Historia 1 : Meeting You was Fate

5 0 0
                                        

~Tring~

Handphone ku berbunyi. Ada chat masuk.

Dari : Dosen TOEFL

Halo Zia, tolong infokan ke teman - teman mu bahwa ujian susulan toefl 3 akan berlangsung pada hari kamis jam 15.00

Baik, akan saya infokan.
Thankyou sir.

Kirim

Sekarang aku sedang berbaring di kasur tercinta. Hari ini tidak ada jadwal mata kuliah, jadi kerja ku hanya bermalas - malasan, scrolling medsos, membaca cerita wattpad dan komik lalu bermain game. Padahal pekerjaan rumah banyak. Kasur seperti memiliki magnet yang menarik tubuhku untuk tetap berbaring.

"Aku malaaaas~"
Kurentangkan tangan untuk meregangkan otot-otot tubuhku ini.

"Kirim ke grup dulu deh chat dari bapaknya"

.

.

Hari Kamis pukul 14.42

Aku berjalan di koridor, lalu menunggu lift terbuka untuk menuju ke lantai 2 tempat diadakannya tes TOEFL. Saat menunggu, di belakang ku ternyata sudah banyak yang mengantri juga. Karena ini ujian susulan jadi yaa kalian tahu lah.

Dari kerumunan terlihat Lian yang sedang berusaha untuk menuju bagian depan. Dia ingin menghampiri ku.

"Jiiiii~ tolong" sambil menjulurkan tangannya pada ku

"Yeh, mba antri tau!" Aku mengulurkan tangan meraih tangannya.

"Hehe, gapapa ah kan mau bareng lu"

"Dasar!"

Ketika lift terbuka aku, lian dan beberapa orang yang mengantri tadi naik.

"Ji. Udah belajar?" Lian bertanya

"Belum, Zia mana pernah belajar sih mba"

"Ah bohong, ntar tau tau bagus nih nilainya"

"Aamiin"

Aku hanya tersenyum mendengar ocehan Lian.
Sahabat? Eemm rasanya aku sudah tidak ingin menyebut kata itu. Lebih nyaman dibilang teman dekat. Dia tau semua cerita ku, kehidupan ku dirumah, jelek nya diri ku, masalah ku. Dia paling tahu karena apapun yang aku alami sering ku ceritakan padanya.
Lian orang yang ceria, tidak pernah mengeluh, bahkan lucunya ketika ada tugas yang sulit dia tidak pernah mengeluh dan panik seperti yang lain. Katanya "Jii, sebenernya gue itu sama kayak kalian, kalo ada tugas itu panik. Tapi gue tuh mencoba supaya ga mikirin karna nanti jadi stres. Stres itu bikin penyakit!"
Menurut ku itu adalah sebuah kalimat yang memotivasi. Karna dia tahu kalau aku ini orangnya selalu berfikiran yang macam - macam hingga akhirnya stres sendiri. Bagusnya aku jadi mencoba mengikuti apa yang dia katakan, hahaha. Lucu memang, tapi ada benarnya juga.

Pintu lift kemudian terbuka. Kami dan beberapa orang turun. Dasar kami ini, padahal hanya menuju lantai 2 tapi rasa malas untuk menaiki tangga sangat luar biasa.

Aku dan Lian kemudian masuk ke dalam ruangan yang dosennya sudah hadir didalamnya. Rajin sekali bapak ini padahal masih jam 3 kurang. Biarlah.

Kelas sudah cukup ramai karena ini kelas gabungan yang mahasiswa nya diajarkan dengan  beliau. Kuedarkan pandangan ku kedalam ruangan dan mata ku menangkap sesuatu. Aku gugup dan eemm senang. Aku mencoba tenang. Perlahan aku berjalan dan duduk dibaris ketiga. Lian sudah menyenggol ku pelan dari tadi seakan memberi ku kode. Aku paham.

Ku taruh tas ku dibawah dan menghadap ke depan. Lalu ku coba beranikan diri untuk menyapanya setelah konflik dengan diriku sendiri.

"Hai zra, apa kabar? Akhirnya aku bersuara. Aku melihat kesebelah kananku sambil menopang dagu berusaha terlihat baik - baik saja. Dia terlihat fokus dengan handphonenya.

Tidak ada balasan. Dia mengabaikanku atau tidak mendengar? Aku bertanya dalam hati.

Temannya yang ku ketahui bernama Bima menyenggol dan mencoba memberitahunya.

"Woii, dipanggil tuh"

Aku melihat Bima dan mengangkat alisku sambil tersenyum.

Laki - laki yang kupanggil tadi akhirnya mengangkat kepalanya dan menyahuti temannya, Bima.
"Hah? Kenapa?"

"Itu lu dipanggil" saut Bima sambil menunjuk ku dengan kepala nya.

"Haii zra, apa kabar?" Tanya ku lagi. Cape dehh.

"Oh Zia, iya baik kok. Zia gimana?"

"Baik juga." Jawabku sambil senyum.

Kenapa se deg - deg an ini ya Tuhan?

Tes akhir nya dimulai. Kami semua fokus mengerjakan soal yang entah kenapa sangat sulit namun masih bisa ku kerjakan. Yang lain? Jangan tanya, mereka semua sudah saling bekerja sama untuk mendapatkan jawaban yang benar. Padahal belum tentu benar juga. Hahaha :)

"Jii, nomor 26 apaan jawabannya?" Lian berbisik pada ku.
Ku berikan kertas jawaban ku padanya.

"Yahhh, sama beluman." Dia mendengus kesal. "Coba ah tanya Ezra."

Aku melotot, lalu ku tengokkan kepala ku ke arah Lian. "Heh, jangan! Ganggu nanti." Sepertinya omonganku tidak di dengar, melihat Lian yang akhirnya mencolek punggung Ezra dari belakang. Dan dia menoleh.

"Zra, lihat jawaban lu dong."

Yaampun tolong si Lian benar - benar, aku tidak habis fikir kenapa dia seberani itu?

"Nihh." Dia menjulurkan kertas jawabannya.

Apa? Semudah itu? Aku hanya ternganga melihatnya tapi ikut menyalin jawabannya juga.

~

Waktu mengerjakan tes sudah selesai dan seluruh mahasiswa/I dipersilahkan untuk keluar ruangan.

Aku tidak percaya diri dengan hasilnya nanti. Lian hanya senyum - senyum saja seakan semua jawaban yang dia kerjakan tidak ada yang salah.

Fuhhh

"Santai sih Zi." Seru Lian.
"Eh, Ezra mana ya? Belum bilang makasih haha."

"Mbaaa, kok bisa - bisanya sih nanya Ezra?" Seru ku.

"Gue iseng doang tadi, eh ternyata dikasih wkwkwk."
"Asik nih ketemu lagi sama Ezra."

"Apaan sih mba. Gue deg - degan tau."


Bersambung.




You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 03, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Historia Where stories live. Discover now