PROLOG

27 1 0
                                        

Happy reading❤

                            ***

Aku tidak tahu bagaimana awal perasaan yang rumit ini, berawal dari angin lalu menjadi sesuatu yang berat untuk pergi.

Pertemuan yang tidak direncanakan namun sudah digariskan oleh Tuhan. Takdir yang mempertemukanku dengan cinta, hal paling bermakna dalam hidup ini.

Namun semuanya membisu ketika tatapan dinginnya menatap. Dia tidak mengatakan apapun, namun batinku dapat mengerti segalanya. Waktu berhenti untuk sesaat, langit hitam yang mewakili perasaanku saat itu.

Tidak ada hal terburuk di hidupku yang melebihi hal ini. Apapun itu tidak akan dapat menggambarkan kehampaan ini. Perasaan yang tidak dapat di sembuhkan hanya dengan menunggu hari esok, dan mungkin untuk selamanya.

                            ***

"Jimin.."

Angin kembali berhembus, mengelus kulit pucat Jimin yang sedari tadi tidak bisa melepaskan pandangannya kepada pria yang dicintainya. Ya, Jeon Jungkook. Dengan mengeluarkan napas kasar, berusaha mengontrol semua emosinya yang memanas, menahan semua kejolak dalam hatinya yang sudah terlanjur patah, dengan cairan bening yang sudah menggenang di bawah matanya.

Dia tidak sanggup menjelaskannya sekarang. Mulutnya sudah terkunci setelah sekian detik yang lalu. Raganya sudah termakan oleh alunan ranting pohon yang jatuh dan patah satu per satu, menyisakan daun kering yang terbang tak ada arah. Dengan menundukan pandangannya ke bawah, beralih melihat sepatu coklat tua yang Jungkook kenakan. Pandangan yang naik kembali memandangi kedua mata coklat gelap itu lagi, mata sayu penuh pertanyaan, menunggu lawan tatapnya mengatakan sesuatu, dan memastikan semuanya sekali lagi.

"Aku mecintaimu Jeon Jungkook" Nada suara yang rendah, namun tak ada keraguan dalam setiap kata katanya.

"Namun kau tau sendiri jika aku.."
Jungkook dengan sengaja menghentikan kalimatnya, dan yakin bahwa Jimin pasti akan memahaminya.

Ya, Jimin sudah mengetahui jawabannya, ada alasan mengapa dia sudah sakit sebelum Jungkook mengatakannya. Air matanya kini tak bisa ia bendung lagi, cairan bening itu menetes begitu saja. Jimin ingin lari sekarang, tidak ada apapun yang harus ia pertahankan lagi, pikirannya menuntut hatinya untuk menyerah, bahwa keajaiban tidak akan datang kepada dirinya. Setelah ia mundur beberapa langkah dan berbalik, tiba tiba tangan Jungkook menahan tubuhnya untuk pergi.

Liat keadaan Jungkook sekarang, matanya berkaca kaca, penuh penyesalahan, dan mulutnya yang terbuka mengimbangi napasnya yang berhembus tak beraturan, menahan sesak di dadanya sambil sesekali menunduk, agar jimin tak melihat kesedihannya. Matanya kembali menatap Jimin, tatapan teduh yang menyejukan, menghangatkan suasana secara perlahan, dengan senyuman tipis di tengah air matanya yang menetes tanpa diterduga. Entah mengapa, hal tersebut seperti membawa angin segar untuk Jimin.








"Jika kau tau perasaanku yang sebenarnya..."



" Bahwa aku juga mecintaimu."





"Namun di sisi lain, aku tidak bisa egois meninggalkannya begitu saja."




Hati itu patah untuk sekian kalinya.

***

Jangan lupa vote yaa!!

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Feb 13 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

In a Manner of SpeakingHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora