Shaka Adiwangsa.
Nama seseorang yang Putri Binara lihat terakhir kali di display handphone-nya. Ia harusnya tidak seperti ini, tidak sedang mencari, apalagi berlari. Ia harusnya menunggu sampai pada titik dimana Shaka menghampiri. Bukankah mereka pernah bilang untuk saling melihat lagi saat sudah sampai pada mimpi?
Bukankah begitu, Kak?
Binara lagi-lagi membatin. Berulang kali, lagi, lagi, hingga sampai pada titik ini.
Menguatkan diri sendiri ... kenapa rasanya sesakit ini?
Dia menghibungi beberapa temannya, hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu kabar Shaka bagaimana. Pun kakak kelasnya seperti Tian—teman akrab Shaka saat di bangku sekolah. Yang ada Binara malah digodain gara-gara nyari Shaka, Binara 'kan malu.
Namun tidak heran dia seperti sudah hilang dari peradaban, sudah lebih 5 tahun waktu tertempuh. Hal yang wajar jika mereka sudah saling lost contact. Binara saja mencari kontak Kak Tian harus mencari kesana-kemari, tanya sana tanya sini. Menghubungi semua sosial media Tian—hasilnya tidak ada yang aktif. Pasalnya untuk sosial media seperti Instagram, Tian tidak terlalu tertarik menggunakannya, bisa saja dia lupa password atau bagaimana?
Binara bahkan sudah nyaris lupa kapan terakhir kali ia dan Shaka berjumpa. Ia tidak mudah mengingat hal-hal itu, walaupun Shaka jelas-jelas memiliki tempat di hatinya. Dia payah dalam hal mengingat.
Tapi satu hal lain, Putri Binara tidak pernah lupa semua perkataan Shaka Adiwangsa malam itu.
Eh, nggak semua sih, beberapa yang memorable saja.
"Kejar apa yang pantas kamu kejar, Bin. Kalau lelah, istirahat di tempat yang semestinya, ya? Aku tau kamu ingin bermimpi dan kamu berhak mewujudkan mimpimu."
Malam itu ialah malam dimana Binara masih kelas 11 dan Shaka kelas 12, pada acara LDKS untuk anggota OSIS.
Acara azab-mengazab itu nampaknya tidak membuat Binara lelah. Sejujurnya, ia ingin seperti teman-temannya yang menikmati pulasnya tidur malam di waktu singkat seperti ini. Ia tetap terjaga sampai Shaka mendapatinya sendirian di bawah pohon. Awalnya Shaka sempat mengira, makhluk apa itu, hah? Oalah, ternyata Binara.
Shaka menghampirinya, Binara menoleh lalu tersenyum singkat, takut-takut Shaka menghardiknya karena tidak tidur seperti yang dia alami di masa SMP. Ternyata apa? Berbanding terbalik.
Mereka sadar dengan sangat, bahwa mereka harusnya tidur, tapi mereka—ya, begitu, susah mengatakannya. Mungkin ini yang dikatakan guru BK mereka untuk meningkatkan kualitas tidur saat malam hari, karena siang hari benar-benar membuat mereka kewalahan dengan bisingnya dunia dan isi kepala. Disaat yang lain melepas penat dengan berbaring di atas selembar kain yang mereka bawa masing-masing sebagai alas. Dua insan itu malah bercerita panjang lebar, sesekali memetik amanat dan filosofi manis, tidak jarang juga saling memberi saran.
Padahal hari di depan sana menunggu untuk dilewati.
"Benar," kata Binara, tersadar dari ruang nostalgia yang berkeliaran di kepalanya. Membentuk visualisasi seorang Shaka Adiwangsa, lalu dengan cepat memutar ulang apa yang pernah Shaka katakan padanya.
Binara harus melewati hari di depan sana. Ia bisa melanjutkan besok hari untuk kembali mencari. Saatnya berbalik arah untuk lebih maju selangkah. Mungkin masanya bukan sekarang, mungkin besok? Atau lusa? Biarlah itu jadi rahasia semesta sampai nanti hal itu terlaksana.
Binara tahu bahwa Shaka sedang di Thailand, sebenarnya sok tahu, sih. Ia sendiri ada diantara yakin-tidak yakin. Yang pasti Shaka pernah berkata pada Binara untuk pergi sejauhnya dari rumah.
"Mungkin setelah lulus S1 aku bakal ke Thailand."
"Ngapain?"
"Ngejar mba Davikah, nyuruh dia muter balik."
"Lah, emang kenapa?"
"Cantiknya kelewatan."
Binara tersenyum kecut, receh amat, batinnya.
Shaka terkekeh sebentar. "Mau jauh aja dari rumh yang sebelas duabelas sama penjara VIP bintang lima." Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. "Lagipula gak yakin didukung S2 kalo di Indonesia, 'kan aku mau S2. Duitnya? Udah ada, tinggal alasannya aja."
"Lah? Gimana caranya biar bisa direstuin, di dalam negeri aja gak boleh. Apalagi di luar."
Shaka tersenyum penuh arti. "Beasiswa, di Fakultas Ekonomi Universitas Kasetsart."
Dan semoga perkatan Shaka terbukti, setelah lulus S1 Fakultas Ekonomi di Indonesia dia memilih melarikan diri ke negeri Gajah Putih di fakultas yang sama. Binara memang sok berani sekali datang ke negara orang sendirian, berbekal Bahasa Inggris alih-alih Google Translate—serta aplikasi Google lainnya. Semua itu hanya untuk mengejar apa yang hilang bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.
Tapi baginya, hal ini bukan sekadar 'hanya'.
Binara, 'kan ingin pamer kalau dia dapat gelar S, Psi. di belakang namanya. Biar dia tau juga, kalo Binara mendapat pekerjaan dan lingkungan kerja yang baik sebagai HRD, gak bangga apa liat Binara kayak gini?
Binara berbicara dengan siapa? Siapa lagi kalau bukan orang dalam pikirannya.
Sekarang dia harus kembali ke apartement mutual Twitter-nya yang berasal dari Indonesia lalu memutuskan menetap di Thailand. Setidaknya, untuk sementara waktu.
Dia berada di sekitaran Siam Center, untungnya apartement temannya tidak jauh dari sana.
•••
"Gimana? Masih belum?" Binara mengangguk lesu. Malang sekali nasib Binara, dikasih waktu tiga minggu cuti, hampir seluruhnya didekasikan mencari manusia yang tak ada informasinya.
"Kita bisa coba besok ke Route 66. Klub disana ramai juga. Aku ikut, ya? Nanti tunjukkan foto kakak gantengmu itu." Bella tertawa kecil, padahal Bella tadi ingin ikut Binara ke Siam Center, tapi apa daya dia lagi kena kerja shift malam.
Tenang, Bin. Ini baru hari pertama. Masih ada 14 hari lagi.
•••
Tbc~
YOU ARE READING
midnight memories
Teen Fictionmalam memang magis. itu kata andalan kita saat dipermainkan sedemikian hebat dengan desir angin malam.
