Prolog

25 5 1
                                        

Pagi ini hujan turun dengan lebat, membuatku harus menggunakan payung berwarna biru. Setelah pintu rumah indekos yang aku sewa terkunci rapat, payung biruku membelah suasana hujan di jalanan Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Aku mengecek jam tangan hitam yang sangat sederhana dengan tulisan 'Lios' di atas angka enamnya. Aku memanggilnya Arloji Lios.

Halte bus belum begitu ramai, selang beberapa menit, bus yang kutumpangi datang. Aku memilih untuk duduk sendiri di kursi belakang, payung biru yang tadi kubawa sudah dilipat kecil hingga muat di tas ranselku.

Jendela yang di sampingku sedikit berembun, jalanan padat jadi tak begitu terlihat jelas. Aku mengambil sesuatu dari sakuku, sebuah kartu kecil bertuliskan 'University of Chicago' dan di bawahnya ada foto dan namaku, Farrel Anggara.

Kini, aku sudah berdiri tegak memandang gerbang Universitas Chicago. Langit sudah berhenti dalam tangisnya. Baiklah, aku melangkah ke dalam.

Fakuktas Sejarah, begitulah hal yang kupelajari di sini. Aneh memang, padahal saat SMA dulu, aku menggemari IPA. Aku menghampiri temanku yang masih satu fakultas denganku.

"Hei, Jason!" sapaku melambaikan tangan pada anak seusiaku berkulit gelap dengan rambut ikalnya.

Jason menggunakan jaket berwarna merah dengan topi 'NYC' hitamnya. Ia menjawab, "Hello, Farrel! Follow me!"

Aku mengikutinya, sesampainya di sudut universitas yang sepi, ia tersenyum lalu BUK! Jason tetiba memukulku tepat di bagian kening.

"Hei?!" Aku berteriak bingung.

Darah mengalir dari keningku. Ia bukanlah Jason, kutahu itu. Dugaanku benar, entah bagaimana caranya, 'Jason' berubah menjadi sosok yang tak kukenali.

Sosok manusia bertubuh putih dengan ujung telinga atas yang panjang meruncing. Elf? Ia mengenakan pakaian semacam zirah tapi, lebih simpel dan tak terlihat berat. Baju yang ia kenakan berwarna coklat, serasi dengan gagang pedangnya.

"Jason." Aku berbisik lirih.

Ia menyimpan pedangnya di pinggang, kemudian merengsek ke arahku. Aku mengepalkan tanganku, bersiap.

BUK!

Percuma saja, ia berkali-lipat lebih kuat, aku terbanting kembali. Ujung kiri bibirku juga mengalirkan darah. Tak ada cara lain, ia begitu kuat, aku memandang Arloji Liosku dan mulai menggunakan 'trik' rahasiaku. Rahasia yang bertahun-tahun aku simpan sejak SMA.

Semuanya berawal sejak aku masih SMA di negara asalku, Indonesia. Saat itu, ada hal luar biasa menghampiriku, mengubah hidupku yang tak lagi sama seperti sebelumnya.

Aku balas merengsek maju. Tepat di hadapannya, aku mengarahkan telapak tangan kananku padanya dan CTAR! Farrel Anggara, iya, itu namaku, mengeluarkan petir dari tangannya.

Namaku Farrel Anggara.
Aku bisa mengeluarkan sengatan petir.

Menangkap Orion - Serial Aotsu TakayasaStories to obsess over. Discover now