Peringatan!
Cerita ini memiliki konten Seksual eksplisit , heteroseksual dan homoseksual. Ini cerita 21 +
Memiliki alur plot twist dengan ending yang tak terduga.
Dengan range usia 21 + saya harap kawan pembaca cukup dewasa.
Just enjoy the ride... 😊😊
###
Travelling bag itu melaju pelan, koper itu terlihat besar, bahkan lebih besar di banding koper-koper lain yang berseliweran di lantai Terminal Tiga Bandara Soekarno Hatta. Terisi penuh dan terlihat berat. Meski demikian sang pemilik mendorongnya seolah tanpa usaha yang berarti-roda2nya menggelinding ringan dengan manuver yang sempurna. Tentu saja benda berfungsi baik sesuai dengan harganya.
Mahawira berdiri sejenak mengedarkan pandangan. Pupil hitam matanya bergerak menyelisik hiruk pikuk manusia mencari orang yang mungkin di kenalnya. Ia ingin segera membuka jaket hitam berlogo D & G yang tengah dikenakannya. Saat turun dari pesawat beberapa belas menit lalu, deru hawa tropis mendera wajahnya. AC Bandara tak mampu menghalau pengaruh global warming apalagi sudah sepuluh tahun tubuhnya terbiasa dengan cuaca subtropics. Keringat mulai membasahi bagian punggung Wira yang tegap dan terlatih.
Akhirnya mata Mahawira menangkap karton putih kecil bertulisan namanya di pegang seorang pria paruh baya. Dia mendekat seraya berusaha mengingat wajah familiar itu. "Pak Mono!" gumamnya pelan, menunjukkan raut bangga telah mampu menemukan nama tersebut dalam perpustakaan memorinya. Pak Mono adalah supir Eyangnya yang sudah puluhan tahun mengabdi, mungkin sejak dia lahir. Wajahnya tak banyak berubah, hanya keriput mulai memenuhi sudut-sudut mata dan pipinya.
"Mas Wira tambah gagah ya," laki-laki tua itu menepuk lengan Wira, setengah terperangah tak lama setelah sosok itu berhasil ditemuinya. Mahawira membalas dengan senyum.
"Pak Mono sendirian ?" tanya Wira, suaranya lurus dan mantap.
"Enggak mas, saya sama-"
"Sena disini kakak!" pekik seorang pemuda nyaris melompat ke hadapan Wira, membuat Mahawira mundur otomatis.
"Hah?" Wira mengernyit, menaut kedua alisnya. Pemuda di hadapannya tersenyum. Senyum paling lebar menurutnya-melengkung sempurna dari pipi kanan hingga kiri ditambah deret gigi yang rapi. Wira tidak ingat siapa dia, tapi tampaknya pemuda itu mengenalnya betul.
Wira termasuk lelaki dengan kategori tampan, tingginya menjulang melebihi batas rata pria Asia Tenggara, wajahnya memiliki garis tegas yang maskulin, hidung lurus mancung, rahang kokoh dan bibir tipis. Kulitnya sawo matang eksotis dan tubuhnya tegap dèngan dada bidang yang proporsional. Bahkan di negara tempatnya tinggal satu dekade terakhir, dimana sosok rupawan bukan barang langka, kegagahannya mampu membuat wanita Kaukasia bahkan juga para lelaki menoleh kagum.
Tapi saat ini, di hadapan pemuda yang tersenyum konyol hampir mirip dengan Tokoh Joker dalam serial Batman itu , Wira merasa daya tariknya sama sekali tak berpengaruh.
Tinggi pemuda itu hampir setara dengan Wira. Katakanlah tingginya sekitar 182 sentimeter, maka mungkin dia hanya sekitar lima senti di bawahnya. Perawakannya kurus meski jenjang semampai. Kulitnya putih bak lobak; pucat, nyaris tanpa rona. Wajahnya terlihat mulus untuk ukuran laki-laki, tanpa noda. Tulang hidungnya kecil dan lancip. Sepasang alis hitam yang rapi dan tampak menukik menaungi mata phoenix khas Asia Timur. Warna muda di bibirnya menjadi daya tarik tersendiri.
Wira tak mau mengakuinya tapi sedikit banyak ia merasa tersaingi dengan paras pemuda itu.
YOU ARE READING
PERISAI HATI
AdventureBila kau pernah bertemu dengan Fusena, kau akan mengerti mengapa Mahawira jatuh cinta padanya. (Cerita selesai pada juni 2020, dan direvisi pada 2025, garis plot masih sama, tapi penulisan dan isi cerita per bab ada yang diubah untuk perbaikan dan...
