Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1

1.5K 29 8
                                        

Rayhan memandangi wajah sang Ayah dengan perasaan kecewa. Ayah yang sudah Dia anggap sebagai idolanya dari kecil, sekarang menjadi orang yang paling ia benci.

Dua orang dewasa di depan Rayhan terus saja memberikan penjelasan-penjelasan konyol kepadanya.

Dia memang masih berusia 18 tahun, tapi paham betul apa yang di bicarakan dua orang dewasa itu, yang tampak sedang di mabuk asmara.

Lihat saja mata tua itu sangat mendamba dari netra sang Ayah, ketika menatap wajah palsu perempuan yang sedang digandeng oleh laki-laki itu. Ingin rasanya Rayhan mencekik dan mencakar wajah dengan senyuman palsunya itu. Muak rasanya melihat singa betina.

    "Rayhan, Rahma yang akan menggantikan Ibumu. Jadi kamu harus menghormatinya"

Rayhan terlalu malas untuk menatap wajah sok manis itu. Sampai ayahnya menegur.
 
    "Aku sudah tidak memiliki ibu. Ibuku meninggal seminggu yang lalu, dan apa untungnya aku menghormati wanita murahan itu."

    "Rayhan, jaga ucapanmu itu."

Dalton berusaha menegur putra kesayangannya. Ia tak habis pikir, Rayhan dapat mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti itu. Setaunya, Rayhan anak yang penurut. Dan dapat menjaga sopan santunnya kepada orang lain.

Memang ini semua salah Dalton, ia memperkenalkan Rahma- kekasihnya- saat setelah ibu Rayhan meninggal. Mau di jelaskan panjang lebarpun tidak akan berpengaruh pada Rayhan yang sudah terlanjur kecewa dan benci kepada Dalton dan wanita disampingnya ini.

    " Sudah mas, jangan marahi Rayhan. Diakan masih kecil, pelan-pelan aja."

Rayhan sangat muak dengan kata-kata manis jalang di depannya ini. Rayhan hendak pergi ke kamarnya, karena sudah tidak nafsu makan.

Memang sedari awal ketika ayahnya mengajak wanita itu bergabung, Rayhan sudah kehilangan selera makannya.

    "Makan makananmu Rey. Tidak baik menyia-nyiakan makanan. Duduk dan kembali makan." Tegas Dalton.

Sekaan tuli, Rayhan melangkah kan kakinya menuju tangga. Kaki jenjangnya masih menggantung di anak tangga pertama, tapi terlebih dulu di kejutkan oleh senggolan anak kecil yang lari dari arah berlawanan.

Karena tubuhnya lebih pendek dan kecil dari Rayhan. Membuat anak kecil itu terjatuh dan tersungkur di lantai. Hampir saja gadis cantik itu menangis, tetapi di urungkan ketika melihat Rayhan di depannya.

Rayhan berjongkok dan menarik dagu anak kecil tersebut. Ia sempat terkejut, ketika netra hijau lumut itu menangkapnya.

   ''Sama persis dengan jalang itu, semoga saja kau besar nanti tidak menuruni sifat ibumu" Ucap Rayhan, seraya mengusap rambut ikal hitam milik anak kecil yang diperkirakan masih berumur 8 tahun.

Gadis cantik yang selalu membawa boneka kesayanganny itu, tampak tersenyum lebar. Kala Rayhan menjulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Dia sangat senang oleh kehadiran laki-laki yang berbeda umur di atasnya. Gadis kecil itu menganggapnya sebagai Pangerannya. Ia bersumpah akan selalu bersama pangerannya.

....

Suasana pagi di meja makan keluarga Bramantyo seperti tampak keluarga bahagia. Dengan sepasang suami istri yang menebarkan kemesraan yang sangat harmoni. Dan putra putri nya yang tampan dan cantik.

Tapi tidak dengan Rayhan. Ia sangat malas sebenarnya untuk bergabung semeja dengan wanita jalang itu. Tapi bagaimana lagi, ia masih harus menghormati Ayahnya walaupun dia sangat membenci pria tersebut.

