Permainan

49 24 9
                                        

         Suatu malam, Pepi sedang duduk di atas kursi reyot, di bawah cahaya petromaks yang sedang menyala, sambil membaca sebuah buku inspiratif yang ia pinjam dari perpustakaan di sekolah Nya. Dengan ditemani suara gemercik air hujan serta suara katak dan jangkrik yang berbunyi saling bersahutan. Malam itu Pepi sedang sangat fokus membaca buku itu,  bahkan waktu telah menunjukan pukul 23.00 malam, tetapi Pepi masih tetap fokus dengan buku yang sedang dibacanya, karena buku ini sangat menarik perhatian Pepi. Pepi memang sangat senang membaca buku, baik itu buku fiksi maupun buku non-fiksi, berbagai macam buku telah ia baca. Pepi sering menghabiskan hari nya dengan membaca buku. Dari hobi membaca Nya itu, Pepi selalu menjadi juara kelas disekolah Nya bahkan sering mengikuti perlombaan, baik itu tingkat Kabupaten maupun Provinsi.

         Pepi merupakan seorang anak lelaki kelahiran tanah Minang yang tinggal di kampung yang sangat jauh dari perkotaan. Pepi bukan berasal dari keluarga yang mampu, ayah Pepi merupakan seorang buruh tani dan ibu nya merupakan seorang ibu rumah tangga. Walaupun berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu, tetapi Pepi tetap bersemangat untuk terus belajar dan ingin menggapai cita–cita nya. 

         Waktu telah menunjukan jam 00.10 malam, Pepi baru saja selesai membaca buku itu. Pepi terkejut ketika melihat jam, Pepi tidak sadar bahwa dirinya telah membaca buku dari jam selama 4 jam, sampai ia lupa untuk makan malam. Tetapi setelah membaca buku itu Pepi sangat senang karena sangat terinspirasi oleh buku itu, ia semakin bersemangat untuk menggapai cita-cita nya untuk pergi belajar di Eropa.
“Tapi bagaimana bisa Awak pergi ke Eropa, untuk melanjutkan ke SMA pun Awak sudah sangat bersyukur.” Ucap Pepi di dalam hati.
Pepi berbaring di atas ranjang kayu sambil merenung memikirkan nasib Nya, karena ia sadar ia bukan berasal dari keluarga yang memiliki banyak harta. Ia juga harus bersusah payah membantu orang tua nya mencari uang untuk bisa bersekolah, karena ia punya dua adik yang harus bersekolah juga. Tetapi Pepi yakin semua pasti ada jalannya, asalkan kita mau untuk berusaha.

         Pagi telah tiba, ayam-ayam mulai berkokok saling bersahutan satu sama lain. Pepi pun terbangun, waktu menunjukan pukul 04.30 pagi, kemudian ia beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan melanjutkan  salat subuh bersama ayah, ibu dan adik-adiknya. Setelah selesai salat subuh ayah selalu memimpin doa dan setelah itu beliau selalu memberi nasihat kepada anak - anak nya “jadilah orang yang berguna, jangan tinggi hati ketika kita sudah sukses.”

         Pagi ini langit tampak begitu cerah, Pepi sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dengan menggendong tas warna hitam di pundak nya, Pepi beranjak pamit kepada orang tua nya. Kemudian pergi ke depan rumah untuk mengambil sepeda. Dengan menggunakan sepeda Ontel tua peninggalan kakeknya, Pepi berangkat ke sekolah. Jarak rumah Pepi dengan sekolah nya memang cukup jauh, dan harus menghabiskan waktu selama 30 menit. Oleh karena itu Pepi harus berangkat dari rumah pagi – pagi sekali.

