Oneshoot

2.6K 68 16
                                        

Mobil berwarna hitam terhenti didepan rumah. Seorang gadis buta yang bernama Adhisty Zara hanya berjalan tanpa alat bantu apapun. Gadis berambut panjang tersebut terus berjalan sampai rumahnya

Sementara seorang pemuda tampan yang sedang belajar piano itu menatap gadis buta yang sedang berjalan. Pemuda itu Angga Aldi Yunanda terpecah fokusnya ketika melihat Zara berjalan. Tiba-tiba seorang guru piano bernama pak Dwi Sasono tersebut memukul rotannya ke arah piano yang dimainkan Angga dan berkata, "Fokus dong"
Angga hanya mengangguk dan melanjutkan permainannya

Selesai belajar piano, Angga meminum entah obat apa itu dan berpapasan dengan gadis itu. Dia bingung mengapa ia tidak menatap Angga sama sekali. Angga pun bertanya pada bodyguardnya, "Mas, gadis itu siapa sih? Kok aku kek penasaran?"
"Wah saya ga tau Tuan Angga. Mendingan pulang aja udah" kata bodyguard itu
"Ditanya ya dijawab elaaaah" Angga hanya manyun

Esoknya, mobil putih milik Angga terhenti dirumah guru piano galak tersebut. Seorang bodyguard membungkukkan badannya dan Angga membalasnya dengan tersenyum dan terus berjalan sambil membawa buku-buku nada piano

Dan dia melihat Zara yang sedang dimarahi ayahnya karena berulang kali salah. Dan ternyata Zara sedang meraba permennya dan Angga baru mengetahui jika Zara ternyata buta
Angga langsung bertanya pada bodyguard tersebut, "Maaf nih pak mau nanya. Itu cewek kok gak bisa liat?"

Sang bodyguard itu memberikan kode agar tidak berisik. Lalu ia berbisik pada Angga, "Dia memang buta setelah kecelakaan itu terjadi. Makanya saat itu sikap ayahnya sangat dingin pada non Zara ketika non Zara salah memencet piano"

Dan tergerak hati Angga untuk membantu Zara dalam memainkan piano. Angga mengendap-ngendap masuk ruangan dan menghampiri Zara
"Gini cara mainnya" kata Angga pada gadis itu, "Gak usah takut! Pernah kok waktu pas lagi belajar piano matanya ditutup hehehe"

Zara tersenyum. Dia senang ada orang yang mau mengajari dirinya yg buta
"Oiya aku belom kenalan. Aku Angga Aldi Yunanda. Kamu bisa panggil aku Angga kok" kata Angga memperkenalkan diri
"Namaku...... Adhisty Zara. Kamu bisa panggil aku Zara"

Dan Angga segera membereskan permen-permen Zara yang berjatuhan. Dan tiba-tiba terdengar suara ketukan sepatu dari Pak Dwi. Pak Dwi sedikit bingung siapa yang memainkan piano dengan suara indah itu. Dia tidak melihat Angga sama sekali. Dan ternyata Angga bersembunyi di belakang piano.

Ketika Pak Dwi pergi, Angga keluar dari tempat persembunyiannya dan tersenyum didepan Zara
Akhirnya Angga duduk disamping Zara dan tiba-tiba Angga meremas dadanya. Angga merasa penyakit jantungnya kumat lagi dan akhirnya dia harus minum obat penahan rasa sakit jantung. Zara sendiri bertanya pada Angga, "Apa yang kamu makan Ngga?"

"Hmmmmm permen. Rasanya manis kok" ucap Angga berbohong.

