aku tidak menyangka jika Awan memandangiku, tetapi aku tetap tidak percaya jika Awan memandangiku, aku berpikir bisa saja dia memandangi orang lain, aku pun perlahan pindah duduk di belakangnya, dia pun melihat lagi sambil mencari melewati penggaris itu ke segala penjuru arah.
"Cari apa dipenggaris Wan?" Tanyaku sambil tersenyum kecil melihat tingkahnya
"Tidak mencari, aku hanya sedang melihat sekitar, aku menirukan gaya detective yang ku tonton tadi malam" Jawab Awan dengan dinginnya
Lempar batu sembunyi tangan, seolah tidak ada kejadian beberapa menit lalu, dengan gayanya yang cuek membuatku kesal, aku berharap dia tersipu malu dan mengakuinya akan tetapi malah sebaliknya. Labirin yang kulalui seperti sudah terlihat jalan keluarnya walaupun belum sepenuhnya keluar. Sudah lama aku menanti masa ini, dengan dugaan hati yang kuat, kurasa dia menyukaiku, mungkinkah ini pelangiku?, keesokan harinya
"Selamat ya, selamat"Sebagian teman sekelasku mengatakan itu padanya.
"Mungkin ini hari ulang tahunnya" Jawabku dalam hati dengan bahagia aku ingin dapat giliran mengucapkan hal itu juga padanya.
