Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan sudah waktunya seluruh siswa pulang. Seiringan dengan suara bel, sang guru yang sedang mengisi kelas menyampaikan pesan serta tugas yang harus dikumpulkan minggu depan.
Di meja paling belakang, terlihat seorang gadis yang tampak tertidur, hingga teman sebangkunya membangunkan.
"Bangun Girl, udah mau pulang nih" tegurnya dengan menepuk nepuk pipi gadis itu. Dan akhirnya dia terbangun.
Gadis itu kemudian membereskan buku dan peralatan tulis yang ada di mejanya, tampak sesekali menguap dan mengusap wajahnya. Lalu ia berjalan perlahan keluar dari tempat duduknya, tatapannya kosong, wajahnya pucat pasi, pandangannya mulai meremang, tubuhnya mulai melemah. Tiba-tiba..
Bruk!!
Tubuh gadis itu terjatuh di lantai. Serentak, teman-teman disekitarnya berteriak!
"Thanaaaaaaa!!!"
Orang-orang mulai mendekat. Yang terdengar oleh gadis itu hanyalan suara bising teman-temannya yang memanggil manggil namanya. Goncangan, tepukan masih ia rasakan beberapa detik, hingga semua menjadi gelap, dan suara tak terdengar lagi. Gadis itu tak sadarkan diri.
***
Thana Agatha, orang-orang biasa memanggilnya "Thana", gadis berusia 16 tahun yang memiliki paras cantik, serta otak yang cerdas. Tinggi badan 161 cm dengan berat 47 kg cukup kurus untuk anak setinggi itu. Berkulit putih, rambut panjang lurus terurai, hidung tidak terlalu mancung membuatnya terlihat sangat imut, alisnya terukir rapi menambah kesan manis pada parasnya, dan matanya berpupil besar memberi kesan tampak seperti boneka, bulu matanya lentik menghiasi, dan yang paling menarik adalah senyumannya, bibir tipis melengkung dengan satu gingsul terlihat di bagian kiri, serta satu lesung pipi kecil di pinggir kanan bibir. Sungguh, definisi cantik yang sempurna.
Thana adalah sosok periang dimata teman-temannya, gadis yang anggun dengan banyak keahlian yang dimilikinya. Seringkali ia menjadi perwakilan lomba untuk sekolahnya, dan ia sudah berprestasi sejak Sekolah Dasar. Dan sampai menginjak Sekolah Menengah Atas pun ia masih menjadi langganan untuk menjadi perwakilan sekolah dalam berbagai olimpiade, baik itu di bidang Sains, Matematika, Kimia, dan bidang-bidang lainnya. Teman laki-lakinya sering menyebut Thana sebagai "Istri idaman" dan kerap kali mereka menggoda Thana dengan kata-kata yang menggelikan telinga. Thana tidak suka itu, ia bahkan tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Mungkin hobinya adalah menolak laki-laki, sekalipun laki-laki yang mendekatinya sangat tampan ia tak pernah tergoda untuk sekedar menerima ajakan lelaki itu makan siang bersama. Selain "Istri Idaman" Thana juga sering di panggil "Cewek mahal berkualitas" lagi-lagi keisengan yang sangat ia benci.
Thana adalah anak tunggal, orang tuanya sibuk bekerja. Dan setiap hari, ia hanya ditemani oleh Mbak Susi, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumahnya. Rumah yang sangat luas hanya dihuni oleh kedua orang tua Thana, Thana, Mbak Susi, Pak Mujiono (petugas kebun), dan Pak Dodi, supir pribadi Thana. Orangtuanya adalah pemilik perusahaan properti besar di Jakarta, dan sudah memiliki 7 cabang yang tersebar di Indonesia dan Singapura. Bayangkan betapa kayanya keluarga Thana, namun sepertinya, kekayaan bukanlah sumber dari kebahagiaan. Kalaulah uang bisa menjadi sumber kebahagiaan, maka pasti, Thana adalah anak yang paling bahagia.
***
Seseorang membawa tubuh gadis lemah itu ke ruang UKS. Dibaringkannya gadis itu di atas kasur berwarna putih, dirapikan rambutnya, kemudian ditinggalkan terbaring sendirian. Kemudian datang teman baiknya yang biasa disapa "Nunu" dengan wajah yang terlihat sangat jelas cemasnya, Nunu datang membawa secangkir teh manis hangat, dan disimpannya teh itu di meja dekat Thana terbaring. Gadis itu belum juga sadarkan diri, hingga petugas kesehatan datang dan memeriksa keadaan Thana. Dibuka kelopak matanya satu persatu, kemudian diperiksa detak jantungnya. Tak ada yg serius menurut petugas kesehatan tersebut, Thana hanya kelelahan dan kekurangan energi.
