Hari ini beberapa pemuda di warung pinggir jalan tampak sangat sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Lu dimana anjing" oceh Bango saat menelfon Aloy. "Lu yang ngajak lu yang gak dateng" sambungnya.
"Gua masih di kantor monyet"
"Oh, bilang dong sahut Bango setelah mendapat jawaban dari seberang sana.
"Kalian urus aja semuanya deh ya"
"Iye iye" kata terakhir Bango sebelum memutuskan sambungan telfonnya.
"Gimana Ngo?" tanya Alex. "Masih ngantor katanya" jawab Bango sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Jadi siapa yang mau ke tkp?" tanya Alex lagi pada temannya yang lain. "Eh Rambo udah di tambahin kan?" tanya Bango mengingat manusia itu sudah pulang dari pekerjaannya di Jepang.
"Emang Rambo udah balik Ngo?" tanya Taler. "Udah, baru berapa hari yang lalu"
"Duit udah kumpul semua kan?" tanya Bango lagi. "Udah kita tinggal mesen makanan aja, belum pilih makanan soalnya" jawab Cing.
"Yaudah gua yang ke sana deh, tapi temenin" pinta Bango, ia berlagak paling sibuk sedunia. "Ayo sama gua" usul Alex.
"Yaudah yok. Eh nanti pokoknya gua bakal fotoin menunya di grup kalian bantu milih ya" titah Bango lalu ia bergegas pergi dengan Alex.
Saat tiba di tempat tujuannya dan telah melihat menunya. Seperti yang ia katakan sebelum berangkat dengan temannya bahwa ia akan membiarkan temannya yang lain ikut memilih. Segera ia kirim foto menunya dan yang didapat hanya makian.
"Anjing beneran dikirim"
"Bangsat lu Ngo"
"Monyet gua mau sholat liat hp malah jadi gak khusyuk"
Begitu kata mereka dan lainnya dengan mengirim beberapa emotikon marah dan lain-lain.
Handphone Bango berdering tiba-tiba menampilkan layar telfon masuk dari Aloy yang segera ia angkat. "Kenapa Loy?"
"Lu lagi di tkp?"
"Iya, bantu milih menu Loy"
"Ada kudapannya gak?"
"Ada nih di baliknya, mau gua fotoin?"
"Boleh deh"
"Bentar" segera Bango mengirim foto menu kudapan yang ada di sana.
"Udah tuh ya"
"Bentar gua liat dulu" Aloy membiarkan telfonnya mengambang sebab ia harus memilih kudapan yang cocok untuk buka puasa nanti.
"Itu udah gua kirim Ngo sekalian sama menu utamanya" kata Aloy setelah beberapa saat berlalu.
"Oke" sahut Bango yang disambut dengan suara tanda sambungan telfon terputus.
"Aloy nyaranin yang ini" ucap Bango pada Alex dengan menunjukkan pilihan menu Aloy. "Yaudah itu saja" jawab Alex sederhana.
"Yaudah lu bilangin dah"
Setelah repot mengurus menu makan Bango dan Alex bergegas pulang. Alex tengah sibuk dengan kuliahnya dan Bango harus tidur siang.
Sore harinya Bango sudah mandi dan siap buka bersama teman-temannya. Ia mendatangi rumah Rambo yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya untuk mengajaknya berangkat bareng.
"Bo" panggilnya saat baru tiba dan langsung masuk kamar Rambo tanpa permisi. "Buruan bego" perintahnya.
"Sabar anjing bentar lagi" jawab Rambo meminta sedikit waktu sambil menyisir rambutnya. "Eh gua bagi wangi-wangian dong" pintanya yang yang belum mendapat izin namun sudah dipakai duluan.
"Ayo dah" ajak Rambo sudah siap.
Mereka berangkat menggunakan satu motor. Kata Bango kalau pakai mobil pasti macet sebab banyak orang ngabuburit.
Bango dan Rambo tiba di lokasi dengan waktu yang pas, sebentar lagi maghrib.
"Wih Rambo!" seru teman se-basisnya dengan menunjuk Rambo saat baru saja masuk dan menyita beberapa pandangan lainnya.
Rambo berjalan menghampiri mereka dan duduk di kursi yang tersedia. "Eh kayaknya ada yang kurang nih ya?" tanya Rambo mengingat semua wajah teman basisnya.
Ini adalah acara buka puasa bersama yang diadakan khusus untuk basis 105. Tentu saja Rambo mengingat wajah mereka, sebab Rambo adalah yang biasa berada di pinggir pintu metro mini untuk memberi arahan pada temannya pasal maju atau mundurnya basis.
"Iya Aloy katanya gak bisa dateng soalnya bentrok sama bukber kantornya" jawab salah seorang teman lainnya, si kembar Afif. "Oh" sahut Rambo.
***
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA!
JIKA SUKA SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK DENGAN VOTE DAN KOMENTAR!
JIKA PENASARAN SILAHKAN TAMBAHKAN KE PERPUSTAKAAN!
YOU ARE READING
SE-ARAH
AdventureKacau adalah resah Resah saat mengingat semua tingkah Setiap ingatan selalu terlintas bayang-bayang Kegelapan datang saat kaki hendak melangkah Amarah menyalah bagai api neraka yang mengobarkan panasnya Siksaan kini terulang Kacau adalah hambatan Te...
