"Ta, dicariin di kantin,"
"Siapa, Cil?"
Cila hanya mengangkat bahu, tak menjawab apapun. Gita mengernyitkan dahinya, seperti bingung akan siapa yang tiba-tiba mencarinya di kantin sekolah. Secara, kantin sekolah biasa dipenuhi oleh cowok-cowok. Tak heran kalau para cewek suka bawa bekal dibanding harus belanja ke kantin. Gita seperti malas menemui panggilan dadakan itu. Ia tetap melanjutkan quiz matematika yang sedang ia kerjakan disela waktu istirahat. Gita memang dikenal sebagai anak rajin, pintar, dan sampai kelas 2 SMA ini pun ia hampir tidak pernah membuat kenakalan di sekolah. Hanya sekali, waktu ia tak membawa topi sekolah sewaktu upacara bendera Senin lalu.
"Ta, ke kantin. Kamu dari tadi dicariin," kini Amel yang menyampaikan pesan sama seperti yang disampaikan Cila tadi.
Gita bergegas menuju kantin. Agak kesal, tetapi penasaran. "Siapa sih yang nyariin di kantin? Yang perlu siapa, kok aku yang disuruh nyamperin," celetuknya dalam hati.
Sesampainya di kantin, Gita tidak menemukan sesiapa selain Bu Tin, ibu kantin yang jualannya selalu dikerumuni anak-anak, karena selain enak rasanya, harganya juga enak. Kadang suka diutangin sama anak laki-laki.
"Nak Gita, dicariin," kini Bu Tin yang ikut-ikutan.
"Siapa sih, Bu? Disini gak ada siapa-siapa selain kita,"
"Ada aku juga, Sagita."
Gita menengok ke sumber suara dan menemukan laki-laki yang selama ini jadi rivalnya di sekolah --juga ada di sana.
"Mau ngapain sih? Lo sengaja kan ganggu fokus gue biar gak bisa nyelesein quiz matematika yang dikasih kepala sekolah? Lo gak mau gue mewakili sekolah untuk olimpiade minggu depan, kan? Gue kan udah bilang..."
"Kalau mau bersaing yang sehat. Gitu, kan?" Leo menyambung omongan Gita, seolah tak pernah lupa kalimat yang sering diucapkan Gita padanya.
"Nanti pulang sekolah, aku tunggu kamu di perpustakaan,"
Leo berlalu begitu saja. Gita semakin bertanya-tanya untuk apa Leo mengajak ke perpustakaan sedang urusan di kantin saja belum selesai?
Leo memang dikenal sebagai laki-laki yang berprestasi. Meskipun sekarang ia menjabat sebagai ketua OSIS, tetapi nilai akademiknya selalu baik --bahkan terbaik. Sejak kelas 1 SMA, Leo dan Sagita memang menjadi kebanggaan sekolah. Mereka bergantian mewakili sekolah dalam berbagai olimpiade. Hanya saja, Sagita tidak begitu tertarik untuk ikut organisasi. Hari-hari Sagita sering diisi dengan les tambahan di luar sekolah, bahkan sekarang Gita juga dipercaya untuk mengajar Matematika di salah satu bimbel di dekat rumahnya. Sedangkan Leo, lebih suka menghabiskan waktunya untuk rapat sana sini. Pun, di luar sekolah ia juga dikenal akrab oleh pejabat organisasi non profit lainnya.
***
Hari sudah menunjukkan pukul tiga sore --sudah waktunya pulang. Bel sekolah pun sudah berbunyi tiga kali. Gita terlihat bersiap mengemas buku dan alat tulisnya.
"Pluk!" secarik kertas jatuh dari laci mejanya.
"Jangan lupa ke perpustakaan," begitu tulisan yang ada di kertas itu. Hanya satu kalimat itu saja.
Gita menghela nafas panjang. Tak habis pikir dengan kelakuan Leo. Apa sih maunya?
Gita berjalan menuju perpustakaan. Di sana, ia melihat Leo sedang asik belajar, buku-buku menumpuk di dekatnya.
"Mau apa, sih?"
"Boleh minta tolong selesaikan ini?" ucap Leo sembari memberikan sebuah soal matematika yang tampak tidak terlalu rumit.
Gita diam. Bingung kenapa Leo tiba-tiba minta tolong untuk menyelesaikan soal matematika padanya, tidak seperti biasanya.
9x-71 > 3(3x-7U)
Apa? Seorang Leo Septian nggak tahu soal semudah ini? Gita hanya bisa membatin.
Gita mengerjakan soal tersebut tanpa berkomentar sedikit pun, meski masih bingung kenapa Leo tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Namun, ketika mendapatkan jawabannya, Gita terkejut --diam.
Ia kembali mempertanyakan hal yang sudah diulang-ulang sejak tadi.
"Maksudnya apa, sih?!"
YOU ARE READING
Jarak
Teen Fiction🌻Tolong dukung karya sederhanaku dengan komentar membangun dan vote, ya. 🌻Hargai dengan tidak plagiat. 🌻Jangan lupa FOLLOW sebelum membaca. __________ Sejauh apa kilometer mampu menjarakkan dua hati, takkan berarti apa-apa ketika keduanya masi...