"Sebentar lagi pasti Thana sadarkan diri, kamu tenang saja Nu" ucap petugas kesehatan sambil mengelus lengan Nunu.
Lalu petugas tersebut meminta Nunu untuk mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Thana, serta mengoleskannya di pinggir-pinggir keningnya, petugas itu bergegas keluar ruangan. Tak butuh waktu lama, Thana membuka matanya perlahan dan segera Nunu memberinya minum.
"Na, kamu gak papa? Apa yg kerasa? Pusing? Mual? Atau sakit kaki?" cemasnya Nunu terdengar lucu, sampai sampai Thana terkekeh dibuatnya.
"Apa sih Nu, aku gak papa kok, gak sakit kaki juga haha, mana ada orang sampe pingsan cuman gegara sakit kaki? Tapi mungkin aja sih, tapi tapi... Aku gak sakit kaki Nu. Cuman pusing aja dikiiiiitt banget" terang Thana sambil menggerakan jarinya mengisyaratkan kata sedikit.
"Yah, Syukur deh Na kalo kamu gak papa, nanti pulang bareng aku aja ya, aku anterin" sambung Nunu
"Gak usah Nurul Meutiaaaaaaa, palingan juga bentar lagi Pak Dodi ngabarin kalo udah di depan"
Mulut Nunu jadi sedikit cemberut mendengar jawaban teman baiknya. Lalu terdengar bunyi Hand Phone bergetar di dalam tas Thana.
"Tuh kan bener, itu pasti Pak Dodi, maaf nu siniin tasnya" Nunu memberikan tas kulit berwarna hitam kepada Thana.
"Lah kok, Mbak Susi sih Nu? Hallo, kenapa Mbak?.... Seriusan deh Mbak, mama kenapa? "
Selang beberapa detik, pandangan Thana kembali kosong, menurunkan hp dari telinganya, kemudian di genggam diatas pahanya. Air mata terlihat menggenang di pelupuk matanya, nanar.
"Naaaa, kamu kenapa?" tanya Nunu heran.
"Mama Nu, mama..." lalu tangis Thana pecah seketika, sedangkan Nunu hanya bisa menenangkan Thana dengan memeluknya erat.
"Yang sabar ya Na, ayo lebih baik sekarang kamu ikut aku, aku antar kamu pulang yaa" ucap Nunu yang sepertinya sudah mengerti dengan duka yang kerap kali dirasakan Thana.
Rasanya, ujian demi ujian tak henti menyapa kehidupan gadis malang itu. Bukan uang yang dia inginkan, bukan pula fasilitas mewah. Akan tetapi kebahagiaan dalam hidup, ketenangan, dan kenyamanan. Rasanya percuma jika banyak harta tapi hidup tak bahagia. Ingin rasanya Thana seperti anak-anak sebaya yang sering ia lihat disekelilingnya, yang setiap jam pulang sekolah menunggu orang tuanya datang menjemput, bukan oleh supir pribadi, tak apa rasanya jika hanya dengan kendaraan roda dua yang sederhana, mencium tangan ayahnya, lalu dipakaikan helm di kepalanya, bahagia, pikir Thana. Sedang ia, setiap hari duduk di dalam mobil mewah, tidak terkena panas sinar matahari, tidak pula dapat mencium tangan laki-laki yang menjadi pahlawan di hidupnya. Keadaan hatinya tak seindah fasilitas pemberian orang tuanya. Rasanya hati Thana sudah sangat lelah dengan semua penderitaan yang menyiksanya. Tangisnya tak kunjung henti, pikirannya melayang kemana-mana, rasa sedih, marah, lelah, berpadu satu menghancurkan alur putih didalam hatinya, lalu berubah menjadi hitam pekat yang tak bisa digambarkan. Sangat sakit, takut kehilangan, ingin bahagia.
"Tuhaaaan, izinkan aku bahagia.. Sekaliii saja"
***Bersambung***
******************
Oke, itulah kisah sapaan pertama Thana Aghata. Nantikan kelanjutan ceritanya, dan jangan lupa vote yaaaa😉
YOU ARE READING
Thana Agatha
Teen FictionDirumahnya, sudah tak lagi ada kasih sayang, rumah bak neraka menurutnya. Tangisan, kesedihan, rasa sakit, kian hari kian menjadi. Seorang anak perempuan, tidak selayaknya diperlakukan seperti itu. Bagaikan merindukan pegangan tapi tangan lemah geme...
