prolog

4 1 0
                                        


💭

Hari itu ialah hari graduation Angkatan XVII SMP Kartika. Semua siswa terlihat senang, ada yang menangis terharu, ada yang tertawa-tawa, dan masih banyak lagi ekspresi siswa-siswi yang baru saja lulus SMP itu. Acara sudah berakhir dan tibalah sesi foto bersama keluarga, teman, dan juga guru.

Deanna terlihat asik berfoto. Ia tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya. Entah apa yang lucu, Deanna hanya ingin bahagia saja hari ini.

Berbeda dengan salah satu siswa di pojokan itu, yang terlihat cemas sekaligus gugup, mengamati gerak-gerik Deanna.

"Kenapa, bro! Dari tadi lo gak ada ketawa-ketawanya," ucap Kennard.

Willie tidak menanggapi perkataan Kennard dan tetap menatap Deanna yang terlihat sedang berfoto bersama keluarganya.

"Liatin apaan sih lo? OOHH! Udahlah, gak usah takut gimana-gimana, inget loh, hari ini hari terakhir lo bisa liat muka dia," ceramah Kennard.

"H-hah? Yaudah deh. Duluan ya bro," pamit Willie.

Willie perlahan-lahan berjalan menuju tempat di mana Deanna berada. Ia mencari kesempatan yang tepat agar tidak mengganggu kesenangannya.

"Dea? Ikut gue yuk," ucap Willie.

"A-apa?" Deanna yang baru saja selesai mengobrol dengan seorang tante-tante terlihat terkejut dan bingung.

"Cieee, mau ngapain nih, Wil?" seru teman-teman Deanna yang berada di sampingnya, menggoda sambil menaik-turunkan alis dan mendorong-dorongnya.

Willie menarik tangan Deanna, atau yang lebih akrab dipanggil Dea, menuju taman belakang sekolah yang sepi dan jarang dikunjungi siswa.

"Aduuhh, Willie!! Kenapa sih buru-buru banget narik gue ke sini?" ucap Dea sambil memegang dadanya, mengontrol pernapasannya.

"Ada sesuatu yang ingin gue kasih tau ke lo," ucap Willie.

"Buruan dong, gue masih mau foto-foto sama temen-temen gue yang lain," sahut Dea.

Willie tiba-tiba berlutut dengan satu kakinya dan mengeluarkan satu tangkai bunga mawar dari dalam jas hitamnya.

"Dea, honestly, I don't know how to say this, but, I've been watching you since long ago, and I think I... like you. So, will you be my girlfriend?"

"..."

Dea membulatkan matanya terkejut bukan main. Suara berat Willie dan logat bulenya yang keluar, membuat bulu kuduk Dea berdiri. Ia tidak mengekspektasi Willie akan menembaknya saat itu juga. Dea tidak bisa berpikir jelas dan bingung ingin menjawab apa.

"Kalau lo belum yakin dengan perasaan lo, lo boleh kasih jawabannya nanti—

"Maaf, gue belum siap."

Dea yang terburu-buru pun langsung memotong perkataan Willie dan berlari meninggalkannya.

Dea tidak tahu, kalimat yang ia lontarkan tanpa berpikir panjang itu, membawa bencana bagi dirinya sendiri nanti.

💭

jangan lupa
vote&comment!

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Jan 19, 2020 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

RegretHistórias para pegar e não largar. Descubra agora