■PART 1■

4 0 1
                                        

Mampus lah gua. Hanya itu yang terpikirkan oleh gadis yang sedang berlari menuju sekolah nya. Berlari sangat cepat hingga bertabrakan dengan pejalan kaki yang berlalu lalang menikmati pagi hari yang cerah ini.

Bahkan ada yang sampai meneriaki gadis itu karena tindakan nya yang tidak sopan itu. Namun yang bisa dia lakukan hanya lah berteriak meminta maaf sambil melanjutkan aksi lari nya. Sekarang bagi nya satu detik itu sangat lah berharga.

"Awassssss. Minggir dari jalan guaaa"

Brukkk

"Argh shit. Woyy jangan lari lu" memegang bahu ny yang habis terhantam tiang besi di sebelah nya. Sakit? Jelas saja. Ia seperti habis di dorong hewan buas saja padahal ia sedang menikmati jalan santai nya sambil mendengarkan musik di earphone nya. Sial. Hanya itu yang ia pikirkan karena keadaan ny sekarang ini

Ingin mengejar gadis itu tidak bisa. Karena kakinya juga mengalami sakit walapun tidak sesakit yang ia rasakan di bahu nya. Namun tetap saja kalau ia gunakan untuk berlari akan terasa sakitnya. Dan satu tujuan nya saat ini. Balas dendam tentunya yang menjadi tujuannya sekarang.

¤¤¤¤¤

"Cerli! Akhirnya lu dateng juga. Kemana aja sih lu? Sampai bisa telat gini. Beruntung lu guru belum dateng karena lagi rapat sebentar bahas ajaran baru buat kita kelas tiga"sahabat karib nya, Fiona. Yang tanpa basa basi langsung menghampiri sahabatnya.

Namun diluar dugaan Fiona adalah Cerli akan langsung menjawab pertanyaan yang di berikannya. Namun ternyata tidak.

Fiona melongo melihat Cerli melewatinya saja tanpa menjawab pertanyaannya. Karena hanya satu tujuannya. Duduk dan beristirahat. Tentu saja tidak akan nyaman untuk belajar dengan keadaan yang nafas saja butuh usaha setengah mati. Seragam yang penuh dengan peluh keringat. Dan kering. Karena ia belum minum dari tadi.

"Cer kok lu gak jawab sih" cercar fiona sambil mengikuti sahabatnya itu menuju tempat duduk nya.

"Fio! Lu bisa liat kan? Gua cape banget ampe ngos ngos an gini. Lu suguhin apa gitu ke gua bukannya malah di tanya gini. Sumpah gua cape banget. Pas istirahat aja gua jawabnya"Kesal. Tentu saja siapa yang tidak kesal. Di tanya seperti itu tapi keadaannya seperti ini

Bodo amat lah ama Fio yang penting gua tenang dulu. Pikir Cerli

Berbeda dengan Fio yang sudah misuh misuh tidak jelas lantaran pertanyaannya yang tidak di jawab. Ia hanya khawatir dengan sahabat satunya ini.

Takut terulang. Iya benar. Dia yang membayangkannya saja takut. Apa lagi sahabatnya itu yang mengalaminya.

Akhirnya semua itu pun terlewatkan karena hadir nya guru dengan seorang murid di belakangnya yang mengekori masuk ke kelas juga. Kelas pun yang tadi nya hening menjadi berisik penuh dengan orang yang berbisik bisik satu sama lain.

Kok gua kayak pernah liat orangnya. Batinnya. Namun tak mau memikirkannya lebih lama. Cerli pun hanya mengeluarkan pelajaran yang akan di pelajari nya nanti.

¤¤¤¤¤

"Gila, lu liat kan tadi cer. Ganteng banget anak baru nya. Ya Tuhannn. Gak kuat hamba"ujar fio yang penuh dengan semangat yang berapi-api.

"Iya tau gua dia ganteng, tapi lu bisa kan jangan sampe teriak gitu. Malu fi di liat sama yang lain. Please lah biasa aja"pesan cerli pelan.

