HARI 23 JANUARI
Solat dzuhur baru selesai dilaksanakan di musola AKTV. Sejak pukul sebelas siang aku sudah meninggalkan rumah menuju kantor. Tiba di kantor tidak ada yang dikerjakan selain merokok sisa malam kemarin yang tersisa tinggal dua batang. Kini aku sedang duduk di kursi yang ada di lantai I tempat yang digunakan sebagai warung.
Tidak banyak barang yang harus dikirim, karena kabar dari Mia, baru satu pemesan yang sudah deal untuk dikirimkan barangnya. Alamat pemesan ada di Gg.H.sirad RT.04/03, Cicaheum, Bandung. Atasnama Ema Piah.
Barang belum dikirimkan karena menunggu barangkali masih ada yang pesan di hari ini. Rencananya paling lambat pukul empat belas aku baru akan berangkat mengirim barang ke Cicaheum. Kendati pun satu barang pesanan yang akan diantar, setidaknya pulang ke rumah nanti aku bisa membawa hasil ikhtiar untuk nafkah istri.
Sewaktu tiba di kantor, siang tadi, aku langsung ke ruang redaksi untuk mengecek komputer yang rencananya akan aku gunakan untuk membuat karangan selama ada waktu di sela-sela pengiriman barang. Aku cek namun banyak pegawai yang sedang bekerja akhirnya aku memilih kembali ke depan kantor, duduk di meja bundar yang ada sambil menghisap rokok.
Tak lama lagi aku hendak melakukan perjalanan menuju Cicaheum. Namun nampaknya aku akan merokok lebih dulu karena satu bungkus rokok sudah aku beli dengan meminta anak PKL yang membelikannya ke warung karena aku sendiri sedang mencatat. Sekarang waktu menunjukkan pukul 13.43 WIB.
Hujan lebat turun otomatis aku harus berteduh. Kini aku berada di Jalan Suci samping Pasar Tradisional berteduh dari lebatnya hujan yang turun. Genangan air terlihat di ruas jalan, menandakan hujan yang tak bisa aku hadang. Apalagi barang pesanan belum terkirim.
Hujan mulai turun sewaktu aku sedang melajukan roda dua di Jalan Pasopati, turuna ke arah Gedung Sate. Dikira hujan tak akan lebat makanya aku terus mengemudikan roda dua. Seandainya tahu akan sangat lebat, tentu aku akan mampir ke Sangkar Babon di Kawasan Dipatiukur.
Beruntung ada tempat berteduh, kendaraan aku parkirkan di trotoar jalan, sementara aku duduk di bangku tempat jualan yang menggunakan tenda. Namun tidak ada yang berjualan karena lapaknya kosong dari barang dagangan. Hujan semakin lebat, petir pun sesekali menggelegar, perjalanan pengiriman barang tentu terkendala.
Maksud tiba ke lokasi dengan cepat, namun tidak kesampaian. Begitu pun niatan kembali ke kantor lebih awal, tentu terhambat. Aku tunggu hujan hingga reda karena tidak mungkin mengirim barang dalam keadaan basah kuyup. Sekarang waktu menunjukkan pukul 14.43 WIB.
Hujan turun lagi malam ini. Aku sudah berada di kamar sedang bersiap untuk istirahat. Sebelumnya aku berada di Kobong menemani Bagus sekalian menerima setoran dari dua jalur, yakni Bagus dan Reza. Setoran Reza disetor melalui Bagus.
Bagus menyetor sebesar 60.000. Reza sebesar 96.000. Mama menyetor sebesar 460.000. Sementara Keling tidak memberikan setoran karena aku terlambat menarik setoran ke tempat Keling Berjualan.
Hujan yang melanda sore sewaktu mengirim barang, membuat aku tak bisa cepat kembali ke Cimahi. Hujan mulai reda sekitar setengah empat sore. Aku lajukan kendaraan dengan pelan menuju rumah pemesan. Khawatir jalanan licin bisa mengakibatkan kecelakaan dalam mengemudi.
Tiba di Gang H. Sirad, aku bertanya kepada warga setempat mengenai nama pemesan. Ternyata tak sulit dicari. Rumahnya ada di dalam gang kecil, sehingga sangat sulit aku memutar kendaraan.
Urusan pengiriman selesai, aku lajukan kendaraan menuju Cimahi dengan maksud menarik setoran kepada Keling. Namun setibanya di depan Bank BRI Cabang Cimahi, ternyata Keling sudah bergeser ke tempat lain yang biasa dijadikan tempat berjualan. Lelah hati terasa karena ada pendapatan yang tidak terakomodir.
Akhirnya aku putuskan ke kantor menyetor uang hasil pengiriman barang. Sebesar 60.000 aku dapatkan untuk diberikan kepada istri dari hasil pengiriman barang pada hari ini. Esok pagi rute pengiriman sudah ada yakni ke Antapani.
Aku tidak langsung pulang setelah menyetor uang karena memilih menuju ruang redaksi untuk membuat karang dari bahan catatan. Baru empat lembar bisa aku hasilkan, targetnya adalah ratusan lembar. Semoga tercapai menghasilkan buku pada tahun ini.
Setelah isya aku tak langsung pulang karena Dani sedang ingin berdiskusi. Akhirnya aku urungkan dulu niatan pulang karena harus berbagi cerita kepada Dani mengenai Akal, Hati, dan Perasaan. Merasa cukup berbincang aku pamit pulang.
Berangkat dari kantor setengah sembilan malam, tiba sembilan malam lebih lima belas. Bagus sudah menunggu di Kobong, maka aku masukkan kendaraan ke dalam rumah, lalu sejenak masuk ke dalam kamar sekalian mengecek keadaan istri.
Setelah sepintas menyapa istri dengan menenteng buku laporan keuangan, aku menemui Bagus di Kobong. Bagus masih di Kobong, meski aku tinggalkan dia. Hujan masih turun sehingga ia masih bertahan. Sekarang waktu menunjukkan pukul 23.13 WIB.
*semoga berkenan membaca catatan harian 23 Januari 2020 yang dipublikasikan
