Malam hari, di pinggir jalanan sepi yang ada di sebuah sudut ibukota.
"A-aduh pak! Sakit ini ..." Ujar Dito yang sedang disudutkan ke mobil dengan tangannya di tahan ke punggungnya.
Malam itu Dito sedang melakukan kegiatan malamnya seperti biasa. Namun ia mengalami ketidak beruntungan, ya ... Tapi, bahkan sebelum dia bisa mulai. Dia tertangkap polisi.
"Sudah, kamu ikut saja ke kantor dengan saya!" Polisi yang sedang menahan Dito berkata.
"Ah ... Ba-baiklah pak, saya ikut! Tapi harus tanggung jawab ya?"
"Tanggung jawab apa maksud kamu?" kebingungan.
"Yah ... Gimana ya pak ngomongnya, saya sebenernya gak pengen jadi begini." Dito berkata dengan nada tidak berdaya.
"Hmm ... Apa yg sebenarnya ingin kau katakan?!"
"Pak, jujur ... Begini-begini saya sebenernya lulusan S1." Ia berkata dengan cukup bangga.
"S1? Lulusan S1 tapi kerjaan kamu begini? Masih punya muka kamu banggain diri begitu?!" Menatap Dito dengan kasihan dan sedikit cibiran.
"Tentu saja bangga pak! Ini hasil kerja keras saya ... Tapi bukan ini yang mau saya katakan,"
"Jangan muter-muter kalau ngomong, langsung aja ke intinya!" Polisi itu mulai agak tidak sabar dengannya.
"Sebelum saya jadi pencuri begini, saya sebenarnya sudah mencoba melamar pekerjaan, bahkan hingga tiga kali pak," Jadi agak serius.
"Terus??"
"Tentu saja saya ditolak! Dan teman saya, yang saat itu melamar kerja bersama saya berkata kalau yang bisa lolos dan diterima itu adalah orang-orang yang memiliki kenalan orang dalam." Saat mengatakannya Dito merasa kesal, namun ia tak berdaya.
Mendengarkan ini, polisi itu mengerutkan dahi. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?! Aku masih belum mengerti ..."
"Kalau saya tidak bisa kerja, saya gak bisa makan pak! Jadi saat saya butuh, tapi tidak bisa mendapat pekerjaan ... Dari pada mengemis, saya memutuskan untuk mencuri!"
Pria berusia 23 tahun itu benar benar terlihat tak berdaya dan berhenti melawan lagi.
Dito memasang senyum miris di wajahnya lalu berkata, "Bapak ingin saya untuk tidak mengulangi perbuatan saya setelah dibebaskan, kan? Tapi maaf pak, saya akan tetap melakukan ini berapa kalipun tertangkap."
"Kenapa kau masih ingin melakukan itu?! Kenapa kau tidak berpikir untuk berubah?!" Bertanya dengan tegas.
"Dengan saya dipenjara, ini sudah menjadi buntu untuk saya pak. Sebelumnya, saat saya masih sangat baik aja gak ada yang mau menerima saya kerja ... Apalagi kalau mereka tahu saya pernah di penjara." Berkata dengan tak berdaya.
Polisi itu tanpa sadar melonggarkan pegangannya pada Dito saat mendengar itu.
"Maka dari itu pak ..." Merasa dilonggarkan, ia segera melepaskan diri dari cengkeraman polisi itu.
"Hei...!" Polisi itu jadi agak panik saat sadar kalau Dito berhasil meloloskan diri.
"Saya tidakakan lari kok pak," Tersenyum.
"Saya cuma minta bapak untuk bertanggung jawab dengan nasib saya setelah dibebaskan nanti jika saya tak bisa mendapat pekerjaan ..." Masih tersenyum ke arah polisi itu.
"Hmm...." Ia terus menatap pemuda di hadapannya yang memiliki pemikiran dan nyali sebesar ini dengan terheran heran.
"Bagaimana jika saya tidak mau?" Polisi itu lanjut bertanya.
"Lalu saya akan tetap mencuri lagi setelah bebas!" Dito berkata dengan nada menentukan.
