1

1.8K 23 0
                                        

Namanya Sofyan, panjangannya Paris Sofyan Naim. Orang tuanya menyelipkan nama Paris dengan harapan putranya itu bisa sukses hingga go international, di mana Paris merupakan salah satu contoh negara maju yang layak disinggahi. Ia merupakan anak tunggal dan kini hanya memiliki seorang ibu yang tinggal di Nganjuk. Sementara dirinya tengah menempuh pendidikan tinggi di salah satu kampus negeri di Surabaya. Berkat ketekunannya selama sekolah, ia berhasil diterima di jurusan komunikasi melalui jalur rapor atau undangan. Selain itu, ia juga menerima beasiswa yang diperuntukkan bagi orang tidak mampu dari kementerian. Setidaknya ia dapat meringankan beban ibunya yang hanya bekerja sebagai petani.

"Woy, Haji Naim!"seru seorang cowok bertubuh mungil saat Sofyan tengah makan di kantin fakultas. Cowok itu adalah Julian, teman karibnya selama menempuh pendidikan sarjana tiga tahun ini. Ya, Sofyan sudah duduk di semester akhir dan saatnya fokus menyusun skripsi.

"Opo, Cuk?"balas Sofyan setelah meneguk habis kuah sotonya.

"Tumben makan di kantin? Kata lo kantin mahal tapi hambar?"

"Terpaksa, malas keluar kampus, sama aja buang bensin. Habis ini mau merpus lagi aku."

"Rajinnyaaa..."

"Lha kalau lulus telat beasiswaku nggak mau nanggung UKT lagi. Dapat duit dari mana aku? Kasihan Ibu, mana sekarang tani lagi susah."

"Ya bagus kalau gitu, jangan kaya gue."

"Lapo? Galau perkoro cewek lagi?"

"Gue nggak tahu mesti nyari Rara ke mana lagi..."

"Sini makan dulu saja, ntar lanjut nyari." Julian pun memesan nasi rames di kantin. Sementara Sofyan menghabiskan air esnya. Sayang, sudah dibayar masa ditinggal begitu saja?

Tiba-tiba suasana kantin berubah gaduh. Perhatian penghuni kantin pun berpusat ke satu titik, diiringi bisikan-bisikan penasaran. Begitu pula Julian yang batal memasukkan suapan kesekian ke mulutnya. Ia yang duduk menghadap pintu masuk kantin tengah terpana, sama seperti orang-orang yang lain.

"Cuk, mangan ojo ngelamun! Digoda setan nanti."tegur Sofyan. Cowok itu satu-satunya orang yang tidak teralihkan perhatiannya.

"Belakang lo, goblok!"

"Lapo goblok-goblokno aku? Goblok dewe kon!"

"Itu ada Sherry!" Sofyan malah mengernyit bingung. Tiba-tiba ada jari-jari lentik yang menyentuh bahunya. Sofyan pun menoleh heran. Seorang wanita cantik kini tengah memandangnya sambil tersenyum manis.

"Hai, Sher?"sapa Julian. Wanita bernama Sherry itu hanya tersenyum tipis. Sementara Sofyan memandang Sherry bingung. Ada urusan apa Sherry dengannya? Oh, mungkin Sherry punya urusan dengan Julian. Sebaiknya Sofyan tidak ikut campur. Ia memutuskan untuk kembali menyeruput air esnya.

Baru saja bibir Sofyan akan menempel ke sedotan, Sherry membalik wajahnya dan menempelkan bibirnya. Seisi kantin heboh, mereka mengerumuni meja Sofyan dan sibuk mengabadikan momen itu. Sementara Sofyan panik berusaha melepaskan diri, ia menepuk-nepuk tangan Sherry yang memegangi wajahnya. Tapi wanita itu malah lebih menempelkan bibirnya. Julian bukannya menolong malah ikut-ikutan mengambil gambar.

Setelah bibir mereka saling menempel cukup lama, Sherry pun melepaskannya. "Thanks, Babe. See yaa.." Sherry melangkah pergi dengan elegantnya. Meninggalkan sejumlah pertanyaan di benak para penghuni kantin.

"Anjir, hoki banget lo!"seru Julian girang.

"Hoki apanya? Dia mau bunuh aku atau gimana? Bekapnya kencang banget."tanggap Sofyan sambil terengah. Ia hampir kehabisan napas tadi.

"Lo dicium Sherry, bego!"

"Kenapa sama Sherry?"

"Lo tahu Sherry nggak sih?"

Soft BoyOnde histórias criam vida. Descubra agora