Sepatu dan Pangeran Iblis; awal kisah absurd ini bermula

5 1 0
                                        

Alexa tergesa menghampiri pohon angsana besar yang terletak di belakang perpustakaan itu. Pohon besar itu tertanam kokoh, tak jauh di bagian belakang pohon itu, terdapat danau buatan yang jernih. Tempat yang sangat indah dan tenang itu selalu menjadi tempat favorit nya.

Namun kali ini suasana tempat ini tak dapat mengalihkannya dari sesuatu yang membuatnya terengah kesini seperti dikejar setan.

Sepatu sebelah kanannya.

Flashback

"VEANNA KAMPRETT!! SINI LO HEH!"

"BALIKIN NOVEL GUEE... ADUH RAINA ITU NOVEL BEST SELLER YA, GUE MATI MATIAN NGANTRE BUAT DAPET TTD AUTHOR NYA WOY! MANA MAHAL LAGI... VEE! WOY KADAL!"

Untungnya area di sekitar perpustakaan dan lorong menuju lapangan basket indoor kosong, jadi kemungkinan manusia untuk menjadi korban teriakan Toa masjid ala Alexa bisa terhindarkan.

Dan si kampret Veanna yang berlari di depan sana juga tak mau berhenti, akhirnya mau tak mau ia menggunakan jurus andalannya saat berusaha menaklukkan(?) Seorang Veanna.

Menimpuknya dengan sepatu.

Ia melepas sepatu kanannya, Dan HIYA! sepatu itu melayang, ia tersenyum, tertawa setan dalam hati karena yakin sepatu itu akan mendarat tepat di kepala Veanna.

Tenang, sepatunya tidak seberat itu, kok.

Tidak akan membuat Gadis bar bar yang sekarang ngos - ngosan di depannya amnesia dan tiba tiba lupa segalanya, termasuk hutang 10ribu Gadis itu untuk membeli cimol Dan Es Jelly di kantin tadi pagi. Heh, tidak akan Alexa biarkan Gadis itu melupakan hutangnya.

Oke, lupakan soal hutang

Eh Jangan.

Maksudnya mari kita delay sejenak pembahasan soal hutang.

Alexa masih memandang antusias sepatu yang masih melayang(?) Menuju Ve-

Oh no!

Senyumnya luntur, sepatu itu melayang terlalu tinggi untuk tiba - tiba jatuh ke kepala Vee. B-berarti...

Yep. Sepatu sebelah kanannya itu sukses mendarat menuju pohon angsana di taman belakang perpustakaan.

First shit.

Vee, gadis kampret itu memandangnya dengan tatapan iba, dan berkata dengan cepat sebelum ngacir entah kemana

"Lexy, itu bukan salah gue kan ya? Itu hasil dari niat jahat lu sendiri mau nimpuk gue yang tidak bersalah ini. Oh iya pelajaran Fisika gue bentar lagi mulai, gue balik kelas dulu ya, Dadah Lexy! Good luck hehe"

Alexa hanya bisa terdiam memandang kepergian manusia berjenis kelamin perempuan -yang sayangnya sahabatnya dari zaman ingusan itu-.

"Itu dia beneran ninggalin gue barusan?" Tanyanya kepada dirinya sendiri

"VEE KAMPRET!!!" Teriaknya membahana

Ia menghela nafas lelah,
Oh, ini bukan sepenuhnya salah dirinya, okay? Salahkan tingkat keberuntungannya yang selalu berada di bawah titik standar.

"Duh... Mana sih? Perasaan tadi nyangkutnya diatas sana deh" gumamnya gusar. Ia mendekat lalu berusaha menggoyangkan batang pohon tersebut. Yang tentunya tak ada faedahnya.

"Wehh... Itu dia!!!" Ujarnya girang saat melihat sepatunya berada di dahan yang sayangnya. Lagi. Terlalu tinggi untuk dipanjat. Dan ini hari senin yang artinya ia memakai rok sekolah.

Gadis itu lalu grasak grusuk mengambil apapun untuk dilemparkan keatas dahannya agar sepatu nya bisa jatuh ke tanah.

Ia mulai melemparkan benda benda tersebut,

Dan berhasil!

Sepatunya dengan bebas meluncur dari dahan tertinggi di pohon itu.

"Yess!!!" Teriaknya berbarengan dengan rintihan seseorang

Double shit.

"Anjer!" Umpat suara tersebut

"E-eh, itu siapa?"
" Weh sejak kapan hantu bisa ngumpat?" Gumamnya bergidik

Namun fikiran absurdnya teralihkan oleh laki - laki tampan yang berjalan kearahnya dari balik pohon itu, membawa sepatunya!

Jangan jangan dia pangeran tampan masa kini yang nemu sepatu gue Dan... Kisah gue bakal jadi Cinderella jaman now gitu??

"Ini sepatu lo?" Tanya nya

Suaranya aja ganteng:') -Alexa

Gadis itu mengangguk antusias. Namun senyumnya luntur saat mendeteksi aura sangat mencekam dari laki - laki di depannya.

"OHH.... INI SEPATU LO?!!" ngegas dia.

Triple shit.

"Woy anjir kepala gue sakit kena ini sepatu buluk lo!" Sentaknya galak

"Gimana sih lo?!"

Gadis itu berdecak jengkel. "Heh! Mana gue tau ada orang dibalik pohon itu! Lo Kira pohonnya transparan sampe gue bisa tau ada makhluk abstrak lain macem lo ini hah?" Sentaknya balik

Sama - sama ngegas bung... Saya suka.

"Apa lo bilang? Makhluk abstrak? Yang ada lo tuh makhluk abstrak! Sepatu kok bisa sampe manjat pohon" sinisnya

"Duhhh... Udah deh ya. Iya emang gue abstrak, lo juga abstrak! Puas lo? Sekarang balikin sepatu gue!" Ia mengulurkan tangannya

Laki - laki itu menatapnya sengit "lo mau pergi gitu aja setelah bikin kepala gue jadi gini? Hah?! Tanggung jawab lo!"

"Dih, tanggung jawab apaan? Emang gue ngehamilin lo?" Judesnya. Frontal.

"Nih cewe mulutnya... " laki - laki itu geleng kepala.

"Apalu? Ga seneng? Bodo." Balasnya

"Ck" decakan laki - laki itu berubah menjadi ringisan.
Badannya terhuyung saat ia merasakan pusing di kepalanya. Alexa memandangnya was - was

Eh eh kenapa ni anak?' Batinnya

Brukk!!

Uncountable shits.

Ia memandang panik laki - laki di depannya yang sudah tergeletak di tanah

"Duh, pake acara pingsan segala lagi" ujarnya

Ia menghela nafas panjang.

"Perasaan semalem gue gaada bikin rusuh deh, cuma nyolong Vanilla Latte nya abang aja.. Itupun kenapa juga abang belinya vanilla latte? Dia kan tau kalo gue tuh gabisa banget nganggurin kalo liat tuh minuman... Trus kenapa gue malah triple sial gini sih?" Ratapnya

Apa boleh buat? Jalan satu - satunya adalah membawa mantan-calon-pangeran-tampan-ala-drama-sinderela-pujaan-hatinya ke UKS.

Oh, dia emang pangeran. Pangeran Iblis.

'Untung bukan gue yang manjat tadi, kan?' Batinnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 22, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Cinder-What?Where stories live. Discover now