         Jam 06.15 Pepi sampai di depan gerbang sekolah, kemudian ia beranjak ke tempat parkir yang tidak begitu luas yang hanya lahan kosong yang di jadikan tempat parkir sekolah. Pepi memarkirkan sepeda nya di bawah pohon mangga yang rindang, berendeng dengan beberapa sepeda para siswa lainnya. Pagi itu suasana di sekolah para siswa sedang sangat sibuk ada yang sedang membersihkan kelas dan halaman kelas nya, ada juga yang sedang geladi upacara, sedangkan teman kelas Pepi sendiri sedang sibuk untuk mengerjakan tugas yang diberikan Ibu Rina minggu lalu. Ibu Rina merupakan seorang guru Bahasa Indonesia yang dikenal oleh para siswa dengan guru killer, oleh karena itu banyak siswa yang takut bahkan tidak berani membangkang terhadap beliau. Bahkan pernah ada seorang siswa yang pernah bermasalah dengannya karena bolos pada jam pelajaran beliau, kemudian siswa tersebut di panggil ke ruang guru dan diberi hukuman untuk membersihkan toilet dan membaca satu buah buku novel.
Teng, teng, teng, teng.....

         Suara lonceng dipukul yang menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar dimulai. Hari itu kebetulan hari senin, dan lonceng tersebut menandakan bahwa seluruh siswa harus segera berkumpul di lapangan upacara untuk melaksaakan upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari senin pagi. Seluruh siswa berlarian keluar kelas menuju lapangan upacara, karena Pak Tirto seorang guru agama sekaligus pembina osis yang juga dikenal sebagai guru killer sudah berteriak-teriak sambil berkeliling ke setiap kelas. Semua siswa telah berbaris rapi di lapangan upacara termasuk Pepi dan teman - teman kelas nya. Para guru dan staff tata usaha pun sudah berbaris di hadapan barisan para siswa. Kebetulan yang menjadi pembina upacara kali ini adalah Pak Tirto. Upacara berlangsung dengan lancar. Ketika dipertengahan upacara, Pak Tirto menyampaikan amanat nya. Pak Tirto menyampaikan amanat bahwa kelas 12 tidak lama lagi kurang lebi 6 bulan lagi kelas 12 akan menghadapi ujian nasional, oleh karena itu Pak Tirto meminta kepada seluruh siswa siswi kelas 12 untuk segera mempersiapkan diri dari sekarang dan mengurangi kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler. Dan Pak Tirto juga meminta kepada siswa siswi kelas 12 agar mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi nya baik yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri atau swasta ataupun sekolah kedinasan. Ditengah Pak Tirto memberi amanat, tiba – tiba terjadi keributan di sebelah utara lapangan upacara, yaitu dari gerbang sekolah. Sontak seluruh mata yang ada di lapangan upacara menoleh ke arah keributan tersebut. Disana tampak penjaga sekolah yang sekaligus menjadi satpam di sekolah sedang beradu cek-cok dengan beberapa siswa yang terlambat. Tak lama kemudian Pak Tirto yang tengah memberikan amanat meminta penjaga sekolah untuk membawa segerombolan siswa yang terlambat tersebut. Kemudian penjaga sekolah masuk ke lapangan upacara sambil menggiring segerombolan siswa yang datang terlambat itu. Di dalam gerombolan tersebut nampak dua orang sahabat Pepi yang juga teman sekelasnya, yaitu Aldi dan Zen. Aldi yang biasa mukanya ceria dan penuh dengan humor kini nampak begitu melas. Dan Zen orang nya itu polos dan tidak pernah memiliki masalah di sekolah, entah kenapa kali ini ia pun ikut terlambat. Kemudian Pak Tirto turun dari mimbar upacara dan berteriak sambil menunjuk nunjuk kepada para siswa yang terlambat untuk berdiri di depan lapangan upacara. Lalu beliau kembali ke mimbar upacara lagi.
“ Lihat ini, salah satu contoh calon sampah masyarakat ! Ini merupkan salah satu perilku yang sangat tidak patut untuk di tiru, perilaku tidak disiplin. Saya sudah seringkali berbicara tentang kedisiplinan, tetapi masih saja ada yang tidak menerapkannya.” Ucap Pak Tirto terhadap peserta upacara.
“ Setelah ini untuk kalian yang terlambat, tetap berada di lapangan upacara!” Lanjut Pak Tirto.