    "Rayhan, perkenalkan dia Rachel. Adik kamu. Rachel panggil dia kakak Rey" Ucap Dalton dengan bergantian pandang pada Rayhan dan gadis manis itu.

    "Papa, bolehkan Rachel panggil dia pangeran saja. Karena dia sudah membantu Rachel saat Rachel sedang dalam masalah"

Bibir mungil itu tersenyum lebar pada Rayhan yang duduk tepat di depannya. Setelah Ia mengajukan keinginannya kepada Papa baru Rachel.

Awalnya Rachel tidak mau memanggil Dalton papa. Karena kata mamanya, Rachel sudah tidak memiliki seorang Ayah. Tetapi bujukan Dalton membuat Gadis manis itu setuju untuk memanggilnya papa. Dengan syarat, Rachel akan bermain terus dengan Rayhan. Rachel sangat senang sekali waktu itu, sampai mengigau memanggil Rayhan.

     "Ayah, Rayhan berangkat sekolah."

     "Bagaimana rencana mu ke New York. Kau jadi kesana nak. Ayah fikir, lebih baik melanjutkan disini saja. Toh banyak Universitas terkenal di jakarta."

     "Aku akan tetap pergi ke New Yok, yah. Aku sudah muak tinggal disini. Mungkin bisa aku percepat seminggu lagi, karena kelulusannya lusa. Kalau Ayah sibuk, tak apa. Tidak usah menghadiri wisuda konyol itu. Toh aku juga malas untuk datang."

Rayhan berlalu meninggalkan ruang makan, dan tidak peduli dengan teriakan dari Sang Ayah.

    "Sabar Mas, udah jangan di bawa kehati. Dia masih remaja, jadi suka labil dan berapi-api. Kamu turutin aja apa maunya dia. Nanti Rayhan perlahan bakal ngerti kok"

   "Aku merasa gagal jadi seorang Ayah mah."

Dalton hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Ia gagal menjadi seorang ayah. Dalton selalu tidak ada, ketika Rayhan memintanya untuk mengambil rapot di sekolahan. Dalton tidak ada, ketika Rayhan wisuda SMP. Dan pertemuan penting lainnya. Hanya ibu kandungnya yang selalu ada untuk Rayhan.

Sekarang wanita itu sudah meninggal, setelah di fonis penyakit kanker serviks. Ironinya, penyakit itu sudah memasuki stadium akhir. Selama ini Mona- Ibu Rayhan- merahasiakan penyakit itu. Ia tidak ingin membuat anak semata wayangnya cemas. Kematian Mona membuat Dalton memburuk. Semua ini salahnya.

...

Rayhan bertekad akan meninggalkan rumah Sang Ayah. Rumah yang dahulu dia anggap sebagai sugra baginya, sekarang semua sirna, setelah wanita jalang dan putrinya-  yang sialnya sangat manis-, masuk kerumah megahnya.

Gadis kecil itu selalu mengganggu Rayhan. Setelah kejadian adu mulut dengan Ayahnya tempo hari, Rachel selalu menanyai keberangkatannya ke New York. Di mana pun keberadaan Rayhan, Rachel akan selalu mengekori kemanapun Rayhan pergi. Dia takut akan ditinggal oleh Rayhan.

Sampai saatnya Rayhan pergi. Gadis kecil itu terus saja melingkarkan tangannya di perut Rayhan. Karena tinggi Rachel hanya sebatas perut Rayhan.

Rayhan menatap kedalam netra cokelat milik Rachel. Terdapat memohon kepada Rayhan untuk tetap di sampingnya. Selama seminggu ini Rayhan lebih dekat dengan Rachel. Karena Rachel yang menempelinya terus-menerus. Walaupun ketika sedang bersama Rayhan jarang bicara. Hanya Rachel yang mendominasi pembicaraan. Tapi Ia sudah merasa dekat dengan Rachel. Rayhan juga merasakan sedikit keengganan untuknya pergi. Tapi dia harus pergi. Itulah tekadnya setelah wanita itu datang dan merusak segala yang dia punya.

    "Aku akan kembali."

....

Jangan lupa vote dan komen sayang

Why?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang