Lintas perjalanan seorang laki-laki di negara tetangga. Tentang kalam-kalam keramaian di kota yang memaksa lelaki itu menentukan pilihannya. Serta dialog-dialog pendek antara mereka berdua.
06.30 WITA, Banjarbaru masih dikelabuti embun pagi. Lelaki berumur 25 tahun ini dibangunkan oleh alaram yang terpasang di satu-satu barang berharga yang dia punya. Iphone 6 kapasitas 16 GB yang di beli dari temannya dengan harga murah pada tahun lalu.
Hidup sebagai penulis dan sutradara dengan status pekerja lepas memang agak susah perihal keuangan, bekerja dengan kontrak yang selalu saja menguntungkan klien sudah biasa baginya, setiap kali minta invoice ke tiap kliennya, pasti selalu susah, begitulah, nasib seorang pekerja lepas yang masih belum punya banyak portofolio. Dan lagi, harga pekerja lepas disini tidak seperti di kota-kota besar di Indonesia, bisa di bilang tidak manusiawi lah ya.
Setelah dia mandi, lelaki itu menyiapkan beberapa barang untuk di masukan ke kopernya. "Tya, nanti anter abang ke bandara bentar lagi ya" - "Hmm iyaaa bang" jawab Tya yang masih mengantuk. Thailand, wah, ini benar-benar pengalaman baru pikirnya, bekerja lintas negara sebagai pekerja lepas, hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tulisan yang ia buat ternyata di sukai oleh prodoser-produser di Thailand, dan membuat dia harus terbang ke Thailand untuk melakukan pitching. "Pitch deck sudah, hardisk sudah, oh iya!, Budgeting masih belom kelar. Yaudah lah nanti di Jakarta saja, sambil menunggu penerbangan selanjutnya" pikirnya.
"Tyaaaa! Buruan, ntar abang ketinggalan pesawat!" - "Iya bang ini aku sudah pake baju kok, abang panasin motornya bang, biar cepet!" - "Iyee buru!" ujarku. Mereka berdua pun menuju bandara, cuaca nya masih belum sepanas pagi jam 10 pagi di Banjarbaru biasanya. Sesampai di depan pintu masuk bandara, tiba-tiba saja aku teringat masa-masa saat aku bekerja di salah satu Rumah Produksi di Jakarta dulu, sering bolak balik Jakarta-Malang- Banjarmasin, dimana hidupku dekat sekali dengan langit dan terbang. "Bang! udah nyampe bang! Turun buru, ntar ditinggal pesawat!" - "Iyee-Iyee, yaudah, abang berangkat dulu yak! Baik-baik ama mama!" - "Iya bang!". Aku pun menyeret koper kecil ku di aspal yang masih kasar Bandara Syamsuddinoor Banjarbaru, pikirku; "Akhirnya, gue bisa nyium aroma langit dan menikmati turbulensi lagi"
Sesampainya aku sampai di depan loket check in, maklum bukan bandara internasional jadi ga ada check in onlinenya. "Ini ya mbak!" sambil menunjukan e-ticket ku yang ada di layar ponsel ku dan paspor, bukan apa-apa kenapa paspor, KTP saya masih segede gaban, belom keluar yang cetaknya, gapaham juga kenapa?. "Baik mas, ditunggu ya!" Setelah menunggu beberapa menit, "Mas, ini ya ticketnya, dan disitu ada kupon sky priority nya mas, sky priority lounge nya ada disebelah sana ya mas! - "Hah? sky priority mbak?" sambil terheran-heran. - "Iya mas, mas lupa ya bookingnya yang business class?" - "Ahahaha, iya mbak" saut ku malu. "Baik mbak, terimakasih ya!" - "Sama-sama mas!".
Sambil terheran-heran aku berjalan menuju sky priority lounge. Maklum, ga tau kalo di bookingin yang business class, semua tiket pesawat emang sudah di bookingin oleh pihak Rumah Produksi yang bersangkutan. "Anjirlah!" aku mengumpat dan tersenyum. Setelah sarapan dan menyeruput kopi pagi yang ada di sky priority lounge, aku pun duduk di smoking room sambil menunggu panggilan penerbangan ku. "Wah ternyata begini ya sky priority" pikirku. Banyak mata yang memandangiku, entah apa alasan mereka, mungkin karena pakaian ku terlihat biasa sekali, ga cocok untuk ukuran orang-orang yang biasanya naik pesawat menggunakan business class. Teng, neng, nong, neng, bunyi bell panggilan penerbangan dengan nomer penerbangan di tiket ku sudah terdengar, aku pun bergegas lari ke ruang tunggu untuk menaiki pesawatku. Fyi, kalau kita naik business class di bandara Banjarbaru, naik ke pesawatnya pake mobil khusus, tapi bagi pengguna Garuda Indonesia ya. Sesampainya di pesawat, tidak jauh dari pintu masuk bagian depan aku menemukan kursiku, aku meletakan koperku di kabin atas dan "Wah!! Mimpi apa gue bisa duduk disini!!" Setelah menunggu beberapa menit, pesawat pun sudah bersiap untuk take off. Turbulensi sudah mulai terasa, awan-awan sudah ada di depan mataku, setelah merekam beberapa video dan mengambil beberaoa foto, aku pun tidur karna memang kurang tidur tadi malam.
Oh iya! Ini salah satu foto yang aku ambil pas masih mengudara;
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sesampainya di bandara Soekarno Hatta Terminal 3, akupun langsung menuju keluar bandara, biasa nyebat dulu sebelum masuk dan menunggu penerbangan ku selanjutnya. Seperti biasa suasana kesibukan bandara di jakarta memang terasa lebih intense dari pada yang bandara yang lain. Bergegas berlari, berjalan malas-malasan, duduk dan tertidur, membuat bandara jadi tempat yang benar-benar punya banyak irama. Anehnya, bandara akan tetap menjadi bandara, tanpa mengeluhkan betapa ributnya orang-orang yang ada di dalamnya tanpa berganti peran. "Sudah wajar, seperti biasanya dijakarta!" ujarnya bandara kepadaku.
Setelah menyelesaikan proses check in dan imigrasi, aku duduk diruang tunggu di dekat gate penerbangan ku, membuka google docs, dan mengedit budgeting yang masih belum selesai. Tiba-tiba "Mas Devan ya?" seorang laki-laki berkacamata menyapaku.