Untunglah dia tidak bilang bahwa Angga minum obat penahan rasa sakit jantung. Dia mengambil permen tersebut dan menyuapinya ke mulut Zara. Jari Angga tersentuh bibir Zara. Zara tersenyum dan Angga pun ikut tersenyum

Esoknya Angga pergi kerumah Zara dan mengajak Zara untuk mengobrol di halaman rumah. Angga mengintip bahwa di luar sudah aman. Lalu Angga mengajak Zara untuk menghampirinya
"Zar, sini"

Angga lupa bahwa Zara buta. Akhirnya Angga menarik tangan Zara untuk keluar
Sampai diluar, Angga meminta Zara untuk meraba wajahnya. Zara berkata, "Wajah kamu...... Kok mulus sihh?" tanya Zara

Angga tersenyum. Dan tiba-tiba tangan Zara dipindahkan ke dada Angga. Angga bertanya, "Apa yang kamu rasain Zar? Di jantung aku?"
"Hmmmm detaknyaa....." kata Zara. Ya Angga memang jatuh cinta pada Zara

Tiba-tiba raut wajah Angga berubah. Dia tampak menahan rasa sakit di dadanya. Zara terlihat bingung dan merasa khawatir kenapa jantung Angga berdetak sangat keras? Apakah Angga punya penyakit?

Sang bodyguard menelepon seluruh anggotanya untuk menyeret Angga atas perintah Pak Dwi. Bukannya Pak Dwi tidak merestui hubungan Angga dengan Zara tetapi Pak Dwi tahu jika usia Angga tidak lama lagi

Tiba-tiba kumpulan bodyguard itu menyeret badan Angga secara paksa. Angga terus mengerang dan dia sangat ingin bersama Zara namun Angga tetap ditarik secara paksa. Sementara Zara terus memanggil nama Angga dan akhirnya Angga dimasukkan ke dalam mobil

Malamnya, Zara terus menunggu Angga. Satu persatu permennya habis. Dirinya memegang obat milik Angga. Dia tidak tahu jika obat yang dipegangnya adalah obat penahan rasa sakit. Dan Zara tidak mengetahui jika ternyata Angga mengidap penyakit kelainan jantung yang bisa menghilangkan nyawanya. Zara menunggu Angga berjam-jam dan ternyata......

Ceklek!

Pintu terbuka dan Angga datang untuk menyatakan perasaan cintanya pada Zara lewat piano. Angga memainkan piano itu dengan khidmat

Zara tersenyum mendengar alunan piano itu. Seakan-akan menyatakan, "Aku mencintaimu" dan belum sempat menyelesaikan alunannya, tiba-tiba pemuda itu ambruk didepan piano. Suara piano itu terhenti seketika setelah pemuda itu ambruk. Dan ternyata Angga meninggal tepat di depan piano tersebut. Raut wajah Zara berubah. Zara tiba-tiba ingin menangis ketika Angga tidak lagi melanjutkan permainannya karena Angga sudah keburu meninggal. Sang bodyguard Zara tampak menggendong jasad Angga untuk dibawa kerumah sakit.

Pak Dwi pun ikut merasakan kesedihan setelah meninggalnya Angga didepan piano. Pak Dwi memutuskan melepas kacamatanya dan melanjutkan permainan piano yang belum sempat Angga selesaikan. Dan piano itu berisi makna, "Dia mencintaimu selamanya...."

Dan airmata Zara terjatuh. Dia tersenyum bahagia dan memejamkan matanya. Meskipun Angga sudah pergi, namun rasa cinta yang diberikan Angga untuk Zara sudah tersalurkan lewat piano

2 bulan kemudian..........

Setelah 2 bulan kepergian Angga, Zara baru mengetahui pemuda yang selama ini bersama dengan dirinya terlihat sangat tampan. Zara tampak mengelus foto Angga yang diberikan ayahnya untuk dikenang. Zara menangis dan dia juga sangat mencintai Angga. Dia sadar jika dia bisa melihat karena Angga mendonorkan matanya. Dan sebelumnya, Angga sempat berkata pada Pak Dwi disaat-saat terakhirnya untuk menyatakan perasaannya lewat alunan piano yang ingin dimainkan olehnya, "Pak, sebelum saya meninggal saya ingin donorkan mata saya buat Zara. Saya juga ingin menyatakan perasaan saya lewat piano. Tolong izinkan saya"
Dan saat itulah Zara membuka lembaran baru. Dengan Angga dihatinya. Dia berucap dalam hatinya, "Aku juga mencintaimu Angga.... "

Gone (Zarangga Version) Where stories live. Discover now