It Ain't Me

673 47 3
                                        

Jaehyun

Entah sudah berapa kali kami bertengkar, tepat dihari yang hampir tengah malam. Tepat saat aku baru sampai di rumah, tepat saat aku baru saja ingin melepas lelah. Ia selalu memulai pertengkaran, dengan alasan yang tidak masuk akal.

Dia dan segala kecemburuannya yang membabi buta, aku dengan segala egoku yang bersikukuh. Selalu seperti itu, sejak 2 bulan lalu. Aku mulai muak, sepertinya ia pun sama begitu.

Doyoung

Aku tidak tahu kemana perginya kehangatan yang dulu pernah tercipta di ruangan ini, tempat yang menjadi saksi bisu bahwa kami pernah saling berpelukan, bercerita hingga larut malam, meski kadang hanya aku yang berbicara, sedang ia hanya mendengarkan.

Namun entah mengapa dinding kamar kami berubah dingin, ranjang yang biasa kita tempati juga terlihat melonggar. Kehangatannya menghilang, digantikan dengan kehampaan yang kami ciptakan sendiri, lewat pertengkaran.

Aku dengan segala ketakutanku kehilanganmu, dan kamu dengan segala sikap tak acuhmu.

Jaehyun

"Kita sudah tidak sejalan, lebih baik kita berpisah." aku tak menyangka aku mengucapkan kata-kata itu. Lima tahun bersama, hanya kata-kata cinta yang selalu aku gumamkan, namun hari ini aku memutuskan.

"Hiks... Kenapa? Kau sudah menemukan penggantiku kan di luar sana? Itu alasannya kenapa kau selalu pulang larut malam! Iya kan? Jawab aku!" Ia berteriak, selalu seperti ini. Kami sudah tidak bisa lagi duduk berhadapan dan bercengkrama dengan segelas cokelat hangat di tangan. Hanya ada teriakannya dan pembelaanku atau isakan tangisnya dan deru nafasku yang memburu, menahan amarah.

"Demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan. Aku sibuk, perusahanku mengalami masalah beberapa bulan ini. Denganmu yang selalu menuduhku tiap aku sampai rumah tidak membantuku sama sekali, kau membuatku semakin sulit." Aku membalas, nada suaraku meninggi.

Mungkin sekarang memang waktunya untuk menyudahi apa yang seharusnya tak lagi berjalan bersama, aku tidak ingin membuatnya terluka lebih lama.

Doyoung

Aku tertegun, ia meminta berpisah. Memang bukan sepenuhnya salahnya, aku yang terlalu banyak menuntut dikala ia sedang kalut. Dia tidak pernah berkata sekeras ini padaku, ia selalu lembut, dan aku selalu suka.

Aku bersikukuh tidak mau, bagaimana bisa aku berjalan sendiri tanpa ada dia yang selalu ada di lima tahun terakhir ini? Bagaimana bisa aku bertahan jika separuh dariku menghilang?

"Aku merindukanmu. Tapi kau tidak pernah di sini lagi. Aku selalu ketakutan setiap kali kau pulang malam, tapi kau tidak ada saat aku butuh pelukanmu untuk menenangkan ku? Hiks... Tidakah aku penting untukmu? Kau berubah." Aku membalasnya, masih berusaha berargumentasi, mempertahankan egoku. Aku tidak ingin disalahkan sepenuhnya.

Jaehyun

"Kita memang benar-benar harus berpisah, aku menyakitimu. Kau pantas untuk dapat yang lebih baik." aku berkata lagi, kami sama-sama terdiam setelahnya.

Bukan aku tidak ingin bertahan, namun mata sembabnya yang selalu muncul di pagi sesaat kami bertengkar sudah cukup menjelaskan, aku tidak lagi membuatnya nyaman, aku tidak lagi membuatnya senang. Pasangan mana yang akan bahagia jika isi suara dalam rumahnya penuh dengan teriakan marah? Aku tahu ini pasti menyakitinya, biarlah untuk sekarang begini saja. Ia aku lepas untuk memilih jalannya sendiri.

Doyoung

"Kau tak perlu pergi, aku yang pindah dari sini?" Ia memasuki kamar kami setelahnya, aku hanya duduk diam mematung di ruang tamu apartment kami. Tidak lama ia keluar dengan koper besar, ia menghampiriku sebelum bibirnya menyentuh keningku lama. Air mataku melesak jatuh, karena sebentar lagi aku tidak akan utuh.

