Di pagi yang cerah,aku melangkahkan kaki untuk pergi ke sekolah dengan semangat yang membara dan niat dalam hati untuk menuntut ilmu sebagai kewajiban seorang siswa.
Sesampainya disekolah aku menjalankan aktivitas yang sudah ditetapkan dan mengikuti pembelajaran seperti biasanya. Saat pembelajaran berlangsung,guru kesiswaan memanggilku dengan salah satu teman lelakiku untuk menghadap beliau di kantor. Awalnya merasa gugup. Kamipun tidak mengetahui apa alasan sehingga kami dipanggil.
"Ada apa ya? Tidak seperti biasanya. Kenapa kita dipanggil?" Tanya teman lelakiku.
"Entahlah,mungkin ada hal yang penting." Jawabku
Disepanjang koridor menuju kantor masih banyak pertanyaan di benak kami. Setelah menemuinya,beliau berkata:
"Saya mendapat undangan resmi dari dinas mengenai pemilihan duta kesehatan dan saya mempercayakan kalian sebagai kandidat yang akan mewakili sekolah. Terlepas dari itu semua,saya harap partisipasi kalian dengan ikhlas untuk mengikuti pemilihan ini."
Aku dan teman lelakiku menyetujuinya. Kamipun membicarakan lebih lanjut mengenai apa apa yang dipersiapkan untuk kompetisi itu. Besar harapanku untuk lolos dan menjadi kebanggaan untuk orang sekitarku beserta sekolahku tercinta. Sebelum aku berangkat untuk kompetisi tersebut,aku diberi bimbingan terlebih dahulu oleh kakak kelas yang tahun sebelumnya pernah mengikuti pemilihan ini.
"Menurut kakak ada baiknya kamu mempelajari materi tentang kesehatan yang meliputi HIV/AIDS,narkoba, kenakalan remaja, kesehatan reproduksi remaja,dsb. Selain itu diperhatikan juga table mannermu,cara bersikap,cara berjalan dan cara duduk yang baik. Hal itu juga menjadi pertimbangan sebagai calon duta kesehatan." Kata kakak kelasku sambil mengajarkan dan memberi contoh.
Awal melakukannya,aku merasa letih karena tidak terbiasa dengan sikap seperti itu. Namun dengan seiring berjalannya waktu,hal itu akan menjadi kebiasaan bagiku.
Keesokan harinya,aku pun berpamitan kepada keluarga , utamanya ibuku dan meminta doa dari mereka. Karena usaha tanpa disertai doa dan restu dari orang tua itu tidak cukup. Jadi keduanya harus seimbang antara doa dan usaha. Mereka sangat mensupport ku. Aku pun berangkat untuk melakukan kompetisi tersebut yang dilaksanakan di dinas kesehatan. Dari sekolah menuju lokasi,aku dan teman lelakiku diantar menggunakan mobil sekolah. Sepanjang perjalanan,di mobil terasa sangat hening. Hingga teman lelakiku memulai percakapan singkat denganku.
"Hey,kamu terlihat gugup."
"Menurutmu? Aku merasa biasa saja,kamu aja yang berlebihan" jawabku.
"Aku tau kau terlihat grogi dari raut wajahmu."
"Tidak,kenapa harus grogi?" Tetap saja diriku menyembunyikan kegugupanku.
"Biasa sajalah,santai. Tetap semangat dan jangan lupa berdoa." Sergahnya
Kami saling memberi support satu sama lain. Tak lupa juga,saat diperjalanan kami sharing materi yang sudah dipelajari sebelumnya.
Tiba di lokasi. Ketika masuk ruangan,terlihat cukup banyak peserta lomba yang sudah hadir. Selama 3 hari aku tidak mengikuti pelajaran disekolah karena harus menyelesaikan beberapa tes untuk pemilihan duta tersebut.
Pada tahap kesatu ini,awalnya dihari pertama ada pretest kemudian dilanjut dengan berbagai penjelasan materi dan terakhir postest.
Di hari kedua juga sama. Setiap ada materi pasti disertai dengan sesi tanya jawab. Aku berusaha untuk terus bertanya,semata mata bukan hanya untuk mendapatkan nilai tambahan tetapi untuk menambah ilmu yang belum aku ketahui. Setiap kali akan bertanya,tanganku seketika langsung merasa dingin. Aku tetap meyakinkan diriku bahwa aku bisa dan harus bertanya. Bukankah malu bertanya sesat di jalan! Yaa... Tentu saja. Oleh karena itu aku terus saja bertanya tentang hal hal yang belum aku ketahui.
STAI LEGGENDO
KEEP STRUGGLING
SaggisticaBerawal dari sebuah kompetisi yang mengajarkan arti berjuang dan mengikhlaskan. Cerita yang diangkat dari kehidupan pribadi yang dikemas sedemikian rupa dengan harapan pembaca dapat mengambil hikmah dari sebuah kejadian-HidayatulM
