Prolog

212 7 3
                                        

"Karena Luka dan Kenangan meminta tempat serupa, sama-sama memaksa dikenang dan tidak ingin dilupakan."

_Khanza_

Suara lonceng pintu bergerak menandakan seseorang masuk ke dalam. Dengan langkah malasnya Khanza tersenyum m, menyapa. Sebuah keharusan yang akan selalu dia paksakan. Tersenyum meskipun bibirnya enggan.

Beginilah tuntutan menjadi seorang karyawan. Hanya bisa menuruti tanpa bisa menolak.

"Selamat pagi!" sapanya. Seluruh pria sangat menyukai sapaan manis dari Khanza. Bagaimana bibir itu melengkuh indah membuat wajah putih mulusnya terlihat sangat sempurna.

Tanpa mereka semua sadari, kesempurnaan hanyalah fana. Dan Khanza tidak dalam pendeskripsian seperti itu.

"Hai, cantik!"

Satu pelanggan yang ingin sekali Khanza lap mulutnya dengan celemek dapur adalah Arkana. Sosok manusia menyebalkan yang selalu saja coba menggodanya dengan kiasan kata menyebalkan andalannya. Namun sekali lagi Arkana memiliki uang, dan Khanza harus tetap terlihat sopan. Mau tak mau ia harus tersenyum. Andai saja senyum itu bisa dicampuri racun serangga, dengan senang hati Khanza akan meracuni Arkana sekarang juga.

"Za! Temani hayo," pinta Arkana.

Khanza mengetatkan keseluruhan giginya sebelum membuka suara. "Maaf, Pak. Di sini saya hanya melayani pesanan. Bukan permintaan pribadi," ketus Khanza yang menyebabkan tiga teman Arkana terbahak.

Bukan tidak mengerti maksud terselubung dari sikap Arkana selama ini terhadapnya. Khanza tahu, Arkana mencoba mendorong diri untuk menembus batas kebekuaannya. Laki-laki itu terus mendobrak dinding pembatas kesabarannya. Khanza masih dengan segala kekuatannya tentu tidak semudah itu membukanya.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya menjalin hubungan bersama mantannya. Bagaimana ia dikecewakan oleh fakta perselingkuhan membuat Khanza agak sedikit trauma untuk kembali membangun percayanya. Padahal selama dua puluh lima tahun hidupnya, Khanza hanya pernah memberi ruang untuk tiga laki-laki saja. Pertama Irham, mantannya saat berada di bangku SMP. Fajri, mantannya di SMA selama setahun. Dan terakhir Adrian, mantan tersialan yang pernah dikenal Khanza selama hidupnya.

Mengingat nama Adrian rasanya Khanza ingin pergi ke dukun santet.

Gimana dia tidak sampe menyimpan dendam. Laki-laki itu memutuskannya begitu saja setelah lima tahun mereka berjuang bersama. Khanza pikir dia bisa percaya akan adanya jarak terjeda, tapi dia lupa. Terlalu percaya adalah sebuah kebodohan manusia.

Hal yang tidak pernah dia duga. Satu minggu setelah dia diputuskan. Ia mendengar kabar Adrian menikah dengan wanita lain. Jangan berpikir jika pernikahan itu karena perjodohan seperti di kebanyakan novel. Tidak. Tidak sama sekali. Adrian menikahi wanita itu karena sedang hamil. Kalau tidak, mungkin wanita itu akan dibuang.

Beruntungnya Khanza tidak pernah diapa-apakan oleh mantan sialan itu. Setidaknya dia lega dan tahu kalau dibalik sikap pendiamnya, cowok itu bagai serigala berbulu domba.

Ah. Apasih? Kenapa pikirannya jadi ngelantur gini.

Khanza mengibas-ngibaskan tangannya ke kepala. Seakan semua yang tengah dia pikirkan barusan ada melayang-layang di atas kepalanya.

Dan Aku, akan Kembali MemulaiStories to obsess over. Discover now