.
.
.
.
. .
Seorang gadis berdiri di depan pintu sebuah cafe. Lagi-lagi ayahnya memintanya untuk makan sendiri karena ayahnya harus pergi ke luar negri.
Tringgg
Suara lonceng menandakan bahwa seorang pelanggan baru saja masuk ke dalam cafe. Laura Can Steffan seorang gadis berparas dingin namun cantik memilih untuk duduk di kursi pojok cafe tersebut.
"Pesan apa ya mbak? " Tanya seorang laki laki bertubuh tinggi
"Americano dan cheesecake satu" Ucap Laura tanpa memalingkan pandangannya dari handphone nya
"Ditunggu ya" Ucap ramah sang pelayan
Laura tetap fokus memainkan handphone nya tersebut tanpa menghiraukan sang pelayan yang sudah berjalan pergi bak miss Universe. Ya, begitulah seorang Laura, dingin dan cuek sudah menjadi sifat alami yang menempel sejak ia masih embrio.
.
.
.
.
10 menit telah berlalu,akhirnya sesuatu yang di tunggu oleh Laura tiba juga. Seorang pelayan wanita datang dengan senyum manis nan indah nya, ia membawa sebuah nampan yang di atas nya terletak sebuah cake dan satu gelas minuman.
"Silahkan dinikmati" Ucap nya ramah
"Hm, Terima kasih" Ucap Laura sambil tersenyum kecil
Setelah sang pelayan pergi, Laura masih saja fokus memainkan handphone nya tanpa menghiraukan makanan nya yang sudah menunggu untuk di lahap.
Tak lama, terdengar sedikit keributan.
Ada seorang laki laki muda? yang terdengar memarahi seorang pelayan perempuan. Enggan ikut campur Laura memilih untuk meneguk minuman yang tadi ia pesan.
"Sejak kapan americano ada rasa soda soda nya gini? " Ujar Laura dengan kening berkerut.
Memang pada dasar nya otak Laura adalah titisan Albert Einstein, ia langsung paham dengan situasi yang ia hadapi. Awalnya Laura ragu untuk menghampiri pelayan tersebut namun ia pikir bahwa ia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini.
"Permisi"
Pelayan tersebut menoleh dengan wajah gusar nya.
"Ada masalah apa lagi ya mbak? "
"Begini,,kurasa minuman ku tertukar dengan lelaki kurang ajar ini" Sindir Laura
"Maksud lo?" Tanya lelaki tersebut dengan wajah marah nya
"Lo gk hrs kasar sama cewek cma karna minuman yang ketuker" Sindir Laura sembari menukar minuman nya "Ini cuma masalah americano dan Coca-Cola yang ketuker bkn harta gono gini yang ketuker" Sindir Laura
Laki laki tersebut terlihat sangat marah dan segera meninggal kan cafe tersebut tanpa menoleh sedikit pun ke arah Laura.
Tanpa menghiraukan tatapan pelanggan lain Laura langsung kembali duduk kemeja nya dan menyantap pesanan nya.
Yaps, Mulut Laura memang sangat pedas bahkan melebihi cabe yang biasanya emak- emak beli di pasar pagi.
.
.
.
.
.
.
See you in the next chapter.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coffee
Fiksi Remaja"Kopi itu emg pahit rasa nya,,tapi lo harus tau dari rasa pahit nya itu ia bisa memberikan ketenangan" -Laura Can Steffan-