Tentu saja. Gimana tidak. Hampir seluruh mata penjuru yang ada di kantin sudah melihat ke arah kami berdua.

"Sorry hehehehe. Suka semangat gua kalo liat yang ganteng gitu" ujar Fiona dengan khas cengiran nya kalo dia yang salah

Keadaan pun tenang karena ocehan fiona yang sudah selesai. Lagipula setiap fiona berbicara cerli hanya berdehem tentu saja itu mengundang kesal dari diri fiona karena respon sahabat nya itu

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama

Brakkkk!!

"Sialan" umpat Fiona. Uhukk.. sedangkan cerli sendiri tersedak akibat gebrakan meja makan nya yang membuat dia kaget seketika.

Tapi seketika fiona terdiam setelah melihat siapa pelaku nya. Kaget? Tentu saja. Anak baru yang masuk di kelas nya yang mengundang banyak tatapan wanita karena tampan nya yang rupawan datang menghampiri meja nya

Beda dengan cerli yang sudah selesai dengan urusan tersedak nya. Siap meledak kapan saja karena acara makan nya yang di ganggu

"Woy! Lu gak liat ada yang makan tadi? Hm? Gak punya mata atau gimana? Gak bisa pelan lu? Ha?!" Pelan dan dingin itu lah cerli. Ketika ia kesal. Ia akan bersikap seperti itu lagi pula karena semua orang di kantin melihat ke arah mereka. Mau tidak mau cerli menurunkan nada suara nya

"Untuk apa gua bersikap baik sama lu yang gak punya sopan santun" jelas adrian. Nama yang tertera di name tag seragam nya

"Sorry nih ya. Gua kenal lu aja gak. Tau lu siapa aja gak. Siapa lu yang bisa menilai gua seenak nya?" Tak mau kalah cerli pun membalas dengan nada sinis nya

"Gua orang yang lu tabrak pas tadi pagi. Dengan gampang nya lu lari lagi tanpa tanggung jawab. Hm?"

Damn it! Teriak cerli di batin nya.

"Kenapa diem aja? Udah inget?" Tanya adrian dengan penuh kemenangan

Seketika cerli langsung menarik tangan adrian menjauhi area kantin. Menyelesaikan masalah yang dibuat

Mencari tempat sepi di mana para siswa tidak berlalu lalang.

'Area belakang sekolah' pikir cerli. Hanya tempat itu yang terpikir kan

¤¤¤¤¤

"Kenapa lu bawa gua kesini?" Tanya adrian saat mereka sudah di lokasi

" Sumpahhh bangettt gua minta maaf yaa. Gua gak sengaja beneran deh. Itu karena gua telat. Kesiangan gua. Makanya gua buru buru. Sorrt banget kalo tadi pagi lu gua tabrak. Beneran gua minta maaf yaa" mohon cerli sambil menyatukan kedua tangannya. Bentuk tanda bahwa dia beneran minta maaf

"Enak aja. Bahu gua sakit. Dengan gampang nya lu minta maaf kayak gitu. Ada syarat nya. Baru gua maafin" kapan lagi ngerjain orang padahal baru masuk sekolah. Itu lah yang terbesit di pikiran adrian. Dengan segala rencana nakal nya terhadap cewe yang di depan nya

Tentu saja adrian yakin. Siapa saja pasti akan melakukan sebuah syarat kalo orang ity bersalah

Namun pupus sudah angan yang di bayangkan adrian saat mengerjai cewe itu

Saat cerli menolak nya

"Gak mau! Intinya gua udah minta maaf. Mau lu bilang ada syarat nya atau enggak. Gak peduli. Nyusahin aja. Mending balik kelas" pergi dari hadapan adrian setelah mengatakan itu

Sedangkan adrian kesal karena permintaannya di tolak. Ingin sekali menarik paksa cewe itu kembali kehadapan nya

Tapi apalah daya karena bel sekolah hanya bunyi. Memang nasib baik belum berpihak kepada nya

Namun suatu saat. Pasti. Bisa. Pikir adrian dengan senyum sinis nya.


Done
Vote

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 12, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

You Are MagicStories to obsess over. Discover now