Deruhan napas yang terengah-engah tak menentu, kaki nya yang putih berlari dengan cepatnya, menerobos kerumunan orang-orang yang tengah berbahagia sambil berfoto ria, terus mencari sosok para sahabatnya.
"Nadia! Indah! Muti!" teriaknya ketika menemukan para sahabatnya itu.
"Kenapa La? kok pucat? santuy dong, walaupun hari ini kita berpisah, nanti kita pasti ketemu lagi.. ya kan?" ucap salah satu sahabatnya.
Lala terdiam sejenak, mengatur napasnya, lalu bicara "Kalian.. beneran bakal masuk ke SMA lain?, bukannya kalian bilang kita akan masuk ke SMA yang sama!" dengan air mata yang mulai berderai.
Sahabat-sahabat Lala diam saling memandang, sambil menepuk bahu Lala, dengan perlahan menjawab, "La, masa depan kita berbeda, kami juga ingin mengejar mimpi kami, waktu untuk bermain-main sudah lewat, jadi kita harus fokus pada hidup masing-masing, maaf ya.."
Begitulah, perpisahan Lala Syafira dengan para sahabatnya, gadis berwajah cuby dengan tubuh buntal dan berkulit putih yang akan memulai kehidupan SMA nya yang baru, sendirian.
***
Sore itu, angin berhembus kencang, mengibas rambut pirang seorang gadis yang tengah berdiri diantara dua tiang bangunan sekolahnya, gadis yang sama dengan beberapa bulan silam menangis di atas anak tangga yang menjadi saksi bisu perpisahannya dengan para sahabat. Ia sekarang terlihat begitu bahagia, senyum terukir di wajahnya yang memerah seperti buah persik, penampilannya yang berubah memberi kesan dewasa, namun wajah cuby nya tetap menjadi ciri tersendiri bagi dirinya.
ya, dia Lala, banyak yang berubah di kehidupannya sejak saat itu, bukan hanya keluarga, teman-teman baru nya juga sangat menyukainya, ia bukan lagi gadis yang kesepian.
Lala bersenandung ria menikmati waktu, tanpa sadar sepasang mata tengah memperhatikannya dari jauh, ia baru saja ingin berjalan mendekat ke arah Lala, namun terhenti karena keduluan oleh seseorang.
"Woi Lak! nyaman banget berdiri disini, ngeliatin siapa?" seru seorang laki-laki yang ternyata sahabatnya Lala.
"Nggak ngeliatin siapa-siapa atuh, disini mah mana ada cogan lewat," jawab Lala sambil cengengesan.
"Ada dong, nih gue di depan mata lo udah terpampang cogan ori" sahut sahabatnya yang mengundang gelak tawa Lala.
Melihat Lala tertawa bahagia, membuat sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka berbalik arah sambil berdengus kesal meninggalkan tempatnya.
YOU ARE READING
Takdir Kecil
Teen FictionDia, seorang gadis kecil yang selalu memikirkan perasaan orang lain, dia sering menangis disaat sendirian, dia terlalu sering menciptakan topeng kebahagian di wajahnya, sampai akhirnya rasa sakitnya sudah jadi bagian dari dirinya.