         Upacara telah selesai semua siswa berpencar keluar lapangan untuk memasuki kelas. Pepi sendiri ia masih tidak menyangka bahwa kedua sahabat baiknya itu bisa terjerat masalah.

         Jam pelajaran pertama sudah dimulai. Seluruh siswa masuk ke dalam kelas nya masing-masing. Kecuali segerombolan siswa termasuk Aldi dan Zen yang terlambat, karena harus menerma hukuman yang diberikan oleh Pak Tirto. Hari ini nampak terlihat ada yang berbeda di dalam kelas. Ibu Rina masuk ke ruang kelas dengan di ikuti oleh seorang wanita muda sekitar 28 tahuan, tinggi dan cantik. Tak lama kemudian mereka berdua berhenti di depan kelas, lalu Ibu Rina mulai berbicara.
“ Anak-anak perkenalkan ini adalah Ibu Amanda beliau berasal dari Jakarta, beliau ini yang nantinya akan mengajar Bahasa Indonesia menggantikan saya.” Ucap Ibu Rina.
“Hore....” teriak salah seorang anak dari pojok kelas.

         Ibu Rina memang beliau selama ini jadwal mengajarnya sangat padat karena guru Bahasa Indonesia di sekolah ini hanya ada dua orang. Tak lama kemudian Ibu Rina pamit beranjak undur diri. Kemudian kelas dilanjutkan oleh Ibu Amanda. Ibu Amanda mengawali kegiatan belajar dengan memperkenalkan diri dan bercerita tentang pengalaman beliau ketika di SMA pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika, kemudian di lanjut bercerita tentang pengalaman beliau selama kuliah, dan bercerita tentang lika-liku kehidupan di Ibu Kota. Kemudian salah seorang siswi yang duduk di barisan paling depan yang sangat akrab dengan Pepi, dia juga salah satu murid pindahan dari Jakarta sejak kelas 11, yaitu Putri, ia mengacungkan tangan kemudian ia bercerita bahwa ia juga pindahan dari Jakarta. Karena tugas orang tua.
Teng, teng, teng..... suara lonceng berbunyi menandakan jam istirahat.
Pepi terliha sedang membaca sebuah buku novel. Kemudian seorang siswi dengan perawakan yang agak tinggi datang menghampiri Pepi. Ternyata wanita itu adalah Putri.
“Maaf ganggu, Pep ke kantin yu...” tawar Putri kepada Pepi.
“Mmm.. Ayo !” jawab Pepi dengan penuh semangat.
“Pep, ngomong-ngomong kamu udah ngerjain tugas Fisika?” tanya Putri sambil berjalan menuju kantin.
“Udah” jawab Pepi.
“Abis ini aku boleh minta tolong ajarin? Soalnya aku masih kurang paham sama materinya.”
“Oke boleh aja.” Jawab Pepi.

         Sesampainya mereka di kelas, kemudian mereka mulai berdiskusi tentang tugas fisika. Pepi menjelaskan beberapa materi kepada Putri. Dan Putri dengan semangat mendengarkannya. Mereka berdua sangat akrab sejak Putri pertma kali pindah ke sekolah tersebut. Lama kelamaan mulailah tumbuh rasa cinta di dalam hati Pepi. Namun selalu ia pendam.

         Hari demi hari telah berlalu Pepi dan Putri semakin saling dekat, bahkan mereka sering berangkat  dan pulang bareng. Suatu hari Pepi mengajak Putri untuk berjalan-jalan berkeliling kampung. Kemudian Pepi mengajak Putri ke danau, mereka duduk di kursi yang terbuat dari bambu yang terdapat di tepi danau. Kemudian tidak sengaja Pepi melontarkan  kalimat. “Putri asalkan dirimu tahu sebenarnya Awak ini cinta sama kamu.”
“Eh maaf tadi itu Awak salah ucap” Ucap Pepi yang berpura-pura salah ucap padahal di dalam hatinya itu, ia mengucapkan nya dengan tulus.

         Putri hanya senyum-senyum manis karena tersipu malu. Tak lama kemudian Putri menjawab
“Hmm... Iya akupun suka sama kamu, menurutku kamu itu orang nya baik, pintar, rajin membaca buku, menurutku kamu itu perfect.” Jawab Putri.

         Hari demi hari Pepi dan Putri semakin dekat, mereka berdua seolah-olah seperti orang yang pacaran namun mereka tidak berpcaran, tetapi mereka berdua saling mencintai. Suatu hari di sekolah, mereka sedang berjalan dari kelas menuju ruang perpustakaan. Ketika di tengah jalan, Putri tiba-tiba sakit perut, kemudian Putri meminta tolong Pepi untuk membawakan buku diary dan buku paket Matematika nya, serta menunggu Putri untuk pergi ke toilet. Ketika Pei sedang duduk di bawah Pohon sambil menunggu Putri, Pepi tida sengaja membaca halaman depan buku diary Putri. Pepi penasaran dengan isi bukunya, kemudian tak sengaja ia membuka buku diary milik Putri. Pepi tidak menyngka bahwa ternyata Putri itu senang menulis, Pepi melihat di dalam buku diary itu banyak terdapat puisi yang diciptakan oleh Putri. Ppei terus membuka lembaran demi lembaran, Pepi terkejud ketika neliha pada lembaran tengah buku terdapat foto-foto seorang anak lelaki, kemudian pada lembar berikut nya Pepi dukejutkan dengan adanya foto-foto Putri berduaan dengan laki-laki tadi, dan banyak sekali terdapat tulisan-tulisan romantis yang Putri buat. Pepi kecewa dan merasa sakit hati, ternyata wanita yang selama ini ia cintai telah mempunyai laki-laki lain yang tentunya lebih cakep dan lebih kya dari Pepi. Tak lama kemudian Putri telah kembali dari toilet, Pepi masih memendam rasa kekecewaan nya itu.
“Put, ini buku kamu, awak hendak pergi ke kelas saja.” Ucap Pepi terhadap Putri dengan rasa kecewa.
“Lah ngga jadi ke Perpus?” Tanya Putri yang tak mengerti terhadap Pepi. Yang tiba-tiba seperti itu.

         Tanpa banyak bicara, Pepi pergi ke kelas meninggalkan Putri sendiri di bawah pohon. Putri mengejarnya di belakang sambil berteriak, “Pepi tungguin dong!”
Teng, teng, teng, teng.... Lonceng berbunyi menandakan waktu pulang.
Kemudian Pepi bergegas membawa tasnya meninggalkan kelas. Putri yang merasa keheranan langsung mengejar Pepi. Dan Putri pun berhasil mengejar Pepi.
“Pepi kamu kenapa si? Mara sama aku? Kenapa?” Tanya Putri keheranan.
“Put, kamu tahu tidak rasanya mencintai, tetapi orang yang kamu cintai ternyata sudah ada orang lain yang dicintai nya? Kamu kenapa ngga bilang dari awal kalau amu itu sudah punya pacar, Put?”
“Kamu baca buku diary aku ya? Ngga sopan banget si!” Jawab Putri dengan nada tinggi, sambil menampar Pepi.
“Jawab Put, siapa lelaki itu.” Tanya Pepi penasaran.
“Iya itu memang pacarku, kenapa, kamu cemburu? Kita kan ngga hubungan apapun selain sebatas teman!”
“Jadi selama ini kau anggap hubungan kita ini hanya sebatas  teman? Jadi selama ini kamu Cuma mempermainkan Awak?”