"Aku minta maaf, aku menyakitimu terlalu dalam. Kau berhak bahagia setelah ini, jangan menangis lagi. Aku mencintaimu dan akan selalu begitu."

Ia mulai melangkah keluar, aku ingin menahan namun hanya isakan yang terdengar. Ia menghilang di balik pintu, meninggalkan aku yang menangis terpaku.

Mungkin aku harus coba melepaskan apa yang selama ini aku pertahankan, aku harus mengikhlaskan apa yang selama ini berdampingan sudah tidak bisa lagi berjalan bersisian. Aku harus tetap berjalan, meski tanganku tidak lagi ia genggam.

Jaehyun

Aku sudah pergi, namun perasaanku tertinggal di sana. Ditiap sudut dinding apartment yang kami tinggali berdua. Rasa bersalahku semakin besar kala hujan turun dengan petir yang saling bersautan. Ia takut suara gemuruh dengan kilat yang menyambar, ia benci kita harus sendirian dikala hujan tengah malam. Ia selalu bilang dulu, aku harus selalu memeluknya kapanpun hujan datang. Maaf, Sayang, aku beringkar.

Doyoung

Hujan turun, tangisku semakin pecah. Aku takut, sedikit mataku melirik ke arah pintu. Berharap dia berlari padaku, memeluku erat dan mendekapku hangat. Membisikan kata-kata penenang untuk menghilangkan ketakutanku, seperti apa yang selalu ia lakukan dulu.

Belum ada semalam kau pergi, tapi aku sudah merasa mati.

Tiba-tiba ponselku bergetar, menampilkan pop up pesan darinya, aku membacanya perlahan, dan air mataku kembali keluar.

.
Fr : My Jaehyunie
To : Doyoungie

Who's gonna walk you through the dark side of the morning?

Kau selalu benci terbangun pukul empat pagi, kala hari masih gelap namun pagi sebentar lagi tampak, takut bertemu hantu katamu. Kau selalu percaya dengan cerita tidak masuk akan teman-temanmu. Mulai sekarang belajarlah berani, karena aku tidak bersamamu lagi.

Who's gonna rock you when the sun won't let you sleep?

Kau tidak suka tidurmu diganggu oleh sinar matahari, kau selalu merapat kepadaku jika sinarnya mulai menembus celah kamar kita. Sikap manjamu yang meminta pelukanku, dengan alasan agar sinar mataharinya terhalang. Mulai esok hari, pindahlah ke sisi ranjangku. Sinarnya tak akan menjangkaumu, tidurlah yang nyenyak. Karena aku tidak disana lagi untuk memastikan apa kau tidur dengan baik.

Who's waking up to drive you home when you drunk and all alone?

Kau selalu payah dalam hal pesta, tubuhmu selalu kalah bahkan hanya dengan dua gelas alkohol saja. Teman-temanmu selalu menelponku ketika kau mulai meracau dan aku selalu datang, untuk menjemputmu pulang. Kau lucu ketika mabuk, tertawa dan mengatakan kau mencintaiku berulang kali. Selalu itu yang kau ucapkan, lagi dan lagi. Mulai detik ini, jangan keluar untuk pergi minum. Karena aku tidak disana lagi untuk menjemputmu pulang dan memberikanmu kecupan.

Karena mulai sekarang, It ain't me who will take care of you. It ain't me who will hug you tight when the bolt crush down. It ain't me who will walk you home to make sure that you're safe. And after what had happened, you shouldn't love me as deep as before, I'm not the person you used to love again, I hurt you, I left some scars in your heart. Sorry for leaving, sorry for the pain that I caused. Live well, though it wasn't me who will silently kiss your head in the middle of the night, you have to be strong. I love you, I really am always do.

Me too, Jaehyun-ah.



End.

So, anyone knows the song?

This is suck I know huhuhu:( sebenarnya cerita ini saya buat tahun 2017 lalu waktu ngisi waktu luang nunggu pengumuman seleksi PTN. Awalnya juga cerita ini ditulis untuk couple favorite saya yang lain, tapi karena gak sempat saya publish jadi cuma kesimpan di folder aja. Dan karena saya juga sekarang sudah tidak ngehype couple tersebut as hard as before jadi saya ubah untuk Jaedo saja hehe. Saya butuh banget kritik buat tulisan saya, so if you have any please let me know^^

P L A Y L I S T [JAEDO]Stories to obsess over. Discover now