PROLOG.

58 1 0
                                        

"Mau kemana pagi-pagi sekali? Kau harus sarapan dulu!" suara itu berasal dari wanita yang usianya sudah setengah abad lebih—sedang menata meja makan yang sebentar lagi akan digunakan untuk acara sarapan pagi bersama keluarganya.

"Aku janji hanya jogging mah," ucap gadis itu tanpa memperdulikan tatapan tajam wanita yang dipanggilnya dengan sebutan mamah.

"Tapi Jo-"

"Biarkan saja dia pergi. Lagi pula umurnya sudah tujuh belas tahun," ayah dari gadis itu membela dirinya. Memberikan kepercayaan penuh terhadap putri semata wayangnya.

Gadis itu tersenyum melewati pintu rumah dengan senyum kecil. Kakinya perlahan menuruni anak tangga yang membeku karena salju di bulan Desember. Lima hari lagi natal dan hadiah yang diinginkannya adalah sebuah pistol jangka pendek. Tapi tidak mungkin Jo meminta hal itu pada orangtuanya. Hadiah itu akan menimbulkan banyak pertanyaan.

Kakinya berlari kecil disepanjang jalan aspal yang sudah dipenuhi salju. Jalanan sangat sepi hanya beberapa mobil yang lewat. Pohon-pohon tinggi disampingnya diselimuti oleh banyak salju. Beberapa butir sudah turun ketanah dan bergabung dengan salju lainnya.

Bukk

Awhh

Dia jatuh tersungkur. Jidatnya mencium batu yang tersamarkan oleh salju. Tangan pucatnya memegangi kepala depannya yang terasa hancur. Jo pikir kepalanya baru saja mengeluarkan darah tapi batu yang ditutupi salju itu tidak dipenuhi noda sama sekali. Buru-buru dia bangun dari acara jatuhnya yang memalukan dan melanjutkan lari paginya. Untungnya tidak ada orang yang keluar saat salju sedang tebal-tebalnya sehingga tidak ada yang melihat kejadian tadi. Tentu saja. Orang gila mana yang mau keluar rumah saat salju sedang merajai jalanan aspal? Mereka memilih diam dirumah dengan segelas eggnog didepan perapian.

Kini tubuhnya sudah berhenti tepat didepan toko yang dipenuhi oleh lampu dan hiasa natal yang dominan merah. Jo mendorong pintu  yang menimbul suara lonceng. Pria dibalik meja mengintip dibalik korannya. Memeriksa siapa yang datang ke tokonya sepagi ini.

"oh kau lagi," pria itu sudah tau gadis itu. Tangan keriputnya mencari-cari botol brandy kecil yang biasa dipesan oleh gadis itu.

Tangannya mengetik diatas mesin kasir, "kau tidak ingin ukuran besar?"

Jo menggeleng, "aku tidak ingin kecanduan,"

Pria itu tertawa setelah mendengar jawaban dari gadis itu, "kau kesini empat kali dalam seminggu,"

Jo tidak memperdulikan kata-kata ejekannya. Mengapa kakek jelek itu peduli? Tidak cukupkah uang yang didapat untuk tidak mencampuri urusan orang lain.

Setelah membayar dan menerima barangnya, tanpa ucapan terimakasih Jo melangkah gontai menju pintu keluar.

"Kau beruntung tidak kuadukan pada John."

***

Mata hitamnya menatap cairan kecoklatan yang ada didalam botol kecil didepannya. Cairan itu seakan memanggil namanya. Seperti sex yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Dia memalingkan wajahnya. Berusaha menolak botol kelimanya selama seminggu ini. Ini sudah diluar kendaliku. Batinnya menjerit.

Setelah cukup lama Jo menatap botol itu. Lagi dan lagi dia selalu kalah. Pada akhirnya menikmati cairan hangat yang membanjiri tenggorokannya.

TBC...





Hai readers makasih banyak bagi kalian yang sudah mau meluangkan waktunya untuk baca cerita whisper. See you on next chapter :)

2 FEB 2020

WHISPER.Where stories live. Discover now