Prologue

30 11 7
                                        


Holla... This is the best day ever,
Akhirnya aku bisa kembali lagi sama dunia orange,
Dulu aku pernah bikin akun Wp tahun 2016, udah bikin cerita juga. Itupun cerita Fanfic grgr boyband korea gtu 😂. Tapi sekarang ganti akun pengen coba yang baru. Semoga kalian suka!!

Happy reading guys, Maaf masih kaku ❤

____

December.

"Lo masih mikirin dia,??" Audy mendekatkan kursinya lalu menatapku dengan serius menunggu jawabanku.

Jeda memeluk keadaan. Aku masih menatap sayu rintik hujan dibalik jendela kaca ini. Dingin berhasil menelisik menembus pori-pori kulitku. "Banyak kenangan yang nggak ingin gue hapus dy, kadang ada beberapa kenangan yang sengaja gue simpen. Karena gue pikir, dengan membiarkannya lebih baik daripada memaksanya buat dilupain karena semua ini hanya perihal waktu. Gue sendiri bahkan gabisa mastiin. Disisi lain gue bisa tersenyum dan menangis sekaligus dalam satu waktu. Tapi tenang aja gue menikmatinya kok," entahlah aku merasa masih ada yang mengganjal akan hal ini. Karena sejak saat itu, aku membiarkan kenangan itu terukir di sudut hati dengan goresan-goresan air mata.

Masih ingat, 12 Desember. Satu hari sebelum Anniversary ke tiga tahun. Empat hari sebelum hari ulang tahunku. Dia memutuskan secara sepihak untuk berhenti mencintaiku. Berhenti memperjuangkanku. Berhenti merindukanku. Berhenti merajut serpihan-serpihan  kenangan indah bersama. Di hari itu aku merasa semesta berhenti peduli terhadapku. Langit seakan runtuh.

Seolah selama ini aku tak berarti untuknya. Dia berani mengambil keputusan yang sama sekali tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Meninggalkan dengan sejuta luka dan tanda tanya. Tak cukup dengan pernyataan egois itu. Dia bahkan memutuskanku lewat sehelai kertas kraft kusut yang saat ini kugenggam. Sedih?? Tentu. Sakit?? Jangan ditanya.

Ini bukan seberapa lama kami bersama. Seberapa dekat kami berdua. Tapi tentang harapan, tentang hal-hal indah yang tak bisa lagi kulakukan bersama. Semua impian hilang sudah, tak ada lagi yang harus diperjuangkan. Dia telah pergi yang bahkan semua baru dimulai. Kini semua kisah indah itu telah usai sebelum semua benar-benar selesai. Dan sejak saat itu detik itu pula, semua cerita telah berubah menjadi kenangan.

"Emang bener ya kata orang, kadang orang yang bikin seseorang sakit hati itu kebanyakan orang yang dia sayangi. Gue si ngga tau, karena gue nggak pernah ngalamin. Tapi gue pengen nanya deh sama lo, elo sebenernya udah move on apa belum??", pertanyaan yang selalu aku hindari. Bukan berarti aku belum move on. Aku bisa menerima kenyataan bahwa setiap hubungan tidak selamanya berakhir baik seperti hubunganku dengan dia. Hanya saja ada hal yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata dan aku juga belum yakin dengan peraaaanku sendiri tentang apa yang sebenarnya aku rasakan.

Aku menghela nafas panjang lalu menatap Audy," Menurut elo?". Aku tau jawaban ini ngga akan memuaskan siapapun yang bertanya tentang hal ini. Tapi aku merasa, cukup aku yang tahu akan hal ini. Karena akupun ngga bisa mempercayai hatiku sendiri dan kadang perasaan bisa berubah suatu waktu.

Aku pernah bermimpi tentang seorang lelaki yang mengajakku berlari di sebuah taman indah yang luas. Disana tak ada bunga ataupun pepohonan, yang kulihat hanya rerumputan hijau yang subur. Aku tak bisa melihat wajahnya, tiba-tiba dia datang lalu menggenggam dan menarik tanganku. Aku hanya diam saja mengikuti langkah kakinya.

Aku tak bisa merasakan apapun dan mengatakan apapun. Aku hanya bisa terus berlari mengikuti arah lelaki itu membawaku. Dalam pelarian itu entah mengapa aku merasa bahagia, seakan aku terbawa terbang mengelilingi istana. "Apa kau tau hal yang paling indah didunia ini," Ucapnya lembut sembari terus berlari pelan.

Aku tak menjawab, entahlah. Seharusnya aku menjawab, "Apa itu" atau hal lainnya. Tapi aku hanya bisa memandangi punggung lelaki itu dan terus berlari.

"Sesuatu yang bisa mengalahkan indahnya pelangi yang muncul setelah hujan, yang hanya muncul sesaat dan ngga tau kapan datang lagi. Sesuatu yang bisa mengalahkan indahnya bunga bermekaran yang bisa layu dan mati. Sesuatu yang bisa mengalahkan indahnya matahari terbit yang terbenam disore hari." Lelaki itu lalu menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tanganku di tengah hamparan taman yang luas dan hijau.

"Yang paling indah di dunia ini adalah saat aku melihat senyummu, kau tau kenapa,?" Lelaki itu perlahan berjalan menjauh tanpa melihatku dan meninggalkanku tanpa melanjutkan ucapannya. Aku hanya terdiam membiarkannya pergi begitu saja. Saat jarak sudah memisahkanku jauh, di depan sana tiba-tiba dia membalikkan badannya, saat itu juga hempasan angin menyelimuti langkah yang terpaut.

Mataku memerjap terkena hempasan angin, aku bisa melihat senyumnya yang indah terukir di wajah yang tampan itu. Entah siapa, aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Namun aku yakin sebelum dia kembali berlalu, saat itu dia mengatakan bahwa dia akan kembali dan menceritakan alasannya.

Aku tau mimpi hanya bunga tidur. Dan tidak bisa dikatakan bahwa mimpi itu bisa dikaitkan dengan dunia nyata. Aku hanya ingin, andai kenyataan bisa seindah dalam mimpi. Aku hanya akan memilih untuk tidur dan bermimpi sepanjang hari.

Dan andai aku bisa bertemu denganmu, entah siapapun kamu yang menyukai senyumku. Aku akan selalu memberikan senyum terindah untukmu agar kamu bisa menggenggam tanganku kembali.

Tbc....

_____

Thankyou untuk kalian yang nyempetin baca cerita aku
Jangan lupa kritik dan sarannya :)

Rongga langit, Kam 11 Juni 2020
Salam, penikmat langit malam

December Stories to obsess over. Discover now