Seoul, 2003.
"JINYOUNG-AH! Kali ini kau yang jaga!"
Lapangan itu terlalu luas untuk kaki kecil Jinyoung yang tergesa-gesa mencapai sebuah titik yang bila disentuh kau tak perlu bersusah payah untuk mencari lainnya. Kaus yang yang ia kenakan sedikit lusuh karena sempat mencoba bersembunyi di selokan kering. Ia tahu, kedua kakak perempuannya pandai sekali menemukan dirinya yang memang tak pandai bersembunyi. Tentu saja, mereka lebih berpengalaman. Dan meskipun begitu, bagi Jinyoung kesempatan untuk bermain di luar itu lebih berharga dibandingkan berdiam diri di rumah.
Matahari sore itu masih terasa amat terik meskipun puncak musim panas telah berakhir. Jinyoung menghampiri kedua kakaknya dengan napas terengah dan baju yang basah oleh keringat. Bibirnya yang tebal mengerucut kesal tidak terima bila ia selalu kalah dalam permainan.
"Bagaimana bisa Noona lari secepat itu? Aku tidak bisa mengejarmu," rutuknya kesal. Ia sedikit tak nyaman dengan kakinya yang penuh debu. Udara terasa begitu kering dan menerbangkan debu-debu. Lututnya pun sedikit lecet saat ia berusaha naik dari selokan kering tadi.
"Sudah, jangan banyak protes. Sebaiknya kau diam disini dan hitung hingga 10. Jika tidak, akan aku habiskan makanan manismu di kulkas. Mengerti?!"
"Jinyoung-ah, kau tidak apa-apa?" tanya kakak pertama. Ia yang selalu terlihat perhatian pada adik kecilnya itu saat melihat goresan merah di lutut Jinyoung. "Kita sudahi saja, sebentar lagi Ayah akan pulang."
Kakak kedua menyela pembicaraan, "Unnie, Jinyoung kan laki-laki, ia tidak boleh menyerah karena luka sedikit saja. Ia tidak boleh kalah. Ia tidak akan menyerah. Benar begitu?" tanyanya pada Jinyoung sembari meletakkan salah satu genggamannya pada pundak kecil pemuda itu. Meremasnya pelan sambil tersenyum. "Ayo main, satu kali lagi. Akan kuberikan kau semua makanan manisku jika kau berhasil menemukanku kali ini. Okay?"
Dan pada akhirnya, Jinyoung menyanggupi tantangan kakaknya. Dengan sedikit terpaksa tentunya.
Permainan pun kembali dimulai sesaat setelah Jinyoung menutup mata dan berseru, "SATU! DUA!"
Hingga pada hitungan ke delapan, suasana lapangan itu kembali senyap. Tak ada sayup-sayup telapak kaki yang bergesekan dengan sandal di tanah ataupun tawa samar yang timbul tenggelam. Ia membuka kembali matanya perlahan. Terik dari sinar matahari seolah langsung menusuk matanya.
Jinyoung berjalan mengelilingi lapangan. Mencari di balik semak, tumpukan pipa beton dan beberapa bangunan di sekitarnya yang bisa dijadikan tempat bersembunyi. Sesekali ia melihat ke arah titik kumpul, khawatir salah satu dari 2 kakaknya berlari menuju tempat itu sebelum ia sempat temukan. Ia tak mungkin kalah untuk yang kedua kalinya. Jinyoung terus mencari hingga 30 menit lamanya, ia mulai meyakini bahwa kedua kakaknya tidak bersembunyi di dalam area lapangan. Pasti mereka keluar dari tempat ini.
Kerongkongan Jinyoung terasa sangat kering. Air minum yang dibawanya juga telah habis, hanya tersisa satu potong biscuit di kantongnya. Tetapi ia tidak lapar.
"Ah sial!" Jinyoung menendang kerikil kecil di hadapannya.
BRUGH!
Ia terkesiap sesaat. Khawatir kerikilnya mengenai sesuatu dan menambah masalah baginya. Tetapi suara itu terlalu keras. Seperti barang yang terjatuh. Berdebam. Atau pintu yang ditutup dengan bantingan keras. Jinyoung mendongak. Manik matanya berkelana mencari asal suara. Ia merasa suara itu berasal dari bangunan yang dibatasi oleh pagar lapangan. Awalnya ia berpikir bisa saja salah satu kakaknya bersembunyi disana. Ia ragu untuk mencoba.
BRAKK!!
"BEDEBAH! Kau tidak pantas hidup! Aku tidak pernah menginginkanmu dalam hidupmu. Menyusahkan. Aku benci kau lahir!"
VOUS LISEZ
THE ENTROPY
Roman d'amourSejauh mana takdir mempermainkanmu? Park Jinyoung. Lelaki berusia 25 tahun itu tidak pernah mengira bahwa takdirnya akan rumit. Ia tidak pernah sekalipun membayangkan dibalik semua keadaan yang terlihat baik-baik saja-penghasilan yang cukup, pekerja...