         Tak banyak bicara lagi Pepi langsung beranjak pergi meninggalkan Putri dengan rasa kecewa. Pepi pulang menuju  rumah nya. sesampai nya dirumah, Pepi langsung masuk kedalam kamrnya, dan berbaring di atas ranjang nya. Pepi masih kecewa dengan apa yang Putri perbuat terhadap dirinya.

         Hari demi hari telah berlalu, kini telah tiba saatnya Ujian Nasional. Dan Pepi sudah mulai melupakan rasa cintanya terhadap Putri, dan kini mereka tidak seakrab dulu lagi. Beberapa minggu kemudian hasil Ujian Nasional pun keluar. Ternyata Ppepi mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya dan di Provinsi Sumatra Barat. Semua orang di kampung itu sangat bangga terhadap Pepi, termasuk Putri yang mengucapkan selamat dan meminta maaf kepada Pepi atas kejadian yang telah berlalu. Setelah hasil UN keluar dan semua dinyatakan lulus, seluruh siswa pada sibuk untuk mempersiapkan melanjutkan pendidikannya. Sedangkan Pepi sangat sibuk untuk mencari beasiswa studi ke luar negeri, dengan dibantu oleh Ibu Amanda. Pepi menemukan 3 pendaftaran beasiswa yang ia temukan dari internet dan info dari Ibu Amanda. Yaitu, untuk studi ke Amerika, studi ke Inggris dan satu lagi studi ke Negara Jerman. Pepi sangat antusias mengikuti seleksi beasiswa tersebut, Pepi mulai menyiapkan berkas-berkas yang ia perlukan untuk mendaftar beasiswa. Dengan dibantu oleh Ibu Amanda, Pepi mendaftarkan dirinya di ketiga beasiswa itu. Sampai di hari pengumuman seleksi penerima beasiswa studi ke Amerika. Pepi melihat hasil seleksi tersebut dengan menggunakan laptop Ibu Amanda. Ternyata Pepi tidak lolos, ia merasa kecewa namun ia masih menunggu hasil seleksi beasiswa yang lainnya. Ketika pengumuman seleksi beasiswa studi ke Inggris diumumkan, Pepi langsung melihat hasil seleksinya, dan ternyata Pepi tidak lolos juga. Pepi sudah merasa kecewa dan sudah pesimis bahwa beasiswa yang satu nya lagi pun ia tak akan lolos. 3 hari kemudian Ibu Amanda menemui Pepi dirumahnya untuk memberitahukan bahwa Pepi lolos seleksi tahap 1 beasiswa ke Jerman. Pepi merasa sangat senang bahkan Orang Tua Pepi pun merasa sangat bangga. Kemudian Ppepi meminta izin kepada Orang Tuanya untuk mengikuti seleksi tahap selanjutnya. Dan tidak disangka Pepi lolos di tahap-tahap berikutnya. Dan Pepi dinyatakan lolos seleksi beasswa studi ke Jerman. Pepi tak menyangka bahwa cita-citanya dari dulu kini tercapai.

         Beberapa bulan telah berlalu, kini tiba saatnya untuk Pepi akan berangkat ke Jerman minggu depan. Pepi mulai berpamitan dengan orang-orang dikampung, dan berpamitan kepada guru-guru di sekolahnya. Namun Pepi merasa sedih ketika ia akan pergi, ternyata Putri sudah tidak lagi berada di Padang, ia telah melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Kini telah tiba di hari dimana Pepi akan berangkat ke Jerman. Pepi diantar ke Bandara oleh pihak sekolah dan Orang Tua Pepi yang juga ikut mengantarkan Pepi ke Bandara. Sebagai Orang Tua yang telah merawat Pepi dari kecil, sangat berat rasanya melepaskan anaknya pergi ke luar neger. Tapi demi cita-cita anaknya, beliau rela mengikhlaskannya.
TAMAT

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 27, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PermainanWhere stories live. Discover now