Kimetsu no Yaiba belongs to Koyoharu Gotouge. I do not take any material's benefits from creating this fanfiction, just for fun.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Tanjirou hancur.
Dirinya hancur. Hancur sehancur-hancurnya.
Ia jatuh terduduk, pandangan mata kosong dan keringat dingin bercucuran dari dahi. Pedangnya patah. Di hadapannya tergeletak mayat-mayat manusia yang sudah tak berbentuk lagi. Mayat-mayat dari para pemburu iblis, mayat-mayat dari rekan-rekan seperjuangannya yang dibunuh oleh Muzan, sesaat sebelum ia dan Giyuu berhasil sampai ke tempat iblis itu berada. Mayat-mayat yang membuat darah Tanjirou semakin mendidih dan nafsu membunuhnya tak bisa lagi dikendalikan.
Muzan berhasil dikalahkan.
Kabar yang telah lama didamba oleh setiap pemburu iblis. Tanjirou berhasil membunuhnya, meski penuh dengan darah dan keringat. Serta air mata.
Tanjirou tak pernah memprediksi jika Muzan akan mengubah Giyuu menjadi iblis. Kiriya pun sama. Muzan sangat cerdik dalam memporak-porandakan strategi yang telah disusun dan Kiriya tak punya pilihan selain memerintahkan Tanjirou untuk menebas kepala Giyuu yang berlaku di luar kendali. Perintah Oyakata-sama adalah mutlak.
Kemenangan diraih oleh pihak Pemburu Iblis, yang telah bertahun-tahun mencari keberadaan Kibutsuji Muzan dan berusaha membunuhnya dengan segala cara. Bahkan hingga Oyakata-sama sebelumnya, Ubuyashiki Kagaya, mengorbankan diri serta keluarganya. Namun bagi Tanjirou, kemenangan yang diraih seolah tak memiliki arti. Memang dirinya lah yang membuat Muzan terpojok dan menebas setiap inci dari bagian tubuhnya. Tanjirou dipuji sebagai pemburu iblis terhebat, bahkan digadang-gadang akan diangkat menjadi Pillar berikutnya.
Ia memang menang, tapi ia tak bahagia.
Tanjirou tak pernah merasa bahagia akan kemenangan yang diraihnya. Kemenangan di mana ia harus mati-matian menahan rasa sakit di dada ketika menebas leher Giyuu, sosok Pillar yang sangat ia hormati, sekaligus sebagai sosok yang menjadi tambatan hati, Mitsuri dan Obanai harus meregang nyawa ketika menghadapi iblis Uppermoon 4 hanya agar Tanjirou bisa fokus membunuh Muzan tanpa ada halangan, Tengen dan mantan Pillar Api, ayah dari Rengoku Kyojurou, terluka parah sebab ikut turun tangan dalam pertempuran.
Tanjirou tak bisa menahan tangis saat burung gagak yang tersisa terbang ke arahnya membawa kabar jika Pillar Cinta dan Pillar Ular gugur dalam medan pertempuran, meski iblis yang mereka lawan berhasil dibunuh sesaat sebelum mereka meregang nyawa. Dunia Tanjirou terasa runtuh saat itu juga. Setelah Kyojurou yang gugur karena melindunginya di Kereta Tanpa Batas, kemudian Kocho, Tokitou dan Genya, sekarang Tanjirou harus kembali merasakan kehilangan. Terlalu banyak mereka yang harus mati demi kemenangan ini.