"Aku hanya ingin tinggal dan bersandar keluh,kesah dan lara ku dengan mu mamah" lirih Ratih dalam sunyinya malam.
🍂
Ratih Prameswari,ya ini nama yang tersemat dan tercetak jelas dengan tinta hitam di sebuah kertas yang bertuliskan Akte Kelahiran. Sebuah nama yang ia anggap bahwa orang tuanya lah yang memberikan.
Ratih memang tinggal dengan kedua orang tuanya,tetapi mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan yang seolah mengejar-ngejar mereka,dan Ratih selalu merasa sendiri,ini yang membuat ia lebih sering tinggal di rumah bibinya. Hingga terlintas dalam benaknya "aku ini sebenarnya anak mereka atau bukan?".
Tahun ini sudah tahun ke sepuluh Ratih hidup dengan rasa penasaran,rasa gelisah dan juga rasa menggebu yang ingin diteriakkan dengan keras. Sudah lelah ia bertanya pada bibi nya tentang siapa orang yang benar-benar mengandung dan melahirkan ia ke dunia ini.
Seolah semua yang terjadi di hidupnya hanya sekedar candaan,semua bagian dari hidupnya seolah menertawakan kenyataan pahit yang menyedihkan ini.
"Bi,sebenarnya apa yang membuat bibi ga mau jujur sama aku? Aku cape bi kayak gini,aku pengen kayak teman-teman aku yang lain,aku pengen dijemput sekolah sama mamah,aku pengen dipeluk sama mamah,aku pengen cerita semua hal sama mamah,aku pengen ketemu mamah bi" tanpa Ratih sadari butir-butir bening berhasil lolos dari mata redupnya.
"Maafkan bibi ya sayang,bibi bukan tidak ingin memberitahu,hanya saja bibi bingung dan bibi takut salah memberitahu semua nya pada mu sayang" jawab Sinta selaku bibi Ratih dengan perasaan bersalahnya.
"Aku hanya ingin mamah,bi,maamahh,aku kangen mamah,aku pengen ketemu mamah" pecah sudah tangis Ratih dengan tersedu-sedu seolah selama ini ia tidak pernah bertemu dengan mamah nya.
Ratih merasa Tuhan tidak mendengar semua doanya,Tuhan hanya ingin melihat dirinya menderita,hanya ingin ia merasakan pahitnya kehidupan dan jahatnya dunia.
Ratih hanya seorang gadis berusia 10 tahun,dimana diumur yang masih kecil ini ia membutuhkan kasih sayang,waktu dan dukungan dari kedua orang tuanya. Dan ia tidak mendapatkan itu walau hanya salah satunya.
🍂
"Ya Allah dimana aku harus mencari anakku?bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan perempuan yang tidak punya hati mengaku ngaku sebagai Ibu dari anakku? Ya Allah mengapa masih ada manusia seperti itu di dunia ini?" bersimpuh Manka dengan tangis menyertainya.
Manka tidak bisa berdiam diri dan meratapi nasibnya yang malang ini,ia harus berusaha dan segera menemukan anaknya,karena ia yakin di luar sana anaknya pasti membutuhkan dirinya,sangat.
Berbekal dengan apa yang ia punya,sebuah kalung nama bertuliskan 'RM' yang ia ingat pernah mengenakan benda itu dileher anaknya sewaktu bayi dan ia membeli dua dengan maksud sebagai tanda seorang ibu dan anak. Manka mulai melanjutkan bertanya kepada orang yang berlalu lalang di jalan,dan banyak respon yang ia dapatkan,seperti tatapan aneh,rasa iba dan ketidak pedulian.
"Ibu yang bener aja dong bu,sudah berapa tahun lamanya,mana mungkin anak ibu inget sama ibu"
"Ibu,sebaiknya ibu berhenti mencari anak ibu,anak ibu pasti tidak akan percaya sama ibu,walaupun ibu bertemu dengannya"
"Maaf bu,saya tidak pernah melihat anak yang menggunakan kalung seperti yang ibu perlihatkan,saya berharap semoga Allah mempertemukan kalian,aamiin"
YOU ARE READING
'RM'
Short StorySemoga cerita ini dapat sedikit membuat mu teringat pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu. Cerita ini diserap dari teks hikayat.
