Selalu bahagia sekecil apapun

127 52 13
                                        

Badru adalah namaku, aku dilahirkan 16 tahun yang lalu, disebuah kota pinggiran ibu kota Jakarta, kini aku duduk dikelas XI IPA, disebuah Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) dikotaku. Aku dilahirkan dari keluarga yang ekonominya kurang mampu ibuku hanya seorang yang sehari-hari hanya sebagai buruh cuci disebuah rumah orang dikotaku, sementara ayahku hanyalah seorang pedagang keliling yang penghasilannya pun tidak tetap.Terkadang aku selalu mengeluh atas keadaan keluarga ku ini. Apalagi jika aku ingin mempunyai keinginan, ayah tidak pernah mengabulkannya.beda dengan adik perempuanku yang tidak pernah menuntut apa apa.

Dalam keseharian aku sama seperti anak anak yang lain, pergi kesekolah setiap pagi, pulang di sore hari, dari hari senin hingga hari jumat, sedangkan sabtu dan minggu disaat libur aku sering menghabiskan waktu didalam rumah saja. Sementara adikku lebih banyak membantu ibu dirumah.

****

Pada suatu malam setelah solat isya tiba tiba ayah berjalan menghampiri ku yang sedang duduk di depan teras sambil menikmati secangkir teh yang hangat.

Kata ayah "Badru besok kita berjualan ditempat pak lurah yang sedang mengadakan sunatan anaknya, kabarnya akan ada hiburan wayang golek tiga hari tiga malam, pasti banyak orang yang datang" ucap ayah kepadaku

lalu aku pun menjawab dengan nada sedikit malas "Hmmm, badru ada janji dengan teman" jawabku dengan ayah

Lalu ayah mencoba membujuknya kembali dengan raut muka yang sedikit kecewa.

"Cobalah sesekali bantu ayah berjualan"pinta ayah kepadaku.

Dengan sedikit terpaksa akhirnya aku mau membantu ayah untuk berjualan.

.****

Tepatnya dihari sabtu, aku dan ayah sudah
mempersiapkan dagangan, berupa jagung muda mentah yang aku petik dikebun milik orang , dan juga peralatan untuk membakar jagung.Begitu Pagi tiba, aku dan ayah sudah berjalan menuju rumah pak lurah, karena jarak tempuh dari rumahku cukup jauh, bila berjalan kaki hampir satu jam baru tiba.maka kami memutuskan untuk menaiki motor tua peninggalan kakekku.

"Ayah kenapa sih!tidak membeli motor baru?kan kalau gaada motor jalannya jadi capek kesananya"kata Badru dengan nada yang sedikit kesal

Tetapi ayah tidak menjawab,dan malah langsung menggas laju motor dengan kencang karena takut tidak kebagian tempat untuk berdagang nanti.

****

Setelah satu jam di perjalanan aku pun tiba di tempat. Saat itu suasana kelihatan sangat ramai, sudah banyak orang yang berjualan, mulai berjualan makanan ringan, minuman dingin hingga mainan anak pun sudah ada. Sementara itu aku dan ayah sedang sibuk mencari tempat untuk berdagang.

"Badru, kita disini saja dekat pohon ini, kita susun dagangan kita di bawah pohon" pinta ayah Aku pun menggelengkan kepala tanda mengiyakan.

"Baik ayah hmmm"saut ku sambil terpaksa

****

Di keramaian sudah terlihat beberapa orang mulai ramai datang kerumah pak lurah, kebetulan acara sunatan sudah berlangsung tadi pagi jam 7, namun para tamu undangan pak lurah sudah berdatangan.Aku dan ayah mulai panik karena dagangan blom juga tersusun dengan rapih sedangkan para undangan sudah banyak mulai berdatangan ke rumah pak lurah

"Ayo badru siapkan arangnya, dan masukkan ketempat pembakaran ini," perintah ayah sambil memasang muka yang sedikit marah

tanpa menunggu waktu aku pun langsung mematuhi apa yang diperintahkan ayah.
Ayah pun dengan cekatan membuka sebagian jagung muda yang disimpan didalam karung dan kemudian satu persatu kulit luarnya dikupas, agar api pembakaran langsung mengenai biji jagungnya. Aku pun mencoba menyalakan arang dengan sobekan kertas yang sudah dinyalakan dan mengipas pelan-pelan dengan kipas yang terbuat dari kayu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 29, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SELALU BAHAGIA SEKECIL APAPUNStories to obsess over. Discover now