Sore itu, aku duduk di tepian sungai di dekat jembatan kayu tua untuk menikmati keindahan senja. Di temani buku catatan harian dan rerumputan yang bergoyang mengikuti irama angin, aku rasa ini adalah sore terbaik yang pernah aku rasakan di akhir tahun ini.
Hari ini aku berniat untuk di sini sampai nanti malam tahun baru. Aku ingin menikmati perpindahan tahun di tepian sungai ini, sungai tempat aku bermain saat masih kecill.
Di sungai anak-anak terlihat gembira menikmati kesegaran air sungai. Sementara di sisi lain, ibu-ibu mencuci baju sembari ghibah, dan bapak-bapak yang dari tadi melihat aku sambil menodongkan tombak gara-gara aku melihat ke arah istrinya terus.
Hmm lupakan kejadian tadi. Ada hal lain yang menurutku menarik. Tepat di hadapanku ada sepasang kekasih sedang saling menatap satu sama lain. Si wanita terlihat menangis dan begitu kesal terhadap si pria. Sementara si pria hanya tertunduk bergeming.
Ini moment sangat langka! Aku harus menulisnya dalam buku catatan harianku, karena kebetulan hari ini aku sedang mengikuti challenge di salah satu grup literasi. Aku pikir ini akan menjadi ide yang bagus membuat cerita dari apa yang aku lihat secara langsung.
Aku mengambil pena dan mulai menulis sembari terus mengamati sepasang kekasih itu.
Angin berhembus perlahan membuat air mata wanita itu tertiup dari pipinya. Owh sungguh manis sekali, bahkan alam pun tau cara memperlakukan wanita dengan baik dan benar.
“Aku rasa ini adalah keputusan terbaik buat kita,” Ucap pria itu.
Keadaan semakin canggung sebelum akhirnya tiba-tiba ada tukang kerak telor nawarin dagangannya kepada wanita itu.
“Kerak telornya neng biar gak galau,”
Bangke! Kenapa di saat seperti ini ada saja yang ngerusak suasana.
“Berapaan emangnya bang?” wanita itu membalas.
Anjir! Kenapa di balas coba.
“Oy bang kalo gak salah di sebrang ada yang lagi hajatan, coba deh ke sana di jamin laris bang,” teriakku dengan penuh kebohongan.
“Demi apa ada hajatan?” tanya tukangkerak telor.
“Iya bang cepetan deh ke sana.”
Abang kerak telor itu kemudian pergi ke sebrang dengan menyebrang jembatan kayu.
Anjir dia percaya dong kalo ada hajatan, oke lanjut lagi ke sepasang kekasih tadi.
Wanita itu masih belum berhenti menangis. Sepertinya hati wanita itu benar-benar sedang hancur. Entah apa yang pria itu perbuat tapi sepertinya kesalahan itu sangat fatal
“Aku sudah berusaha sangat keras untuk mempertahankan semuanya,” lelaki itu mulai berkata.
“Tapi mungkin semuanya harus berakhir seperti ini. Selama ini aku yang terus mengalah, aku yang selalu mencoba mengerti kemauanmu. Ingatkah saat kamu maksa aku buat beliin seblak rasa usus jerapah? Bahkan sampai aku keliling dunia pun aku gak bakalan nemu yang jual itu.” Sambung pria itu.
Hmm kayaknya ini bakalan seru. Masalah yang sedang menerjang mereka terlihat sangat rumit.
“Tapi mas. Aku aku masih sayang sama kamu, aku masih cinta sama kamu mas,” rengek Wanita itu.
Mendengar ucapan wanita itu, tak terasa air mata ini mengalir. Entah kenapa aku bisa ngerasain rasa sakit yang wanita itu alami.
“Maaf mey, aku sudah yakin dengan keputusan ini. Terimakasih untuk semuanya, selamat tinggal."
Pria itu berjalan meninggalkan pasangannya sendirian di tepi sungai.
Waktu menunjukan pukul enam sore. Keramaian di tepian sungai itu perlahan berganti dengan heningnya malam.
Wanita itu kini duduk di sampingku tanpa mengatakan sepatah katapun. Tatapannya kosong, meski kini air matanya sudah surut.
“Jadi tadi itu kenapa,” ucapku mencoba memulai pembicaraan.
“Kami berdua putus,” balas wanita itu dengan singkat.
“ Aku turut bersedih apa yang kamu alami. Tapi ayolah jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. Dunia ini sangatlah luas dan orang yang sayang sama kamu bukan hanya dia saja.” Balasku.
Setelah itu tidak ada perkataan lagi yang keluar dari mulut kami berdua.
Hingga tak terasa ternyata sudah sangat lama kami berdiam di tepian sungai. Waktu kini menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit. Itu artinya sebentar lagi langit akan di penuhi oleh kembang api.
“Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan?” tanya Wanita itu dengan tiba-tiba
“Oh ayolah, kamu harus berani melangkah dan membuat lembaran baru. Lupakan tentang dia, dan kejarlah masa depanmu. Seperti apa yang di katakan oleh seorang pria Thailand tua. หสสรยๆึ_ชขยไสาวปอทหใาไววีๆงงยไควๅวนสไใมไนๅถกะพหืวบยตขไวนบๆชขฃกวาไจสไาาก้วๅทืกอผอหสไ.”
Wanita itu terlihat tidak mengerti apa maksud dari apa yang aku ucapkan.
“Apa arti dari kata bijak tadi?” tanya wanita itu.
“Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang barusan aku katakan,” balasku dengan singkat.
Ia terlihat mulai tersenyum, dan demi jenggot Neptunus yang tumbuhnya menggunakan minyak firdaus. Senyuman wanita itu terlihat sangat manis sekali. Owh tuhan jantungku berdetak begitu keras apa ini yang namanya cinta?
Suara dentuman kembang api mulai terdengar. Percikan cahayanya pun kini terlihat menghiasi langit. Sungguh keindahan ini tidak pernah bisa di gambarkan dengan kata-kata.
Perlahan aku merasakan ada seseorang yang memegang tanganku. Awalnya aku pikir wanita itu yang melakukannya. Tapi pas aku lihat ternyata tukang kerak telor yang tadi sore yang memegang tanganku. Anjir i'm in danger.
“Kurang ajar dasar anak sialan, berani-beraninya ngebohongin orang tua. Di sebrang gak ada hajatan. Gara gara kamu bapak muter-muter gajelas di sana,” teriak tukang kerak telor itu.
Tukang kerak telor itu terus memarahiku sepanjang malam. Sementara wanita itu tertawa melihatku di marahi.
Untuk menebus dosaku pada tukang kerak telor itu, aku memutuskan membeli semua dagangannya yang belum laku. Dan kami pun makan bersama di situ sambil menikmati pergantian tahun yang indah ini. Dan pada akhirnya aku tidak pernah lagi menanyakan apa yang jadi permasalahan hubungan wanita itu. Karena aku tidak mau terlibat terlalu jauh ke dalam kehidupan seseorang.
Selesai
Selamat tahun baru 2020
