1

567 7 0
                                        

Aroma apel segar kembali membuat keinginan untuk menenggelamkan ujung hidungku kedalam helaian-helaian rambut cokelat gelap ini datang tanpa terduga.

Mata yang terasa semakin berat tertutup sejenak, sembari menghirup dalam-dalam aroma khas ini hatiku berdoa. Walaupun aku tahu, dengan segala kelakuan bejatku Tuhan tak mungkin sudi mengabulkan keinginanku yang satu ini.

Tapi, aku akan terus berdoa. Aku akan terus meminta semoga ; kebersamaan kami, dengan dia di sisiku, sebagai satu-satunya wanitaku akan kekal hingga malaikat kematian sendiri yang memisahkan sukma dari dalam tubuhku.

Merenggut dalamnya cinta yang tak akan bisa terukur ini dari dalam relung hatiku untuk dirinya.

Dan semogaㅡwalau aku tak pernah yakinㅡsuatu saat nanti, gadis yang tengah terlelap di dalam dekapanku ini sudi membagi sedikit saja cinta yang ia miliki untuk diriku.

Tepat di detik ini, tubuh mungil nan ramping dalam dekapan posesifku menggeliat pelan.

Entah terusik oleh ulah ujung hidungku di area tengkuk dan leher sampingnya atau ia merasa sedikit sesak akibat dekapanku yang terlampau erat.

" Belum tidur?......" Suara parau dan sedikit beratnya itu, mau tak mau membuatku merenggangkan pelukanku di sekeliling pinggang dan perut rampingnya.

Memberi ruang untuk dirinya berbalik menghadap tubuhku, lalu mata yang nampak memerah dan sayu itu menatapku dengan ekspresi yang teramat lucu.

Tangan kanannya dengan cekatan menaikkan selimut putih yang melorot sebatas pinggang.

Memberiku tenggat yang cukup, bahkan lebih dari cukup untuk menatapi tubuh atasnya yang polos tanpa sehelai benangpun menghalangi.

Aku, hampir tak bisa menahan senyum dengan tingkah kekanakannya yang satu ini.

Dia selalu melakukan hal ini lagi dan lagi bahkan ketika aku dan dia tahu betul, sebaik apapun ia mencoba menutupnya maka sebaik itu pula selimut itu akan enyah dari atas permukaan kulit putihnya.

" Mwo?" Terdengar sedikit gugup ketika tiga huruf tersebut lolos dari sela-sela bibir tipisnya.

Wajahnya yang baru saja kembali pada kondisi normal, lagi-lagi menjelaskan betapa ia masih malu di tatap olehku dalam keadaan tanpa busana seperti yang sudah-sudah.

Hey! ini bukan kali pertama untuk dia tampil polos begini di hadapanku. Mungkin sudah belasan, puluhan atau mungkin ratusan? entahlah~

Sebaik apapun aku mengingat, tak satupun syaraf di dalam otakku mengizinkan diriku mengingat sesering apa gadis dengan tinggi tubuh tak lebih dari 166 sentimeter ini tak berbusana ketika tubuh rampingnya menyentuh permukaan kasur.

Percaya atau tidak, selama tiga tahun aku melabelinya sebagai satu-satunya wanita di sisiku dengan sebuah ikatan pernikahan, tak sekalipun aku melewatkan tiap malam untuk tak menelanjanginya.

Ku persilahkan untuk mengira, lalu dengan senyum tersungging silahkan tertohok dengan jumlah yang akan kalian dapatkan di kurangi 'libur' ketika tamu bulanan isteriku ini datang setiap bulannya.

Aku tak punya niat untuk meladeninya berdebat. Toh, sehebat apapun kemampuannya dalam mendebatku pada akhirnya ia harus mengakui sampai kiamat sekalipun ia tak akan pernah bisa mengalahkanku. Dari segi apapun.

Umurnya baru menginjak angka dua puluh lima tahun sekarang. Tepatnya, sejak tiga hari yang lalu. Entah itu hari lahir atau hanya hari yang di sahkan sebagai hari jadinya, ia tak pernah tahu.

Karena ia sendiri juga tak pernah tahu, kapan persisnya ia hadir di dunia ini. Lahir dari rahim siapa, tampan atau tidakkah ayahnya atau segala tetek bengek tentang hal-hal sah semacam itu.

Dia, seorang yatim piatu. Di besarkan dan di didik oleh pengurus panti yang dengan suka rela membagi marga suaminya untuk gadis ini.

" Ahn Yuna......." Wajahnya yang memang sudah memerah sedari tadi bertambah merah dengan frekuensi di luar akal manusia, hanya karena lantunan nama lengkap yang keluar dari celah bibirku.

Dia bilang, entah mengapa ia begitu menyukai ketika aku melafalkan nama lengkapnya dengan intonasi lembut dan dalam begini.

Kedua manik mata hitam yang nyaris membuatku hilang akal itu dengan sangat tenang balas menatap manik mataku, yang banyak orang menilai; sekali kau terjebak di dalamnya, maka tak akan pernah ada celah untukmu menghindarinya lain kali.

Sangat menakutkan, kira-kira seperti itulah tanggapan orang-orang tentang manik mataku. Akan tetapi, sepertinya tidak untuk gadis ini.

Dia, dengan beraninya balik menatapku. Dengan keadaan seperti apapun, dia selalu berani melakukan hal yang bahkan ibu kandungku sendiri tak pernah mau melakukannya.

" Tidur sekarang, atauㅡ" Tak sampai dua detik, tepat ketika bibirku kembali tertutup setelah menyelesaikan kalimat tak tuntas itu, kelopak mata di hiasi bulu mata hitam pekat yang sangat lentik miliknya tertutup kembali.

Ku tahan keinginan untuk mengumandangkan tawa geli atas reaksinya yang selalu berlebihan itu.
Astaga! gadis ini benar-benar menggemaskan!

Obssesed LoveWhere stories live. Discover now